Memilih Jalan Iman (Sebuah Kisah Pengerjaan Tugas Akhir)

Perjalanan ini dimulai dari bulan Januari 2014 tepat ketika kembang api menghiasi langit malam, saya berada di kamar dengan sebuah pena, ditemani buku catatan dan sebuah alkitab. Mengambil waktu teduh pribadi dan berdoa kepada Tuhan meminta petunjuk untuk saya menjalani tahun ini.

Tuhan mewahyukan satu hal kepada saya yaitu dalam Yesaya 43:9.

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”

Tuhan mewahyukan bahwa tahun 2014 akan ada banyak padang gurun dan padang belantara. Sebelum menemukan jalan, menemukan sungai, saya akan terlebih dahulu bertemu dengan padang gurun. Sejenak menjadi takut karena tahun ini akan ada banyak permasalahan yang terjadi, tapi setelah itu menjadi tenang karena percaya bahwa apapun masalahnya, Tuhan yang mengaruniakan jalan dan mengaruniakan sungai untuk hidup saya.

Perkuliahan semester 8 dimulai. Mengambil Tugas Akhir, 4 SKS dan dibimbing oleh seorang dosen yang terkenal tegas, galak, dan tidak kenal kompromi. Saya secara sengaja meminta dibimbing bliau, karena saya ingin supaya saya bukan hanya mendapat ilmu, tapi juga mendapat banyak pelajaran kehidupan dari bliau karena saya melihat hidup bliau yang memberikan inspirasi buat saya. Doa saya ketika saya akan mengerjakan Tugas Akhir ini,”Tuhan, jangan jadikan Tugas Akhir ini menjadi sesuatu yang biasa, tetapi nyatakanlah pribadi-Mu dalam Tugas Akhir ini.”

Bertekad lulus di bulan Juli agar bisa ikut Misi Angkatan ke Manado, tapi mulai mengerjakan Tugas Akhir di bulan Maret akhir. Asistensi pertama berakhir dengan tragedi, dimarahin abis-abisan, pulang hanya bisa tertunduk, lemas, karena harus mengulang membuat kembali presentasi dengan materi yang sama. Asistensi kedua jauh lebih baik, belajar dari asistensi pertama, mempersiapkan asistensi kedua dengan lebih baik lagi. Pada asistensi kedua, diberikan tambahan materi oleh bliau. Puas dengan performa asistensi kedua, saya mulai mengendurkan sabuk pengaman dan salah karena terbuai dengan kenyamanan. Akhirnya, jarak dari asistensi kedua ke asistensi ketiga begitu jauh.

Asistensi ketiga berlangsung pada pertengahan bulan Mei. Sama seperti asistensi pertama, performa asistensi ketiga bisa dikatakan menurun. Dan pengerjaan Tugas Akhir saya begitu lambat, bliau berkali-kali menanyakan kapan saya ingin lulus. Masih dengan kepercayaan dan tekad untuk lulus Juli, dengan sekuat tenaga mengerjakan Tugas Akhir. Namun, semua akhirnya berakhir karena memang tidak mencukupkan untuk wisuda di bulan Juli, materi masih sangat jauh dari harapan.

Diselingi dengan liburan ke Bangka pada bulan Mei akhir, Tugas Akhirpun kembali tertunda. Pulang dari Bangka, dengan semangat 45, kembali mengerjakan dengan harapan setidaknya bisa seminar dan segera sidang. Jangankan seminar, setiap asistensi berakhir dengan tragis, tidak jarang mata saya berkaca-kaca karena sedih dimarahi oleh bliau. Sungguh perjalanan yang tidak mudah apabila saya harus melihatnya kembali karena kebanggaan yang saya sandang sebagai mahasiswa terbaik Teknik Kelautan seakan menambah berat beban di pundak saya.

Namun Tugas Akhir tidak membuat saya terhilang dari pelayanan. Saya tahu ketika saya mengerjakan yang terbaik, Tuhan adalah Allah yang setia. Saya tetap memuridkan, saya tetap encourage anak-anak rohani saya bahkan disaat saya sedang dalam masalah, saya tetap mengurus urusan pastoral, saya tetap tinggal di dalam hadirat Tuhan karena saya tahu sekali saja saya keluar dari sana, maka singa akan menerkam saya dan menghancurkan hidup saya, perlindungan saya adalah ketika saya berada di dalam Tuhan.

