Yehuda: Menghakimi Adalah Kesombongan

Menghakimi Adalah Ciri Dari Kesombongan

Mat 7:1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

Dalam salah satu pengajaran Yesus di bukit, Ia memberikan sebuah nasihat yang sangat penting bagi para pendengarnya. Yaitu supaya tidak saling menghakimi. Menghakimi adalah salah satu ciri dari kesombongan. Orang yang suka menghakimi, sesungguhnya adalah orang yang sombong. Mengapa? Karena ketika menghakimi, sesungguhnya kita sedang merendahkan orang lain dan sambil menyatakan bahwa kita adalah orang yang paling benar dan orang lain salah. Itulah mengapa kelanjutan dari pengajaran Yesus, Ia mengatakan sebuah kalimat luar biasa:

 Mat 7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Menghakimi orang lain pada akhirnya tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Yehuda menghakimi Tamar, ketika ia mengatakan untuk membawa Tamar dan membakar Tamar ketika ia mendengar kabar bahwa Tamar hamil, ia menghakimi Tamar. Ia melihat selumbar di mata Tamar sedangkan balok di matanya sendiri tidak ia lihat. Karena akar dari kejadian Tamar melahirkan sesungguhnya adalah kesalahan Yehuda. Yehuda sedang ingin menunjukkan kepada Tamar bahwa Tamar bersalah dan ia adalah yang benar. Saya membayangkan ketika anak kedua Yehuda meninggal dan Yehuda begitu ragu untuk memberikan anak ketiganya kepada Tamar. Mungkin dalam hari-harinya, sambil terus menunda memberikan Syela kepada Tamar, mungkin Yehuda berpikir bagaimana agar pada akhirnya Syela tidak diberikan kepada Tamar, mungkin Yehuda menunggu kesempatan sampai terjadi sebuah peristiwa sehingga ia tidak perlu memberikan Syela kepada Tamar, dan akhirnya kesempatan itu datang, ketika kabar mengenai Tamar sedang hamil sampai kepada Yehuda, dengan segera Yehuda memutuskan untuk membakar Tamar. Akhirnya Yehuda mendapatkan kesempatan untuk mempersalahkan Tamar dan membunuh Tamar sehingga ia tidak perlu menyerahkan Syela kepada Tamar, mungkin di saat itu hatinya akhirnya bisa lega karena ia tidak perlu lagi memberikan Syela kepada Tamar karena sebentar lagi Tamar akan dibakar. Sungguh, seorang laki-laki yang egois dan mengejar keuntungan pribadi.

Ini membawa kita kepada sebuah perenungan pribadi, apakah kita masih sering menghakimi orang lain? Menghakimi itu berbeda dengan menegur. Menegur itu sangat diperlukan di dalam jemaat, di dalam sebuah hubungan yang sehat, tetapi tidak dengan menghakimi. Di muka, keduanya terlihat sama, tetapi ada perbedaan di dalam hati. Seseorang yang menegur, di dalam hatinya dipenuhi dengan kasih akan orang yang ditegur. Orang ini memiliki kerinduan yang besar supaya yang ditegur bisa bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Tapi seseorang yang menghakimi, di dalam hatinya penuh dengan kesombongan, ingin menunjukkan kepada orang yang dihakimi bahwa ia salah ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih superior daripada orang yang dihakimi. Itulah yang dilakukan oleh para ahli taurat dan orang farisi, mereka tidak menegur, mereka menghakimi. Oleh karena itu, Yesus memperingatkan mereka dengan tegas supaya mereka tidak lagi menghakimi. Dunia dipenuhi dengan orang-orang yang suka menghakimi, coba saja post satu foto orang yang pernah menjadi bandar narkoba, maka dengan segera, ratusan, ribuan komen yang penuh dengan penghakiman akan kalian baca dengan segera. “Bunuh saja orang itu.” “Hukum mati saja.” “Ia tidak layak hidup.” dan sebagainya. Itu adalah konsumsi sehari-hari dari para pengguna media sosial dan percaya atau tidak itulah yang membentuk generasi masa kini menjadi generasi yang egois dan saling menghakimi satu sama lain, merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar.

tips-mendidik-anak-yang-nakal
Gambar 1. Menghakimi Orang Lain

 

