Laki-laki Yang Sombong dan Egois

Dibesarkan dalam keluarga yang tidak baik, pada akhirnya Yehuda tumbuh menjadi seorang pria yang rusak. Biar bagaimanapun, keluarga adalah komunitas terkecil dan dimana kita berkomunitas, disitulah segala watak, karakter kita dibentuk. Yehuda memiliki karakter yang dibentuk oleh keluarganya. Saudara-saudaranya yang kasar, dan orang tua yang egois. Tidak ada karakter seperti Tuhan di dalam keluarga ini. Pada akhirnya, Yehuda tumbuh menjadi seorang laki-laki yang penuh dengan kesombongan dan keegoisan. Kehilangan figur seorang ayah, memiliki dampak yang begitu besar untuk hidup Yehuda. Yehuda semakin hari semakin liar dan tidak terkendali. Satu hal lain yang juga perlu kita ingat adalah bahwa Yehuda, menjadi saksi, melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga, dan sadar penuh serta tahu bahwa Yakub melarikan diri dari Laban. Seorang menantu yang pergi dari mertuanya, menunjukkan sebuah hubungan yang tidak baik satu dengan yang lain. Bahkan Yakub dan keluarganya tidak izin terlebih dahulu kepada Laban. Mungkin memori tersebut akan terekam di dalam pikiran Yehuda untuk selamanya, bagaimana mereka melarikan diri dari Laban. Di dalam perjalanan tersebut, Yehuda juga mengalami sebuah pengalaman yang buruk, yaitu ketika Yehuda mengetahui bahwa Esau ingin membunuh Yakub. Yehuda melihat bagaimana takutnya Yakub, dan bukan hanya Yehuda, tapi semua anak-anak Yakub melihat ketakutan yang ada dalam diri Yakub. Tentunya itu menanamkan sebuah pemikiran yang negatif, ketika seorang adik begitu takut terhadap kakaknya. Sepertinya kejadian ini berkontribusi cukup besar terhadap kisah Yusuf. Mungkin para anak-anak Yakub berpikir bahwa membunuh saudara sendiri adalah hal yang biasa, karena itulah yang mereka lihat, yang mereka pelajari ketika mereka mengetahui bahwa Esau ingin membunuh Yakub. Biar bagaimanapun, kita tidak bisa mengabaikan peristiwa ini, karena pasti peristiwa ini akan berkontribusi dalam karakter seorang Yehuda dan anak-anak Yakub lainnya.

Serangkaian peristiwa negatif terus terjadi atas hidup Yehuda, atas keluarga mereka. Ketakutan, kebencian, pembunuhan, perzinahan, semua terjadi begitu saja, hal-hal tersebut membentuk hidup seorang Yehuda. Yehuda menjadi seorang yang sombong dan egois.

Pada dasarnya, kesombongan adalah dosa yang pertama kali ada. Itu adalah dosa yang dilakukan oleh Lucifer. Lucifer mempunyai keinginan untuk menyamai Allah. Sebuah tulisan dari Yesaya menggambarkan kondisi yang terjadi ketika Lucifer atau iblis jatuh ke dalam dosa.

Yes 14:13 Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara.
Yes 14:14 Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!

Lucifer hendak menyamai Tuhan dan pada akhirnya Tuhan hukum dengan menjatuhkannya ke dalam dunia orang mati (Yes 14:12). Dosa kesombongan tidak dimulai di bumi, itu dimulai di surga. Dosa kesombongan tidak dimulai oleh manusia, itu dimulai oleh malaikat. Dan sejak saat itu, kesombongan selalu menjadi akar dari segala macam dosa. Derek Prince dalam sebuah artikel pengajarannya mengenai kesombongan menyimpulkan satu hal mengenai kesombongan. Derek Prince mengatakan bahwa natur dari dosa ialah keinginan untuk terpisah dari Tuhan. Hal itulah yang menjadi dasar dari Adam dan Hawa ketika mereka memutuskan untuk makan buah yang dilarang oleh Tuhan. Itulah keputusan pertama mereka, ketika mereka tidak melibatkan Tuhan di dalam mengambil keputusan tersebut dan pada akhirnya hal tersebut membawa Adam dan Hawa ke dalam dosa.