Saya mengambil satu materi Tugas Akhir yang sebenarnya “bukan saya” karena materi saya sebenarnya suka dengan hitung-hitungan, namun di materi ini, perhitungannya sederhana dan sedikit, materinya banyak di bagian deskripsinya dan itu sulit untuk saya, tetapi saya tetap memberanikan diri untuk mengambilnya karena saya tidak mau mengambil “jalan aman”, saya mau mengambil “jalan iman”.

Terkesan mencobai dan membodohi diri sendiri dengan mengambil dosen killer dan memilih materi yang tidak saya kuasai, tapi disitulah saya ingin melihat bagaimana Tuhan berkarya dalam Tugas Akhir yang saya kerjakan ini. Bagaimana dalam kekurangan saya, kuasa Tuhan menjadi sempurna (2 Kor 12:9).

Penuh dengan ketegangan, intimidasi setiap kali akan asistensi, tantangan, melawan kemalasan dalam diri sendiri, begitu banyak warna dan kenangan dalam pengerjaan Tugas Akhir ini, kalau ditulis dengan detail, tampaknya akan sangat panjang. Asistensi demi asistensi dilakukan, saya sangat sering bertemu dengan bliau, mungkins saya adalah anak bimbingan bliau dengan intensitas pertemuan yang tinggi. Namun itu saya lakukan karena saya berjuang untuk bisa segera lulus.

Waktupun terus berjalan. Seakan tidak bersahabat, waktu terasa bukan hanya berjalan, tetapi berlari dengan cepat, seakan memburu hidup saya. Ketegangan dan ketakutan terus menghantui, intimidasi terus menyerang, sekali saja saya tidak dekat dengan Tuhan, pasti hidup saya sudah hancur dan pasti saya sudah berputus asa. Tidak terasa, sudah tanggal 4 Agustus, tim survey Misi Manado pun berangkat. Sementara tim yang lain masih berjuang dalam pengerjaan Tugas Akhir. 12 Agustus adalah tanggal dimana keberangkatan Misi Manado, 8 hari menuju penggenapan janji Tuhan dan saya harus seminar sebelum tanggal itu karena apabila lewat dari tanggal tersebut, saya tidak bisa wisuda Oktober. Sempat berpikir untuk menunda keberangkatan, namun saya sekali lagi memilih jalan iman dan bukan jalan aman dan mengurungkan niat untuk menunda keberangkatan.

Selasa, 5 Agustus 2014, saya bertemu dengan pembimbing dengan harapan bahwa saya bisa seminar sebelum tanggal 12. Dengan berbekal materi yang telah saya persiapkan sebaik mungkin, saya menghadap bliau. Alih-alih membicarakan seminar, sekali lagi presentasi saya mengecewakan di mata bliau. Kurang lebih seperti inilah pernyataan bliau:

D (dosen): kamu mau seminar tanggal berapa?

S (saya): saya maunya kalau bisa sebelum tanggal 12 Pak.

D: wah, itu tidak mungkin, materi kamu masih perlu diperbaiki dan dosen-dosen akan pergi ke Thailand pada tanggal 7-10 Agustus, jadi kamu tidak bisa mencari dosen penguji, kalaupun bisa, kamu harus mencari dosen penguji besok tanggal 6 dan itu tidak mungkin terjadi karena kamu tidak mungkin revisi ini dalam 1 hari. Saya tempatkan kamu untuk seminar tanggal 18 Agustus 2014.

Dengan nada yang tinggi, nyali sayapun langsung ciut seketika itu, kata-kata seakan tertahan untuk keluar dari mulut saya. Saya keluar ruangan dengan kepala tertunduk, bertemu dengan teman-teman yang menanyakan kabar TA saya, saya hanya bisa tersenyum kepada mereka. Kemudian saya kembali ke perpustakaan KL untuk mengambil tas, saya memberanikan diri kembali menghadap bliau, saya masuk ke ruangan dan terjadilah percakapan ini:

S (saya): permisi Pak, Pak saya sebenarnya tanggal 12 Agustus sudah ada rencana untuk pergi keluar kota Pak, jadi kalau bisa seminarnya tanggal 11 Agustus.