Menghakimi orang lain bersumber dari kesombongan dan berakhir kepada kesombongan. Pada akhirnya hal ini akan membentuk sebuah aliran pengakuan diri. Ilustrasi di samping menggambarkan kondisi sesungguhnya dari anak-anak muda di zaman sekarang. Ketika pengakuan diri pada akhirnya memberikan kepuasan tersendiri kepada kita. Tidak ada yang salah dengan tombol like, tetapi ketika itu yang digunakan untuk mengukur diri kita, itu menjadi hal yang salah. Ketika itu menjadi konsumsi kepuasan pribadi kita, maka itu menjadi hal yang salah. Menghakimi, merendahkan orang lain, merasa lebih superior dari orang lain, itulah akar dari dosa. Kesombongan selalu berakhir dengan kesombongan dan selalu berakhir dengan tragis. Tidak pernah ada cerita mengenai kesombongan yang berakhir dengan indah, semua kisah kesombongan pada akhirnya berakhir dengan tragis. Dan jika sampai sekarang anda masih suka menghakimi orang lain, anda perlu mengambil waktu sendiri untuk merenungkan dan menyelidiki hati anda, serta berbalik kepada Allah.

Kesombongan yang bersumber dari keberhasilan
John Alexander Dowie adalah seorang rasul kesembuhan, salah satu pelopor pelayanan kesembuhan, seseorang yang dipakai begitu luar biasa oleh Tuhan. Ribuan jemaat disembuhkan melalui pelayanannya, seorang yang sangat peka dengan suara Tuhan. Ada satu masa dimana John Alexander Dowie bertemu dengan Maria Woodworth-Etter, seorang pelayan kesembuhan, tetapi ketika mereka bertemu, mereka bukannya bekerjasama, tetapi yang ada adalah konflik dan pertentangan satu sama lain. Keduanya merasa bahwa metodenya yang paling tepat, keduanya tidak ingin disalahkan. Bahkan Dowie beberapa kali menyerang Etter pada saat berkhotbah. Pada akhir pelayanan kerasulannya, Dowie tidak melakukan tugas sebagai seorang rasul, melainkan dengan dasar popularitas dan koneksi yang ada, Dowie membangun sebuah kota dimana dia mengangkat dirinya sebagai pemimpin kota tersebut. Tidak ada lagi pelayanan kesembuhan, Dowie terlalu sibuk mengurus kotanya. Bahkan di akhir hidupnya, Dowie mengatakan klaim bahwa dirinya adalah Elia. Dowie bahkan menggunakan jubah yang menandakan bahwa dirinya adalah jendral utama dari kota yang ia dirikan. Pada akhirnya, kota yang didirikan Dowie mengalami kebangkrutan. Dowie melarikan diri dengan pindah ke kota lain, tetapi orang-orang mulai tidak mempercayai Dowie. Dowie pada akhirnya pulang ke rumah dan menghabiskan sisa hidupnya di rumah. Dalam salah satu kalimatnya, Dowie pada akhirnya mengetahui kesalahan yang telah ia perbuat. Dowie berkata,”Menjadi seorang rasul, pertanyaan utamanya bukanlah resiko yang tinggi, tetapi mengenai bagaimana menjadi cukup rendah (rendah hati). Saya tidak berpikir bahwa saya telah mencapai kedalamanan yang cukup untuk sebuah kerendahatian yang sejati, penghinaan yang sejati, dan penyangkalan diri yang sejati untuk sebuah jabatan tinggi dari seorang rasul.”2

dowie
Gambar 2. John Alexander Dowie

Sebuah pelajaran berharga tentang kesombongan yang pada akhirnya menghancurkan hidup dan pelayanan yang telah dibangun puluhan tahun. Tidak ada dosa lain yang lebih mengerikan selain dosa kesombongan. Serohani apapun orang itu, seluar biasa apapun pelayanannya, ketika dosa kesombongan masuk ke dalam hatinya, sesungguhnya itu adalah awal mula kehancuran. Selain Alexander Dowie, ada begitu banyak kisah hamba Tuhan, orang-orang sukses, bahkan tokoh-tokoh di dalam alkitab yang hidupnya mengalami kehancuran oleh karena dosa kesombongan yang masuk ke dalam hati mereka. Contoh sederhana dari kesombongan yang menghancurkan adalah kisah mengenai tenggelamnya kapal Titanic.