angkuh
Gambar 1. Ilustrasi Kesombongan

Sebenarnya, ketika fokus hidup kita ada pada diri sendiri, itulah dosa kesombongan. Ketika kita memandang diri sendiri, itulah kesombongan. Kerendahan hati adalah ketika mata kita tertuju kepada Tuhan dan bukan kepada diri sendiri. Yehuda adalah laki-laki yang dipenuhi dengan kesombongan. Didikan yang sangat buruk dari ayahnya membuat Yehuda menjadi seorang yang keras dan dipenuhi dengan kesombongan diri. Beberapa cerita dalam kitab kejadian mendukung pernyataan bahwa Yehuda adalah seorang yang sombong dan egois. Jika kesombongan adalah fokus terhadap diri sendiri, maka keegoisan adalah bentuk lain dari kesombongan. Ini adalah hal yang sama yang bersumber dari sumber yang sama.

Pertama, ketika Yusuf datang menemui saudara-saudaranya yang sedang menggembalakan kambing domba. Kita perlu mengerti bahwa sebelumnya, Yusuf sudah menceritakan mimpinya kepada Yakub dan saudara-saudaranya (Kej 37:1-11) dan Firman Tuhan mengatakan dengan jelas bahwa saudara-saudara Yusuf menjadi iri hati terhadap Yusuf. Semua saudara Yusuf, artinya Yehuda termasuk di dalamnya, orang yang juga menjadi iri hati terhadap Yusuf. Ketika Yusuf hendak dibunuh, Yehuda memberikan sebuah ide yang lebih baik dan akhirnya diterima oleh saudara-saudaranya. Yehuda mempunyai ide untuk menjual Yusuf. Sepertinya Yehuda adalah salah satu dari anak Yakub yang cukup dominan dan mampu memimpin saudara-saudaranya. Kejahatan yang dilakukan oleh Yehuda menandakan betapa iri hatinya ia dan betapa ia penuh dengan kebencian dan kesombongan. Pada akhirnya Yehuda hanya melihat kepada diri sendiri dan tidak melihat kepada Allah. Ia hanya menginginkan keuntungan pribadi, betapa egois hidup Yehuda.

Kedua, bisa kita lihat pada perikop antara Yehuda dan Tamar. Di dalam Kejadian 38, dijelaskan mengenai kisah antara Yehuda dan Tamar. Karena ini bukan kisah yang cukup familiar dan jarang dibahas di khotbah gereja, ada baiknya kita bahas satu per satu ayat di dalam kisah ini.

Kej 38:1 Pada waktu itu Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya dan menumpang pada seorang Adulam, yang namanya Hira.
Kej 38:2 Di situ Yehuda melihat anak perempuan seorang Kanaan; nama orang itu ialah Syua. Lalu Yehuda kawin dengan perempuan itu dan menghampirinya.

Setelah kejadian Yusuf, Yehuda pergi meninggalkan saudara-saudaranya. Tidak dijelaskan di dalam alkitab apa alasan Yehuda pergi. Yang dijelaskan hanyalah informasi, fakta bahwa Yehuda pergi meninggalkan saudara-saudaranya dan menumpang pada seorang Adulam. Perlu diperhatikan bahwa Yehuda hanya menumpang. Bayangkan seseorang yang menumpang di rumah anda. Ya, itulah kondisi dari Yehuda pada saat itu. Ia hanya tamu yang menumpang di rumah Hira. Singkat cerita, Yehuda bertemu dengan anak Syua. Syua itu bukan nama istri Yehuda. Syua adalah nama ayah dari istri Yehuda. Istri Yehuda sendiri tidak pernah disebutkan namanya. Ayat ini juga menjelaskan bagaimana buruknya Yakub di dalam mendidik Yehuda. Pesan terakhir Ishak dan Ribka kepada Yakub adalah supaya Yakub tidak mengambil seorang perempuan Kanaan. Tetapi tampaknya pesan penting tersebut tidak diteruskan oleh Yakub kepada anak-anaknya. Dan Yehuda dengan begitu mudahnya dan tanpa perasaan bersalah, mengambil istri seorang perempuan Kanaan. Yehuda dan perempuan Kanaan tersebut dikaruniai 3 orang anak yang diberi nama Er, Onan, dan Syela.