D (dosen): Stefanus, saya sudah bilang ke kamu kalau kamu tidak bisa seminar tanggal 11. Karena kalau kamu seminar dengan materi seperti sekarang ini, kamu hanya akan mempermalukan saya. Pokoknya dari saya sudah fix, kamu seminar tanggal 18, kalau kamu masih mau ngotot, kamu menghadap kaprodi, minta surat rekomendasi dari bliau, kalau keluar suratnya, saya akan nurut dan memberikan kamu seminar di tanggal 11 Agustus.

Seperti panah yang dilesatkan ke dalam hati saya, terasa begitu sesak di dada, keluar ruangan, berjalan ke arah parkiran motor dengan mata berkaca-kaca, begitu hancur hati saya, yang ada di pikiran saya saat itu adalah “saya tidak bisa ke Manado”. Pulang ke kosan, langsung masuk ke kamar, hati saya begitu hancur, tubuh begitu lemas, harapan seakan sirna. Rasanya mau telpon kakak PA, tapi saya mengurungkan niat, saya tau bahwa pribadi pertama yang harus saya temui ialah Tuhan, bukan kakak PA, bukan teman angkatan, tetapi Tuhan. Akhirnya masih dengan lemas saya ambil gitar, mulai memainkan dan menyanyikan beberapa lagu, tidak keluar suara dari mulut ini, hanya keluar tangisan yang begitu sakit sampai tidak bisa berkata-kata. Saat berdoa, saya teringat status Bang Parlin di malam sebelumnya, kurang lebih kalimat yang saya ingat seperti ini: ”Bahkan disaat kita tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk berdoa, Tuhan mengerti bahasa air mata.”

Seperti itulah kondisi saya, tidak bisa berkata-kata, hanya bisa menangis di hadapan Tuhan, hati saya begitu hancur, tetapi Tuhan adalah Allah yang setia, Dia menghampiri saya, Dia menguatkan, masih teringat dengan jelas dalam benak saya ketika saat itu Tuhan mengingatkan semua doa saya untuk Manado, Tuhan ingatkan semua janji-Nya untuk kota ini, Tuhan ingatkan bagaimana saya akhirnya mendapat dana dan mendapat izin orang tua dan Tuhan dengan lembut bertanya, “Kamu sudah lalui semua ini, masihkah kamu tidak percaya bahwa aku akan mengirim kamu ke Manado?” Di titik itu, saya mendapatkan iman bahwa saya akan berangkat ke Manado tanggal 12. Saya tidak tahu bagaimana caranya, saya tidak tahu bagaimana bisa saya seminar tanggal 11, yang saya tahu adalah bahwa saya akan berangkat tanggal 12 dan tidak akan ada penundaan keberangkatan. Saya memilih untuk menguatkan kepercayaan kepada Tuhan, saya tidak memilih untuk berputus asa sama seperti Daud memilih untuk menguatkan kepercayaan-Nya kepada Tuhan (I Sam 30:6).

Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Saya ambil laptop saya dan saya berangkat ke kampus, saya kerjakan semua revisi, saat itu waktu menunjukkan pukul 12.00 ketika saya berangkat ke kampus untuk mengerjakan TA ini. Saya ingin buktikan pada bliau bahwa saya bisa revisi ini dalam 1 hari, bukan karena saya hebat, tetapi karena ada Tuhan di pihak saya. Berpindah dari kampus, pukul 15.00 saya ke bright café untuk kembali mengerjakan TA. Akhirnya saya kerjakan itu, dan tidak terasa waktu menunjukkan pukul 22.00 dan sudah 80% saya kerjakan. Pulang ke kontrakan, masuk kamar, langsung tidur dan bangun pukul 04.00 untuk menyelesaikan 20%.

