David Brainerd

Advertisements

Dilahirkan Dari Keluarga Yang Tidak Harmonis

Pertama kali mendengar kata Yehuda, apa yang terlintas di pikiran anda? Salah satu suku di Israel? Salah satu nenek moyang dari Tuhan Yesus? Ya, anda benar. Itulah Yehuda. Saya akan bercerita sedikit mengenai siapa itu Yehuda. Lahir sebagai anak ke-4 dari sepasang suami istri, Yakub dan Lea, Yehuda lahir dari seorang ayah yang memiliki 2 istri. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa Yakub lebih mengasihi Rahel daripada Lea (Kej 29:30). Mungkin Lea hamil bukan buah dari cinta Yakub kepada Lea. Tapi Tuhan membela Lea, Tuhan membuka kandungan Lea. Jelas, Tuhan tidak pernah salah, Ia memiliki rencana yang indah bagi keluarga ini. Anak pertama Lea diberi nama Ruben, firman Tuhan mengatakan bahwa ketika memberi nama kepada anak ini, Lea berkata, “Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku.” (Kej 29:32). Jelas sekali seruan hati dari Lea, seseorang yang dilupakan oleh Yakub. Lea bahkan berkata bahwa ia mengalami kesengsaraan. Saya dapat membayangkan mungkin Lea melihat Yakub bermesraan dengan Rahel, Lea begitu iri, hatinya begitu sakit karena tidak mendapat cinta dari Yakub, mungkin Lea hanya disuruh-suruh saja oleh Yakub dan Rahel, dan sebagainya. Saya pernah melihat film di TV tentang seorang yang berpoligami dan memiliki istri muda dan akhirnya istri tuanya hanya jadi seperti pembantu saja. Mungkin ini gambaran yang tepat yang menggambarkan kondisi Lea di keluarga Yakub. Bahkan dalam Kej 29:31, kata “tidak dicintai”, dalam bahasa aslinya ditulis śânê’ yang artinya hated. Bukan hanya tidak dicintai, tetapi bahkan dibenci. Sungguh mengerikan hari-hari Lea ketika dia harus mencintai laki-laki yang bahkan tidak mengasihi dia sedikitpun. Mungkin anak-anak ini adalah anak-anak yang lahir hanya karena nafsu birahi dari Yakub, bukan karena hubungan cinta Yakub kepada Lea.

Continue reading “Dilahirkan Dari Keluarga Yang Tidak Harmonis”

A Tale of A Biker

Malam ini PD selesai lebih lama dari biasanya, lantas saya rasanya ingin cepat bisa sampai di rumah dan beristirahat. Perjalanan pulang dari tempat PD ke rumah sepertinya tidak menjadi perjalanan yang biasa. Awalnya semua begitu lancar tapi semua berubah ketika negara air (hujan) menyerang dan bukan hanya negara air, tetapi juga negara angin (badai) menyerang ibukota. Saya mengenakan peralatan tempur (jas hujan 15 ribuan), menutup helm, dan berkendara dengan perlahan. Perjalanan dari Pasar Minggu sampai Dewi Sartika, ditemani hujan begitu besar. Suatu ketika di tengah hujan, ada sesuatu yang “menganggu” hati saya dan mengatakan “perjalanan kehidupan secara sederhana dapat dilihat dari perjalanan pulangmu.” Saya tergelitik tapi di tengah badai saya mulai merenung. Mulai masuk ke Jalan Dewi Sartika hujan sedikit reda. Tapi kemudian menjadi deras kembali di bawah perempatan, jalan sedikit kemudian hujan deras lagi, kemudian saya bertemu dengan seorang yang tergeletak di trotoar, di tengah hujan, dia menabrak taxi. Akhirnya saya berhenti, bersama dengan 2 pengendara lainnya, mencoba untuk menolong orang ini. Tidak lama kemudian saya jalan lagi, kemudian hujan berhenti, kemudian mulai memasuki Jatinegara hujan kembali deras, saya rasa yang pengendara motor pasti mengerti betapa tersiksanya mengendarai motor di tengah hujan, titik-titik hujan terasa seperti akupuntur gratis. Lampu motor yang redup dan terbatas, pandangan yang juga sangat terbatas, saya berkendara dengan perlahan tapi pasti. Bahkan sempat di tengah perjalanan motor saya mati saat berhenti di lampu merah. Kurang beruntung, matinya tepat ketika lampu merah berganti jadi lampu hijau. Karena starter tangan motor saya rusak, akhirnya harus dengan starter kaki. Oke, lanjut dari hujan di Jatinegara, kemudian hujan berhenti ketika di sekitaran Buaran dan seterusnya, saya bisa sampai di rumah dengan selamat.

Continue reading “A Tale of A Biker”

Adoniram Judson

“Pergi ke Myanmar pada usia 24 tahun, melayani disana selama 38 tahun dan hanya satu kali pulang kampung. Judson menjadi benih yang jatuh ke tanah dan mati. Saat ini, ada sekitar 3700 jemaat dengan 617.781 anggota dan 1.9 juta afiliasi. Buah dari sebuah benih yang mati.”