Seperti yang kita bahas pada bab sebelumnya, anak-anak Yehuda tumbuh menjadi anak-anak yang jahat di mata Tuhan karena Yehuda tidak mampu membimbing dan membapai anak-anaknya. Setelah Er dan Onan meninggal, seharusnya Yehuda memberikan Syela kepada Tamar. Tetapi Yehuda memiliki rencana jahat. Sekali lagi kita melihat pribadi yang berpusat pada diri sendiri, Yehuda menyimpan Syela dan meminta Tamar pulang, dan tidak menipu Tamar.

Kej 38:11 Lalu berkatalah Yehuda kepada Tamar, menantunya itu: “Tinggallah sebagai janda di rumah ayahmu, sampai anakku Syela itu besar,” sebab pikirnya: “Jangan-jangan ia mati seperti kedua kakaknya itu.” Maka pergilah Tamar dan tinggal di rumah ayahnya.
Kej 38:12 Setelah beberapa lama matilah anak Syua, isteri Yehuda. Habis berkabung pergilah Yehuda ke Timna, kepada orang-orang yang menggunting bulu domba-dombanya, bersama dengan Hira, sahabatnya, orang Adulam itu.
Kej 38:13 Ketika dikabarkan kepada Tamar: “Bapa mertuamu sedang di jalan ke Timna untuk menggunting bulu domba-dombanya,”
Kej 38:14 maka ditanggalkannyalah pakaian kejandaannya, ia bertelekung dan berselubung, lalu pergi duduk di pintu masuk ke Enaim yang di jalan ke Timna, karena dilihatnya, bahwa Syela telah menjadi besar, dan dia tidak diberikan juga kepada Syela itu untuk menjadi isterinya.

Yehuda telah melanggar janjinya untuk memberikan Syela kepada Tamar. Bahkan dosa penipu dari Yakub turun sampai ke Yehuda. Setelah istri Yehuda meninggal, Yehuda pergi ke Timna. Jarak dari tempat tinggal Yehuda ke Timna sekitar 6 mil, itu jarak yang cukup jauh. Yehuda pergi untuk melihat orang-orangnya menggunting bulu domba. Andrew Gill memberikan komentar bahwa melihat orang-orang menggunting bulu domba merupakan sebuah hiburan tersendiri. Jadi, sepertinya Yehuda mencari hiburan setelah ia berkabung karena istrinya meninggal dunia. Namun, Tamar mengetahui hal itu dan Tamar menyamar menjadi perempuan sundal. Tipuan dibalas dengan tipuan. Sama seperti dulu Yakub menipu Ishak, kemudian Yakub ditipu oleh Laban. Kutuk ini masih dibawa ketika Yehuda menipu Tamar dalam hal tidak memberikan Syela kepada Tamar, Tamar balik menipu Yehuda dengan menyamar menjadi perempuan Sundal.

Kej 38:15 Ketika Yehuda melihat dia, disangkanyalah dia seorang perempuan sundal, karena ia menutupi mukanya.
Kej 38:16 Lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan itu serta berkata: “Marilah, aku mau menghampiri engkau,” sebab ia tidak tahu, bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu: “Apakah yang akan kauberikan kepadaku, jika engkau menghampiri aku?”
Kej 38:17 Jawabnya: “Aku akan mengirimkan kepadamu seekor anak kambing dari kambing dombaku.” Kata perempuan itu: “Asal engkau memberikan tanggungannya, sampai engkau mengirimkannya kepadaku.”
Kej 38:18 Tanyanya: “Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?” Jawab perempuan itu: “Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di tanganmu itu.” Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya.