Pukul 08.00 semua bahan revisi selesai dan saya sangat puas dengan pekerjaan saya, saya benar-benar tidak menyangka dapat mengerjakan hal itu, saya tahu bahwa ini adalah kekuatan Roh Kudus, bukan kekuatan saya. Saya tidak perlu bergadang, saya tidur cukup dan saya selesaikan ini dengan baik. Pagi harinya saya sms bliau untuk ketemuan dan menyampaikan hasil revisi. Namun bliau sedang berada di luar kota, jadi saya diminta untuk kirim lewat email kepada bliau. Akhirnya siang hari sekitar pukul 13.00, saya kirim email. Saya menunggu balasan dan Kamis subuh barulah bliau balas dan begitu luar biasa dan setia Tuhan, saya diizinkan untuk seminar tanggal 11. Hati saya penuh sukacita dan mulut saya dipenuhi dengan pujian pengagungan kepada Tuhan.

Dengan segera saya menuju ke TU untuk mengurus semua surat-surat, saya menghubungi dosen-dosen, mencari dosen yang bisa menjadi penguji dan puji Tuhan dari semua dosen-dosen yang pergi ke luar kota, masih ada dosen yang bisa dihubungi dan bersedia menjadi penguji, Tuhan menyediakan semuanya untuk saya. Singkat cerita, saya seminar tanggal 11 Agustus dan saya berangkat ke Manado tanggal 12 Agustus, semuanya sesuai dengan janji Tuhan.

Awalnya ingin pulang minggu pertama September, saya mengurungkan niat dan memutuskan pulang tanggal 12 September, ini bukan tanpa dasar, tetapi dengan kembali memilih jalan iman, saya mendapat iman bahwa saya wisuda Oktober sekalipun batas sidang tanggal 23 September, tapi saya percaya bahwa saya akan wisuda di bulan Oktober, tidak akan ada lagi penundaan. Berkali-kali merasa takut, tetapi Tuhan selalu kuatkan dan tidak ada penyesalan sedikitpun karena sampai tanggal 12, mujizat Tuhan terjadi dalam hidup saya setiap harinya. Mencoba mengerjakan revisi seminar, namun hanya bisa sedikit saja yang dikerjakan karena jadwal misi yang cukup padat.

Misipun berakhir tanggal 12 September, dan tanggal 13 September, saya langsung menghubungi dosen untuk bimbingan. Bliau tidak merespon sms saya. Saya merevisi sebagian yang saya tahu, kemudian saya coba lagi menghubungi bliau tanggal 15 lewat SMS dan email, kembali tidak direspon, tanggal 16 September, saya tahu bahwa bliau berada di luar kota dari teman saya. Terakhir saya sms tanggal 17 September dan akhirnya bliau membalas via email dan mengatakan sedang berada di luar kota dan baru bisa bertemu dengan saya tanggal 22 September. Keadaan sangat menegangkan. Sekali lagi, saya dipaksa Tuhan berada di jalan iman. Saya begitu terguncang, ada berbagai macam pikiran negatif yang menyerang saya, tetapi ketika berdoa di PDS, Tuhan ingatkan satu ayat kepada saya, ayat yang sangat menguatkan saya, yaitu di Mazmur 33:18

“Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya.”

Ya, itulah saya, saya sangat berharap akan kasih setia Tuhan. Dan apabila lanjut dibaca ayat-ayat selanjutnya, Tuhan menjanjikan kemenangan, saya tahu bahwa saya akan wisuda di bulan Oktober 2014 dan tidak akan ada lagi penundaan. Saya mempersiapkan diri dengan baik, dan di saat-saat tegang seperti ini, saya menyempatkan diri ke UNPAR untuk PI dan saya memberikan waktu untuk PA dengan anak-anak PA saya, saya tidak meninggalkan pelayanan, saya tahu Tuhan setia atas hidup saya dan saya juga harus setia kepada Tuhan.

Senin, 22 September 2014, tibalah pertemuan dengan dosen pembimbing. Membawa materi yang telah saya persiapkan, saya tahu bahwa saya akan segera sidang. Dan puji nama Tuhan, sekali lagi iman membuktikan bahwa gunung sebesar apapun dapat dipindahkan. Saya mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing untuk mengikuti sidang dan sidang akan dilakukan pada hari Jumat pukul 15.00. Saya sempat terkena amukan bliau, bliau mengatakan bahwa saya sengaja baru menghubungi bliau 1 minggu sebelum sidang untuk meminta keistimewaan, saya dikira sengaja “mepet” supaya bliau berbelas kasihan, keadaannya sangat mengerikan, hati saya benar-benar sakit seperti tersayat-sayat terutama karena perkataan bliau. Namun di saat itu, Tuhan hanya mengatakan “Berbahagialah engkau, karena oleh karena injil (misi), kamu mengalami penderitaan, berbahagialah kamu karena kamu telah layak menerima itu.”