Titanic adalah perlambang dari kesombongan. Bahkan dalam sebuah wawancara, seorang awak kapal berkata “Bahkan Tuhan tidak akan mampu menenggelamkan kapal ini.” Pada saat kapal Titanic menabrak gunung es, timbul sentakan yang sempat menghentikan pesta di kapal itu. Sesaat kemudian, para penumpang melanjutkan pestanya. Tidak ada satupun yang menyangka bahwa kapal ini akan tenggelam. Titanic tidak memiliki jumlah sekoci yang cukup untuk semua penumpangnya. Bahkan para awak kapal titanic tidak pernah melakukan latihan penyelamatan penumpang. Dan pada akhirnya, semua kesombongan tersebut harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Kesombongan tidak akan pernah berakhir dengan kemenangan. Kesombongan hanya akan berakhir pada kehancuran hidup. Rick Joyner pernah menulis,”Kesombongan dan/atau rasa puas diri dapat mengarah kepada tragedi di dalam setiap usaha manusia.”3

Satu kisah terakhir yang akan diceritakan pada bagian ini adalah seorang tokoh alkitab luar biasa, yang hidup dekat dengan Allah. Seseorang yang berkenan di hati Allah. Tetapi jatuh ke dalam suatu kesalahan yang membuat kehancuran pada rakyatnya. Ya, kesombongan di dalam hati Daud, membuat rakyatnya harus mengalami kehancuran.

 1 Taw 21:2 Lalu berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada para pemuka rakyat: “Pergilah, hitunglah orang Israel dari Bersyeba sampai Dan, dan bawalah hasilnya kepadaku, supaya aku tahu jumlah mereka.”
1 Taw 21:3 Lalu berkatalah Yoab: “Kiranya TUHAN menambahi rakyat-Nya seratus kali lipat dari pada yang ada sekarang. Ya tuanku raja, bukankah mereka sekalian, hamba-hamba tuanku? Mengapa tuanku menuntut hal ini? Mengapa orang Israel harus menanggung kesalahan oleh karena hal itu?”
1 Taw 21:4 Namun titah raja itu terpaksa diikuti oleh Yoab, maka pergilah Yoab menjelajahi seluruh Israel, kemudian kembali ke Yerusalem.
1 Taw 21:7 Tetapi hal itu jahat di mata Allah, sebab itu dihajar-Nya orang Israel.
1 Taw 21:8 Lalu berkatalah Daud kepada Allah: “Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.”

Tidak ada yang salah dengan menghitung jumlah orang Israel. Tetapi ada sesuatu yang salah di dalam hati Daud. Itu adalah kesombongan hati. Daud ingin melihat seberapa megah kerajaannya. Ia ingin mengetahui seberapa hebat dirinya. Jawaban Yoab sangat tepat, tetapi Daud tidak puas atas jawaban tersebut dan ia tetap ingin memegahkan diri di atas keberhasilan pemerintahannya. Namun jelas sekali bahwa Tuhan menentang hal tersebut. Tuhan mendatangkan kerusakan sebagai akibat kesombongan yang dilakukan oleh Daud. Pada akhirnya kesombongan hati Daud harus dibayar dengan meninggalnya 70 ribu orang rakyatnya (1 Taw 21:14). Namun, pada akhirnya Daud bertobat dan Tuhan berkenan atas hidup Daud. Satu hal yang kita pelajari dari ketiga ilustrasi di atas adalah bahwa pada akhirnya kesombongan akan menghancurkan hidup kita.