Saya membayangkan seseorang yang baru saja kehilangan istrinya dan pergi menghampiri seorang perempuan sundal. Sungguh sebuah fakta yang mengerikan. Terpikir untuk mencari hiburan dengan melihat domba-dombanya, di tengah jalan, ketika ada godaan, Yehuda langsung menanggapi godaan tersebut. Bahkan perempuan tersebut tidak berkata apa-apa. Perempuan tersebut hanya diam disana, dan Yehudalah yang berinisiatif menghampiri perempuan tersebut. Terlepas dari itu tipuan Tamar atau tidak, Yehuda telah menjadi seorang suami yang tidak setia. Memang istrinya telah meninggal, tapi mengejutkan di hari yang berduka tersebut, Yehuda pergi kepada seorang perempuan sundal. Ini adalah sebuah sifat yang sangat bertentangan dengan Yusuf! Ketika Yusuf berhasil lolos dari godaan tante Potifar, sebaliknya Yehuda jatuh ke dalam pencobaan. Bahkan begitu mengejutkan bahwa Yehuda tidak pernah tau bahwa perempuan sundal tersebut adalah Tamar. Entah Yehuda sedang mabuk atau mungkin Tamar terus menutup mukanya bahkan ketika sedang berhubungan dengan Yehuda, tidak diketahui pasti. Namun yang jelas, Yehuda tidak mengenali Tamar, bahkan sampai mereka selesai dan Tamar pulang.

rembrandts_school_tamar
Gambar 2. Yehuda dan Tamar

 

Dan sepertinya Tamar mengenal mertuanya dengan baik. Tamar mengenal bahwa Yehuda adalah orang yang penuh dengan hawa nafsu, seorang yang egois dan hanya memperdulikan diri sendiri, seorang yang sombong dan mencari keuntungan untuk diri sendiri. Oleh karena itulah Tamar menyiapkan jebakan yang pasti akan berhasil dan memang Tamar berhasil menjebak Yehuda.

Kej 38:19 Bangunlah perempuan itu, lalu pergi, ditanggalkannya telekungnya dan dikenakannya pula pakaian kejandaannya.
Kej 38:20 Adapun Yehuda, ia mengirimkan anak kambing itu dengan perantaraan sahabatnya, orang Adulam itu, untuk mengambil kembali tanggungannya dari tangan perempuan itu, tetapi perempuan itu tidak dijumpainya lagi.
Kej 38:21 Ia bertanya-tanya di tempat tinggal perempuan itu: “Di manakah perempuan jalang, yang duduk tadinya di pinggir jalan di Enaim itu?” Jawab mereka: “Tidak ada di sini perempuan jalang.”
Kej 38:22 Kembalilah ia kepada Yehuda dan berkata: “Tidak ada kujumpai dia; dan juga orang-orang di tempat itu berkata: Tidak ada perempuan jalang di sini.”
Kej 38:23 Lalu berkatalah Yehuda: “Biarlah barang-barang itu dipegangnya, supaya kita jangan menjadi buah olok-olok orang; sungguhlah anak kambing itu telah kukirimkan, tetapi engkau tidak menjumpai perempuan itu.”
Kej 38:24 Sesudah kira-kira tiga bulan dikabarkanlah kepada Yehuda: “Tamar, menantumu, bersundal, bahkan telah mengandung dari persundalannya itu.” Lalu kata Yehuda: “Bawalah perempuan itu, supaya dibakar.”

Kemudian, setelah itu, kita akan lihat satu bagian yang menunjukkan betapa sombong dan egoisnya Yehuda. Hal itu terlihat ketika Yehuda tanpa mengetahui sebab, langsung ingin main hakim sendiri terhadap Tamar. Yehuda menganggap dirinya adalah yang paling benar. Itulah kesombongan yang telah mendarah daging di dalam diri Yehuda. Tidak bisa disangkal bahwa di titik ini, Yehuda adalah seorang laki-laki yang dipenuhi dengan kesombongan. Menghakimi adalah senjata utama dari orang yang sombong. Dengan menghakimi orang lain, dia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling benar dan orang lain salah. Menghakimi adalah salah satu ciri utama dari kesombongan. Karena itulah, Yesus dengan tegas mengatakan supaya kita tidak main hakim sendiri karena penghakiman adalah hak Allah, bukan manusia. Kesombongan selalu membawa hidup ini kepada kehancuran. Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk menghancurkan hidup manusia bahkan menghancurkan gereja, menghancurkan pelayanan, selain melalui dosa kesombongan. Jonathan Edwards dalam sebuah khotbahnya pernah berkata:

The first and worst cause of errors that abound in our day and age is spiritual pride. This is the main door by which the devil comes into the hearts of those who are zealous for the advancement of Christ. It is the chief inlet of smoke from the bottomless pit to darken the mind and mislead the judgment. Pride is the main handle by which he has hold of Christian persons and the chief source of all the mischief that he introduces to clog and hinder a work of God. Spiritual pride is the main spring or at least the main support of all other errors. Until this disease is cured, medicines are applied in vain to heal all other diseases.1

Ketika kita sombong terhadap segala pencapaian yang telah kita raih selama pelayanan, sesungguhnya itulah awal dimana pelayanan kita akan hancur. Ada begitu banyak hamba Tuhan yang memiliki pelayanan luar biasa yang harus mengakhiri pelayanannya karena kesombongan yang merambat di hidupnya. Mereka adalah orang-orang tidak bertobat dari kesombongan dan pada akhirnya pelayanannya berakhir dengan tragis. Kita tidak bisa menolak prinsip Firman Tuhan yang berkata bahwa barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan oleh Tuhan. Pada akhirnya, hilir daripada hati yang dipenuhi kesombongan adalah kehidupan yang menjadikan diri sendiri sebagai Tuhan.

Kisah Yehuda sebelumnya bisa klik disini
Sumber:
1. Jonathan Edwards, The Works of Jonathan Edwards (Edinburgh: Banner of Truth, 1974), 1:398–404.

Gambar 1. http://3.bp.blogspot.com/–ZR0g94zk4M/U_uDp10tbzI/AAAAAAAAAR0/xvKj8loyGKU/s1600/angkuh.jpg
Gambar 2. https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/48/Rembrandt’s_school_Tamar.JPG

Pemuda Yang Mencari Keuntungan

Hanya Mengejar Uang Adalah Kesia-siaan

Perjalanan hidup Yehuda bukanlah sebuah perjalanan hidup yang mudah. Tidak ada yang bisa dipersalahkan atas hidup Yehuda. Tidak dengan dirinya sendiri, tidak dengan orang tuanya. Dosa adalah penyebab utama dari segala kehancuran yang dialami oleh manusia. Salah satu bagian dari hidup Yehuda menandakan bahwa dirinya adalah seorang pemuda yang suka mencari keuntungan. Continue reading “Pemuda Yang Mencari Keuntungan”

Dibesarkan Oleh Ayah Yang Tidak Peduli

Yakub, ayah dari Yehuda adalah seorang yang sangat egois. Berbeda dengan Abraham, Yakub memiliki watak yang sangat buruk. Semua watak Yakub bermula di rumah Ishak dan Ribka. Yakub adalah anak kesayangan Ribka, sementara Ishak lebih menyayangi Esau. Yakub kecil tumbuh menjadi seorang pribadi yang manja. Beberapa kisah Yakub menjelaskan secara jelas bagaimana watak dari Yakub. Pertama, Yakub ketika mendapatkan Lea, tidak menjadi puas dan terus menerus mengejar Rahel tanpa pernah memikirkan perasaan Lea. Kita melihat seorang laki-laki yang egois dan hanya peduli dirinya sendiri, tidak peka terhadap orang lain. Cerita lainnya, yaitu ketika Rahel meminta anak dari Yakub, Yakub lebih memilih untuk marah (Kej 30:2) dan bukannya berbicara baik-baik dengan Rahel. Dibesarkan sebagai anak yang kekurangan figure seorang ayah, Yakub pada akhirnya tidak dapat menjadi ayah yang baik. Yakub tidak mengerti bagaimana menjadi ayah yang baik dan Yakub berpikir bahwa ayah yang baik adalah ayah yang pilih kasih, sama sepert Ishak, ayahnya yang pilih kasih dan lebih menyayangi Esau daripada Yakub. Pada akhirnya ketika kita menjadi seorang ayah nantinya, janganlah menjadi ayah yang pilih kasih, karena ketika ada pilih kasih, ketika lebih mengasihi satu anak daripada anak lainnya, sebenarnya keluarga sedang berada di dalam bencana.