Hari-hari menjelang sidang saya jalani dengan penuh ketegangan. Saya tidak tahu mengapa saya tengang. Saya sudah berusaha mempersiapkan yang terbaik. Suatu malam, ketika saya sedang tegang dan tidak damai, saya akhirnya memilih untuk berdoa. Di dalam perenungan saya, Tuhan berfirman: “Kamu tegang, karena kamu selama ini mengandalkan manusia (dosen pembimbing) untuk menolongmu, kamu tidak mengandalkan Tuhan. Karena itulah, Aku buat dosen kamu marah sama kamu, supaya pada akhirnya kamu mengandalkan Tuhan dan bukan mengandalkan dosen.” Satu perikop yang cukup keras menampar saya adalah dari Yesaya 31 bahwa “Tuhanlah penolong yang satu-satunya”. Setelah menyadari hal tersebut, saya bertobat, saya minta ampun kepada Tuhan dan saya merasakan adanya damai sejahtera yang berasal dari Tuhan.

Sidang berlangsung hari Jumat pukul 15.00 dan berjalan dengan baik, ada banyak teman-teman dan anak PA yang hadir dan memberi semangat buat saya pribadi. Sidang berlangsung dengan menegangkan, ada banyak pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Sidang berakhir pukul 17.00, dan puji Tuhan saya diluluskan, namun indeks tidak diberitahu karena menunggu revisi saya selesai. Akhirnya ada gelar yang mengikut nama saya. Stefanus Setiawan, S. T.

Ada begitu banyak pelajaran yang Tuhan ajarkan pada saya dalam pengerjaan Tugas Akhir ini. Bagaimana saya mengandalkan Tuhan, bagaimana saya memilih jalan iman dan bukan jalan aman, bagaimana saya melihat dan tetap percaya kepada janji Tuhan, bagaimana saya berjuang yang terbaik dan Tuhan melakukan bagian-Nya, bagaimana rasanya dijelek-jelekin karena injil, dan masih ada banyak lagi pelajaran yang Tuhan sampaikan. Ini semua terjadi karena saya memilih jalan iman, saya memilih untuk menempuh jejak-jejak para saksi iman dimana ketika keadaan memaksa mereka meninggalkan Tuhan, mereka memilih untuk tetap percaya dan setia kepada Tuhan, mereka memilih jalan iman. Jalan iman bukanlah jalan yang mudah, tidak ada keamanan di dalam jalan iman, dan tidak ada iman di dalam jalan keamanan.

Bagaimana dengan anda? Apakah anda akan melewati masa-masa pengerjaan Tugas Akhir ini dengan biasa? Ataukah anda ingin mengambil tongkat estafet untuk memilih menempuh jalan iman dan bukan jalan aman? Sedikit tips dari saya, jalan aman tidak akan menghasilkan pelajaran berharga, tapi di jalan iman akan selalu anda kenang, disinilah anda disemai, dipersiapkan karena setelah lulus, ada begitu banyak jalan iman yang harus anda tempuh.

Advertisements

Beasiswa Dari Dia

Hari itu praktikum kuliah seperti biasa. Kegiatan berlangsung sama seperti hari-hari lainnya dan tidak ada yang spesial dihari itu, sampai siang itu, ketika sudah selesai dari lab, sebelum menuruni tangga laboratorium dasar fisika, HP berbunyi.

“Selamat siang, dengan Stefanus Setiawan? Saya dari Lembaga Kemahasiswaan ITB.”
“Iya, ini Stefanus. Ada apa Pak?”
“Stefanus tolong ke ruang LK untuk mengurus beasiswa sekarang.”
“Baik Pak.”

