David Brainerd

Advertisements

Adoniram Judson

“Pergi ke Myanmar pada usia 24 tahun, melayani disana selama 38 tahun dan hanya satu kali pulang kampung. Judson menjadi benih yang jatuh ke tanah dan mati. Saat ini, ada sekitar 3700 jemaat dengan 617.781 anggota dan 1.9 juta afiliasi. Buah dari sebuah benih yang mati.”

9 Agustus 1788 menjadi salah satu hari bersejarah bagi negara Burma (Myanmar). Hari itu, seorang bayi yang akan membawa injil sampai ke Burma dilahirkan. Adoniram Judson, Sr. dan Abigail dianugerahi seorang anak laki-laki yang kemudian mereka beri nama Adoniram Judson Jr. Tidak ada yang berpikir bahwa anak ini akan menjadi misionaris pertama yang pergi ke negara penyembah berhala. Masa muda Judson begitu luar biasa, ayahnya seorang yang pendeta, mendidik Judson dalam jalan-jalan Allah, bahkan memasukkan Judson muda ke sebuah universitas Brown, yang mengajarkan nilai-nilai Firman Tuhan. Judson muda adalah seorang yang begitu pintar dan berbakat. Semua berjalan dengan baik sampai ia bertemu dengan seorang teman bernama Jacob Eames, yang akhirnya membawa Judson menjadi pribadi yang tidak lagi percaya kepada Kristus. Judson kemudian pergi ke New York untuk mencari pekerjaan. Namun, ia hanya beberapa minggu disana. Di dalam perjalanan kembali dari New York, Judson menginap di sebuah penginapan. Namun, malam itu begitu tidak tenang, ada seseorang di kamar sebelahnya yang sedang sakit keras dan sekarat. Pikirannya begitu terganggu malam itu, sulit bagi Judson untuk tidur, ia terbayang akan kematian yang bisa saja terjadi padanya dan ia belum siap akan hal tersebut. Keesokan harinya, Judson bertanya kepada pemilik penginapan mengenai kondisi anak muda yang sekarat kepada pemilik penginapan. “Ia telah meninggal dunia.” “Apakah anda tahu siapakah dia itu?” “Oh iya. Ia adalah anak muda dari Brown University, namanya adalah Eames, Jacob Eames.” Ya, itu adalah nama teman yang membawa Judson untuk tidak percaya Tuhan. Pikiran Judson begitu kacau hari itu. Ia memikirkan semua teori yang disampaikan temannya. Di satu sisi, ia juga memikirkan Allah ayahnya hingga ia sampai pada satu pikiran bahwa tidaklah kebetulan Eames meninggal di sebelah kamarnya, itu tidak mungkin kebetulan. Ia segera berkuda untuk pulang kembali ke rumahnya. Ia masuk ke Andover Theological Seminary bulan Oktober, sebagai mahasiswa khusus, bukan calon hamba Tuhan karena saat itu, ia belum bertobat. Namun, pembelajarannya pada alkitab akhirnya membawa Judson kepada pertobatan yang sejati. Ia menjadi manusia yang baru, berhenti dari semua mimpi masa mudanya dan pergi melayani Tuhan sebagai misionaris. Continue reading “Adoniram Judson”