Continue reading “Dibesarkan Oleh Ayah Yang Tidak Peduli”

Dilahirkan Dari Keluarga Yang Tidak Harmonis

Pertama kali mendengar kata Yehuda, apa yang terlintas di pikiran anda? Salah satu suku di Israel? Salah satu nenek moyang dari Tuhan Yesus? Ya, anda benar. Itulah Yehuda. Saya akan bercerita sedikit mengenai siapa itu Yehuda. Lahir sebagai anak ke-4 dari sepasang suami istri, Yakub dan Lea, Yehuda lahir dari seorang ayah yang memiliki 2 istri. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa Yakub lebih mengasihi Rahel daripada Lea (Kej 29:30). Mungkin Lea hamil bukan buah dari cinta Yakub kepada Lea. Tapi Tuhan membela Lea, Tuhan membuka kandungan Lea. Jelas, Tuhan tidak pernah salah, Ia memiliki rencana yang indah bagi keluarga ini. Anak pertama Lea diberi nama Ruben, firman Tuhan mengatakan bahwa ketika memberi nama kepada anak ini, Lea berkata, “Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku.” (Kej 29:32). Jelas sekali seruan hati dari Lea, seseorang yang dilupakan oleh Yakub. Lea bahkan berkata bahwa ia mengalami kesengsaraan. Saya dapat membayangkan mungkin Lea melihat Yakub bermesraan dengan Rahel, Lea begitu iri, hatinya begitu sakit karena tidak mendapat cinta dari Yakub, mungkin Lea hanya disuruh-suruh saja oleh Yakub dan Rahel, dan sebagainya. Saya pernah melihat film di TV tentang seorang yang berpoligami dan memiliki istri muda dan akhirnya istri tuanya hanya jadi seperti pembantu saja. Mungkin ini gambaran yang tepat yang menggambarkan kondisi Lea di keluarga Yakub. Bahkan dalam Kej 29:31, kata “tidak dicintai”, dalam bahasa aslinya ditulis śânê’ yang artinya hated. Bukan hanya tidak dicintai, tetapi bahkan dibenci. Sungguh mengerikan hari-hari Lea ketika dia harus mencintai laki-laki yang bahkan tidak mengasihi dia sedikitpun. Mungkin anak-anak ini adalah anak-anak yang lahir hanya karena nafsu birahi dari Yakub, bukan karena hubungan cinta Yakub kepada Lea.

Continue reading “Dilahirkan Dari Keluarga Yang Tidak Harmonis”

A Tale of A Biker

Malam ini PD selesai lebih lama dari biasanya, lantas saya rasanya ingin cepat bisa sampai di rumah dan beristirahat. Perjalanan pulang dari tempat PD ke rumah sepertinya tidak menjadi perjalanan yang biasa. Awalnya semua begitu lancar tapi semua berubah ketika negara air (hujan) menyerang dan bukan hanya negara air, tetapi juga negara angin (badai) menyerang ibukota. Saya mengenakan peralatan tempur (jas hujan 15 ribuan), menutup helm, dan berkendara dengan perlahan. Perjalanan dari Pasar Minggu sampai Dewi Sartika, ditemani hujan begitu besar. Suatu ketika di tengah hujan, ada sesuatu yang “menganggu” hati saya dan mengatakan “perjalanan kehidupan secara sederhana dapat dilihat dari perjalanan pulangmu.” Saya tergelitik tapi di tengah badai saya mulai merenung. Mulai masuk ke Jalan Dewi Sartika hujan sedikit reda. Tapi kemudian menjadi deras kembali di bawah perempatan, jalan sedikit kemudian hujan deras lagi, kemudian saya bertemu dengan seorang yang tergeletak di trotoar, di tengah hujan, dia menabrak taxi. Akhirnya saya berhenti, bersama dengan 2 pengendara lainnya, mencoba untuk menolong orang ini. Tidak lama kemudian saya jalan lagi, kemudian hujan berhenti, kemudian mulai memasuki Jatinegara hujan kembali deras, saya rasa yang pengendara motor pasti mengerti betapa tersiksanya mengendarai motor di tengah hujan, titik-titik hujan terasa seperti akupuntur gratis. Lampu motor yang redup dan terbatas, pandangan yang juga sangat terbatas, saya berkendara dengan perlahan tapi pasti. Bahkan sempat di tengah perjalanan motor saya mati saat berhenti di lampu merah. Kurang beruntung, matinya tepat ketika lampu merah berganti jadi lampu hijau. Karena starter tangan motor saya rusak, akhirnya harus dengan starter kaki. Oke, lanjut dari hujan di Jatinegara, kemudian hujan berhenti ketika di sekitaran Buaran dan seterusnya, saya bisa sampai di rumah dengan selamat.