Saat itu saya berkuliah sebagai mahasiswa ITB semester 1, baru sekitar 3-4 bulan berkuliah di kampus Ganesha. Saya tidak pernah apply beasiswa, jadi itu telpon yang cukup mengejutkan. Dengan penuh tanda tanya, akhirnya saya berangkat ke LK untuk mendapat keterangan lebih lanjut mengenai pembicaraan singkat di telpon sebelumnya.

Continue reading “Beasiswa Dari Dia”

My Name Is…

Kata orang, nama adalah doa. Tapi ada juga yang bilang kalo percaya kalimat itu, berarti percaya kalo koko crunch terjadi karena ada pesawat bawa cokelat yang tumpah ke ladang gandum. Itu jadi sebuah istilah yang tidak berlaku lagi di zaman sekarang. Kata orang, udah ketinggalan zaman, sekarang kalo ngasih nama anak, yang keren pokoknya dan bikin kegantengan atau kecantikan anak tersebut naik 50%. Beberapa waktu yang lalu ada berita heboh karena ada orang yang namanya tuhan, dan saiton. Well, kalo pake prinsip bahwa nama adalah doa, sepertinya agak berbahaya juga nama-nama yang seperti ini.

Tapi kalo gw pribadi cukup percaya sih kalau sebenernya nama itu adalah doa. Salah satu alasan gw percaya adalah karena nama gw keren. Sebenernya nama gw pasaran sih, coba aja googling, ada banyak banget yang namanya Stefanus, ada banyak yang namanya Setiawan, bahkan ada banyak yang namanya Stefanus Setiawan, sama persis, hanya nomor KTP lah yang membedakan kami. Continue reading “My Name Is…”

A Tale of A Biker

Malam ini PD selesai lebih lama dari biasanya, lantas saya rasanya ingin cepat bisa sampai di rumah dan beristirahat. Perjalanan pulang dari tempat PD ke rumah sepertinya tidak menjadi perjalanan yang biasa. Awalnya semua begitu lancar tapi semua berubah ketika negara air (hujan) menyerang dan bukan hanya negara air, tetapi juga negara angin (badai) menyerang ibukota. Saya mengenakan peralatan tempur (jas hujan 15 ribuan), menutup helm, dan berkendara dengan perlahan. Perjalanan dari Pasar Minggu sampai Dewi Sartika, ditemani hujan begitu besar. Suatu ketika di tengah hujan, ada sesuatu yang “menganggu” hati saya dan mengatakan “perjalanan kehidupan secara sederhana dapat dilihat dari perjalanan pulangmu.” Saya tergelitik tapi di tengah badai saya mulai merenung. Mulai masuk ke Jalan Dewi Sartika hujan sedikit reda. Tapi kemudian menjadi deras kembali di bawah perempatan, jalan sedikit kemudian hujan deras lagi, kemudian saya bertemu dengan seorang yang tergeletak di trotoar, di tengah hujan, dia menabrak taxi. Akhirnya saya berhenti, bersama dengan 2 pengendara lainnya, mencoba untuk menolong orang ini. Tidak lama kemudian saya jalan lagi, kemudian hujan berhenti, kemudian mulai memasuki Jatinegara hujan kembali deras, saya rasa yang pengendara motor pasti mengerti betapa tersiksanya mengendarai motor di tengah hujan, titik-titik hujan terasa seperti akupuntur gratis. Lampu motor yang redup dan terbatas, pandangan yang juga sangat terbatas, saya berkendara dengan perlahan tapi pasti. Bahkan sempat di tengah perjalanan motor saya mati saat berhenti di lampu merah. Kurang beruntung, matinya tepat ketika lampu merah berganti jadi lampu hijau. Karena starter tangan motor saya rusak, akhirnya harus dengan starter kaki. Oke, lanjut dari hujan di Jatinegara, kemudian hujan berhenti ketika di sekitaran Buaran dan seterusnya, saya bisa sampai di rumah dengan selamat.

Continue reading “A Tale of A Biker”

Adoniram Judson

“Pergi ke Myanmar pada usia 24 tahun, melayani disana selama 38 tahun dan hanya satu kali pulang kampung. Judson menjadi benih yang jatuh ke tanah dan mati. Saat ini, ada sekitar 3700 jemaat dengan 617.781 anggota dan 1.9 juta afiliasi. Buah dari sebuah benih yang mati.”