Teladan Kerendahan Hati Yesus
Tuhan Yesus, datang dengan membawa jubah kerendahan hati. Dalam salah satu pengajaran-Nya, Ia meminta murid-murid-Nya, para pendengar-Nya untuk mengikuti teladan hidup-Nya dan belajar dari Dia. Apa yang diminta? Kelemah lembutan dan kerendahan hati (Mat 11:29). Itu adalah dua sifat utama dari Yesus yang Ia ingin agar semua pengikut-Nya belajar dari-Nya. Ia tidak mengatakan bahwa belajarlah pada-Ku karena aku ini disiplin atau pekerja keras atau rajin atau tekun atau sifat-sifat baik lainnya. Firman Tuhan mencatat bahwa yang Yesus ingin agar murid-murid-Nya belajar dari Dia adalah kelemah lembutan dan kerendahan hati, bukan yang lainnya. Sama seperti dosa kesombongan dimulai dari surga (Lucifer), maka kerendahan hati juga dimulai dari surga. Yaitu, ketika Tuhan Yesus mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba. Sepanjang pelayanan Yesus, Ia selalu mengajarkan murid-murid-Nya untuk rendah hati. Dan bukan hanya mengajar, Yesus memberikan teladan kepada murid-murid-Nya. Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:1-11), dan bentuk kerendahan hati yang terbesar adalah ketika di Taman Getsemani, Yesus tidak memaksakan kehendak-Nya kepada Bapa, Ia mengosongkan diri-Nya dan taat kepada perintah Bapa (Fil 2:5-8). Tidak ada contoh kerendahan hati yang lebih besar daripada yang telah dilakukan oleh Yesus. Andrew Murray mengatakan dengan sangat baik mengenai hal ini “Christ is the humility of God embodied in human nature; the Eternal Love humbling itself, clothing itself in the garb of meekness and gentleness, to win and serve and save us. As the love and condescension of God makes Him the benefactor and helper and servant of all, so Jesus of necessity was the Incarnate Humility..” 4

washing_feet
Gambar 3. Yesus Membasuh Kaki Murid-MuridNya

Tidak ada teladan yang lebih baik untuk belajar kerendahan hati selain Yesus. Dan tidak ada cara yang lebih baik untuk mencapai kerendahan hati selain terus memandang kepada Yesus. Sepanjang pelayanan Yesus, Ia tidak pernah menolak orang yang datang dengan tersungkur kepada-Nya. Ia mengasihi mereka yang datang dengan penuh kerendahan hati kepada Yesus. Sebaliknya, orang-orang Farisi dan ahli taurat yang datang kepada Yesus dengan mengenakan jubah kesombongan, tidak pernah mendapat bagian bersama-sama dengan Yesus. Jika hati kita dipenuhi dengan kesombongan, merasa mengetahui banyak hal, merasa hidup kita tidak membutuhkan Tuhan, merasa bahwa kita orang yang mampu menjalani hidup tanpa Tuhan, maka bersiaplah, karena ganjaran kesombongan akan segera datang ke hidup kita. Namun jika hati kita dipenuhi dengan kerendahan hati, begitu berserah dan percaya kepada Tuhan, maka karunia dari Tuhan pasti akan Dia curahkan melimpah dalam hidup kita.

Jadi, seperti itulah Yehuda. Seorang laki-laki yang dipenuhi dengan kesombongan, seorang laki-laki yang begitu egois. Seorang yang merasa dirinya adalah yang paling benar. Main hakim sendiri. Bahkan jika kita lihat perikop di atas, Yehuda bahkan meminta temannya untuk mengantarkan anak kambing. Mengapa bukan ia sendiri yang mengantar anak kambing? Mengapa temannya yang bahkan itu adalah teman dimana ia menumpang disana. Jika digambarkan, itu seperti kita menumpang di rumah seorang kawan, kemudian kita meminta kawan kita pergi kesini, kesana, untuk memenuhi kebutuhan kita. Ya, tidak diragukan lagi bahwa Yehuda adalah seseorang yang hatinya dipenuhi dengan kesombongan dan keegoisan. Namun, orang yang seperti ini pada akhirnya dipakai Tuhan secara luar biasa menjadi bapa leluhur dari Daud bahkan dari Tuhan kita, Yesus Kristus. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Yehuda? Apa yang ia alami? Cerita setelah ini akan memberikan gambaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan Yehuda.

Pembahasan mengenai kerendahan hati dan kesombongan akan saya tutup dengan satu ayat:

1 Pet 5:5b “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Sumber:
2. Robert Liardon. God’s General: Why They Succeeded and Why Some Fail. Page 63.
3. Rick Joyner. Kepemimpinan: Kekuatan dari Hidup yang Kreatif. Nafiri Gabriel: 2005. Hal 75.
4. Andrew Murray. Humility (Old Tappan, NJ: Fleming H. Revell, nd). Page 9.

Gambar 1. http://superwalikelas.besaba.com/wp-content/uploads/2014/04/Tips-Mendidik-Anak-Yang-Nakal.jpg
Gambar 2. http://www.zionhs.com/images/dowie.jpg
Gambar 3. https://sangsabda.files.wordpress.com/2014/04/washing_feet.jpg