Continue reading “A Tale of A Biker”

Adoniram Judson

“Pergi ke Myanmar pada usia 24 tahun, melayani disana selama 38 tahun dan hanya satu kali pulang kampung. Judson menjadi benih yang jatuh ke tanah dan mati. Saat ini, ada sekitar 3700 jemaat dengan 617.781 anggota dan 1.9 juta afiliasi. Buah dari sebuah benih yang mati.”

9 Agustus 1788 menjadi salah satu hari bersejarah bagi negara Burma (Myanmar). Hari itu, seorang bayi yang akan membawa injil sampai ke Burma dilahirkan. Adoniram Judson, Sr. dan Abigail dianugerahi seorang anak laki-laki yang kemudian mereka beri nama Adoniram Judson Jr. Tidak ada yang berpikir bahwa anak ini akan menjadi misionaris pertama yang pergi ke negara penyembah berhala. Masa muda Judson begitu luar biasa, ayahnya seorang yang pendeta, mendidik Judson dalam jalan-jalan Allah, bahkan memasukkan Judson muda ke sebuah universitas Brown, yang mengajarkan nilai-nilai Firman Tuhan. Judson muda adalah seorang yang begitu pintar dan berbakat. Semua berjalan dengan baik sampai ia bertemu dengan seorang teman bernama Jacob Eames, yang akhirnya membawa Judson menjadi pribadi yang tidak lagi percaya kepada Kristus. Judson kemudian pergi ke New York untuk mencari pekerjaan. Namun, ia hanya beberapa minggu disana. Di dalam perjalanan kembali dari New York, Judson menginap di sebuah penginapan. Namun, malam itu begitu tidak tenang, ada seseorang di kamar sebelahnya yang sedang sakit keras dan sekarat. Pikirannya begitu terganggu malam itu, sulit bagi Judson untuk tidur, ia terbayang akan kematian yang bisa saja terjadi padanya dan ia belum siap akan hal tersebut. Keesokan harinya, Judson bertanya kepada pemilik penginapan mengenai kondisi anak muda yang sekarat kepada pemilik penginapan. “Ia telah meninggal dunia.” “Apakah anda tahu siapakah dia itu?” “Oh iya. Ia adalah anak muda dari Brown University, namanya adalah Eames, Jacob Eames.” Ya, itu adalah nama teman yang membawa Judson untuk tidak percaya Tuhan. Pikiran Judson begitu kacau hari itu. Ia memikirkan semua teori yang disampaikan temannya. Di satu sisi, ia juga memikirkan Allah ayahnya hingga ia sampai pada satu pikiran bahwa tidaklah kebetulan Eames meninggal di sebelah kamarnya, itu tidak mungkin kebetulan. Ia segera berkuda untuk pulang kembali ke rumahnya. Ia masuk ke Andover Theological Seminary bulan Oktober, sebagai mahasiswa khusus, bukan calon hamba Tuhan karena saat itu, ia belum bertobat. Namun, pembelajarannya pada alkitab akhirnya membawa Judson kepada pertobatan yang sejati. Ia menjadi manusia yang baru, berhenti dari semua mimpi masa mudanya dan pergi melayani Tuhan sebagai misionaris. Continue reading “Adoniram Judson”