9 Agustus 1788 menjadi salah satu hari bersejarah bagi negara Burma (Myanmar). Hari itu, seorang bayi yang akan membawa injil sampai ke Burma dilahirkan. Adoniram Judson, Sr. dan Abigail dianugerahi seorang anak laki-laki yang kemudian mereka beri nama Adoniram Judson Jr. Tidak ada yang berpikir bahwa anak ini akan menjadi misionaris pertama yang pergi ke negara penyembah berhala. Masa muda Judson begitu luar biasa, ayahnya seorang yang pendeta, mendidik Judson dalam jalan-jalan Allah, bahkan memasukkan Judson muda ke sebuah universitas Brown, yang mengajarkan nilai-nilai Firman Tuhan. Judson muda adalah seorang yang begitu pintar dan berbakat. Semua berjalan dengan baik sampai ia bertemu dengan seorang teman bernama Jacob Eames, yang akhirnya membawa Judson menjadi pribadi yang tidak lagi percaya kepada Kristus. Judson kemudian pergi ke New York untuk mencari pekerjaan. Namun, ia hanya beberapa minggu disana. Di dalam perjalanan kembali dari New York, Judson menginap di sebuah penginapan. Namun, malam itu begitu tidak tenang, ada seseorang di kamar sebelahnya yang sedang sakit keras dan sekarat. Pikirannya begitu terganggu malam itu, sulit bagi Judson untuk tidur, ia terbayang akan kematian yang bisa saja terjadi padanya dan ia belum siap akan hal tersebut. Keesokan harinya, Judson bertanya kepada pemilik penginapan mengenai kondisi anak muda yang sekarat kepada pemilik penginapan. “Ia telah meninggal dunia.” “Apakah anda tahu siapakah dia itu?” “Oh iya. Ia adalah anak muda dari Brown University, namanya adalah Eames, Jacob Eames.” Ya, itu adalah nama teman yang membawa Judson untuk tidak percaya Tuhan. Pikiran Judson begitu kacau hari itu. Ia memikirkan semua teori yang disampaikan temannya. Di satu sisi, ia juga memikirkan Allah ayahnya hingga ia sampai pada satu pikiran bahwa tidaklah kebetulan Eames meninggal di sebelah kamarnya, itu tidak mungkin kebetulan. Ia segera berkuda untuk pulang kembali ke rumahnya. Ia masuk ke Andover Theological Seminary bulan Oktober, sebagai mahasiswa khusus, bukan calon hamba Tuhan karena saat itu, ia belum bertobat. Namun, pembelajarannya pada alkitab akhirnya membawa Judson kepada pertobatan yang sejati. Ia menjadi manusia yang baru, berhenti dari semua mimpi masa mudanya dan pergi melayani Tuhan sebagai misionaris. Continue reading “Adoniram Judson”

My Name Is ‘Hope’

Nama aku Hope (harapan), aku dilahirkan bersamaan dengan dihembuskannya nafas Allah ke dalam tanah dan aku akan mengakhiri perjalanan aku ketika semua yang di dunia ini telah berakhir. Aku telah melewati masa demi masa, generasi demi generasi, waktu demi waktu, manusia terus memanggil namaku. Bagi mereka, aku adalah seberkas cahaya di dalam kegelapan, sebuah awan sebesar telapak tangan di masa kekeringan, dan sebuah oasis di tengah padang gurun. Hal yang paling menyenangkan untuk aku adalah ketika melihat pada akhirnya manusia kembali tersenyum dan memiliki mata yang kembali bercahaya karena mereka melihat aku ada bersama dengan mereka. Ketika langkah kaki yang lelah kembali berjalan, ketika hati yang padam kembali menyala, dan ketika lutut yang goyang kembali tegak, itu begitu menyukakan hatiku. Aku sering ada dalam imajinasi manusia ketika mereka sedang melamun, sedang merenung sendirian, bahkan di malam sebelum mereka menutup mata. Buat mereka, kehadiranku begitu penting.

Continue reading “My Name Is ‘Hope’”