9 Agustus 1788 menjadi salah satu hari bersejarah bagi negara Burma (Myanmar). Hari itu, seorang bayi yang akan membawa injil sampai ke Burma dilahirkan. Adoniram Judson, Sr. dan Abigail dianugerahi seorang anak laki-laki yang kemudian mereka beri nama Adoniram Judson Jr. Tidak ada yang berpikir bahwa anak ini akan menjadi misionaris pertama yang pergi ke negara penyembah berhala. Masa muda Judson begitu luar biasa, ayahnya seorang yang pendeta, mendidik Judson dalam jalan-jalan Allah, bahkan memasukkan Judson muda ke sebuah universitas Brown, yang mengajarkan nilai-nilai Firman Tuhan. Judson muda adalah seorang yang begitu pintar dan berbakat. Semua berjalan dengan baik sampai ia bertemu dengan seorang teman bernama Jacob Eames, yang akhirnya membawa Judson menjadi pribadi yang tidak lagi percaya kepada Kristus. Judson kemudian pergi ke New York untuk mencari pekerjaan. Namun, ia hanya beberapa minggu disana. Di dalam perjalanan kembali dari New York, Judson menginap di sebuah penginapan. Namun, malam itu begitu tidak tenang, ada seseorang di kamar sebelahnya yang sedang sakit keras dan sekarat. Pikirannya begitu terganggu malam itu, sulit bagi Judson untuk tidur, ia terbayang akan kematian yang bisa saja terjadi padanya dan ia belum siap akan hal tersebut. Keesokan harinya, Judson bertanya kepada pemilik penginapan mengenai kondisi anak muda yang sekarat kepada pemilik penginapan. “Ia telah meninggal dunia.” “Apakah anda tahu siapakah dia itu?” “Oh iya. Ia adalah anak muda dari Brown University, namanya adalah Eames, Jacob Eames.” Ya, itu adalah nama teman yang membawa Judson untuk tidak percaya Tuhan. Pikiran Judson begitu kacau hari itu. Ia memikirkan semua teori yang disampaikan temannya. Di satu sisi, ia juga memikirkan Allah ayahnya hingga ia sampai pada satu pikiran bahwa tidaklah kebetulan Eames meninggal di sebelah kamarnya, itu tidak mungkin kebetulan. Ia segera berkuda untuk pulang kembali ke rumahnya. Ia masuk ke Andover Theological Seminary bulan Oktober, sebagai mahasiswa khusus, bukan calon hamba Tuhan karena saat itu, ia belum bertobat. Namun, pembelajarannya pada alkitab akhirnya membawa Judson kepada pertobatan yang sejati. Ia menjadi manusia yang baru, berhenti dari semua mimpi masa mudanya dan pergi melayani Tuhan sebagai misionaris. Continue reading “Adoniram Judson”

Face Your ‘Lion’ And ‘Bear’

Salah satu tokoh paling disegani di dalam Alkitab adalah Daud. Kisah Daud melawan Goliat menjadi salah satu fenomena paling luar biasa sepanjang sejarah manusia. Kisah ini telah menginspirasi jutaan umat manusia, bahkan bukan hanya di kalangan orang Kristen tapi juga yang non-Kristen. Seorang pemuda bertubuh kecil mengalahkan seorang raksasa yang begitu pandai berperang hanya bermodalkan ketapel dan batu, sebuah kisah yang tidak masuk akal.

National Geographic pernah membuat reka ulang kisah Daud melawan Goliat. Dengan menggunakan seorang atlet juara Balearics Slinging Champion yang bernama Luis Pons Livermore, dengan menggunakan sebuah alat kecil sebagai target yang menggambarkan dahi dari Goliat, mereka akan mengukur seberapa besar gaya yang dibutuhkan oleh Daud untuk menghancurkan tengkorak dari Goliat dan membunuh Goliat. Dan mereka mendapat satu kesimpulan bahwa apa yang dilakukan oleh Daud adalah sesuatu yang hampir mustahil, mengkombinasikan gaya lontaran dan akurasi untuk tepat mengenai dahi Goliat begitu sulit dilakukan bahkan atlet ini harus berkali-kali melakukan uji coba dan sekalipun akhirnya mengenai alat tersebut, gaya yang dibutuhkan untuk menghancurkan membunuh Goliat masih kurang, sampai akhir percobaan, mereka gagal melakukan reka ulang apa yang dilakukan oleh Daud.

Continue reading “Face Your ‘Lion’ And ‘Bear’”

My Name Is ‘Hope’

Nama aku Hope (harapan), aku dilahirkan bersamaan dengan dihembuskannya nafas Allah ke dalam tanah dan aku akan mengakhiri perjalanan aku ketika semua yang di dunia ini telah berakhir. Aku telah melewati masa demi masa, generasi demi generasi, waktu demi waktu, manusia terus memanggil namaku. Bagi mereka, aku adalah seberkas cahaya di dalam kegelapan, sebuah awan sebesar telapak tangan di masa kekeringan, dan sebuah oasis di tengah padang gurun. Hal yang paling menyenangkan untuk aku adalah ketika melihat pada akhirnya manusia kembali tersenyum dan memiliki mata yang kembali bercahaya karena mereka melihat aku ada bersama dengan mereka. Ketika langkah kaki yang lelah kembali berjalan, ketika hati yang padam kembali menyala, dan ketika lutut yang goyang kembali tegak, itu begitu menyukakan hatiku. Aku sering ada dalam imajinasi manusia ketika mereka sedang melamun, sedang merenung sendirian, bahkan di malam sebelum mereka menutup mata. Buat mereka, kehadiranku begitu penting.

Continue reading “My Name Is ‘Hope’”