‘Bad Day’

Bayangkan 5 menit setelah anda membaca cerita ini, handphone anda berbunyi, sebuah nomor asing yang tidak anda kenal menelpon anda, dan dengan penuh kebingungan anda mengangkat telpon tersebut. Suara di seberang terdengar jelas, “Mba/Mas kami dari pihak kampus/kantor ingin menyatakan bahwa anda di drop out/PHK. Keterangan resmi akan dikirim melalui surat esok hari.” Dengan penuh keraguan, anda berharap mereka adalah penipu atau anda berharap sedang masuk ke acara prank, tiba-tiba ada seseorang muncul dan tertawa bersama dengan anda. Tapi itu tidak terjadi. 5 menit setelah telpon misterius, handphone anda kembali berbunyi dan kali ini ada pesan masuk yang menyatakan bahwa anda baru mentransfer sejumlah uang. Penuh dengan kepanikan anda cek dompet anda dan benar saja kartu ATM anda tidak ada di dompet. Uang terakhir anda di bank habis seluruhnya. Berharap kejadian ini hanya mimpi, anda mulai membaringkan kepala anda, mencoba memejamkan mata, berharap ketika membuka mata, semua menjadi baik-baik saja. Tetapi baru saja anda membaringkan kepala, handphone anda kembali berbunyi, dan kali ini terdengar suara yang cukup familiar, terdengar isak tangis dari seberang, dan seseorang di seberang mengatakan bahwa kedua orang tua anda baru saja meninggal. Anda terdiam, tidak tau harus berbuat apa, seluruh tubuh kaku, tangisan tidak mampu menyalurkan perasaan anda, bahkan istilah “hari buruk” tidak cukup menggambarkan keadaan anda. Belum selesai sampai disana, tubuh anda tiba-tiba terasa sakit, mulai ada bintik merah, dan anda terkena penyakit yang begitu mengerikan. Tidak ada yang tersisa, semua di hidup anda sudah habis. Bagaimana jika hal itu terjadi? Apa yang akan anda lakukan? Perkataan apa yang akan keluar dari mulut anda pertama kali?

Serangkaian peristiwa ini adalah sebuah gambaran tentang apa yang terjadi pada hidup seorang hamba Tuhan bernama Ayub ribuan tahun yang lalu. Tidak perlu waktu yang lama ketika pelayan demi pelayannya datang dan membawa kabar dukacita (Ayub 1:13-19) kepada Ayub. Entah apa yang ada di dalam pikiran Ayub, begitu berat, segalanya lenyap, hanya dalam sekejap mata, semua menghilang dan bahkan Ayub terkena penyakit yang membuat ia dijauhi oleh teman-temannya dan bahkan ditinggalkan oleh istrinya. Dan seperti cerita di atas, tampaknya istilah “hari buruk” tidak cukup untuk menggambarkan apa yang dialami Ayub di hari itu.

Ayub terdiam, tanpa ekspresi, masih setengah tidak percaya dengan semua berita tersebut walaupun ia tahu bahwa semua berita tersebut benar. Air mata mulai turun dari matanya, mulai menetes, ia genggam pakaiannya, dan ia mengoyakkan pakaiannya dengan perasaan kesedihan yang begitu mendalam (Ayub 1:20). Ia mencukur rambutnya, kemudian sujudlah ia dan menyembah. Ya, ayat ini tidak salah, tidak salah terjemahan, tidak juga salah ketik, tidak salah tulis. Di dalam keadaan tersebut, Ayub bersujud dan menyembah. Ia tidak mengeluh, ia tidak protes, ia tidak menyalahkan Tuhan, ia tidak mengumpat, ia tidak bunuh diri, tetapi ia menyembah. Satu sikap, satu jawaban yang begitu luar biasa atas ujian yang Tuhan izinkan terjadi atas Ayub. Satu tindakan yang hanya bisa lahir dari hati yang telah diubah oleh Tuhan.

“ Naked I came from my mother’s womb,
And naked shall I return there.
The LORD gave, and the LORD has taken away;
Blessed be the name of the LORD.”

-Job-

Bahkan ia mengatakan satu perkataan luar biasa yang menyadarkan bahwa dari awal anda tidak pernah memiliki apa-apa dan bahkan ketika anda meninggal, tidak ada sedikitpun barang yang anda punya bisa kita bawa. Dan Ayub tidak berbuat dosa ataupun menyalahkan Tuhan (Ayub 1:22). Ia mengerti bahwa tidak ada rencana Allah yang salah, ia tahu bahwa Tuhan selalu merancangkan kebaikan untuk umat-Nya dan dengan kekuatan dari Allah, Ayub bisa melalui hari-harinya yang begitu berat. Imannya begitu teguh kepada Allah. Keyakinannya akan Allah begitu kokoh. Ia tau bahwa maut sekalipun tidak bisa memisahkannya dari kasih Allah.

Itu jawaban Ayub. Bagaimana dengan jawaban anda? Apabila peristiwa ini terjadi dalam hidup anda? Akankah perkataan yang keluar dari mulut Ayub, juga akan keluar dari mulut anda? Namun satu hal, bahkan ketika anda selesai membaca tulisan ini dan peristiwa yang telah saya sebut di atas terjadi atas hidup anda, anda sudah tau apa yang akan anda lakukan dan katakan. Siapkah anda?

Tuhan memberkati

5 Hal Yang Harus Dilakukan Saat Natal

Waktu kecil kita merindukan natal
Hadiah yang indah dan menawan

Sepenggal lirik di atas mengingatkan kita akan keindahan natal. Natal identik dengan liburan, natal identik dengan perayaan, dengan gemerlap lampu yang indah, pohon natal yang besar dan dihiasi berbagai pernak pernik, serta topi Santa Claus yang dapat ditemui di berbagai tempat. Ya, sewaktu kecil natal menjadi momen yang indah. Selain karena liburan, natal adalah momen mendapatkan hadiah, baju baru, barang baru, dan hal lainnya yang baru. Natal juga tentu menjadi saat dimana akhirnya gereja-gereja bisa penuh dengan jemaat yang tiba-tiba datang untuk ibadah. Begitulah kira-kira kemegahan natal dengan segala gemerlapnya.

 

Namun, natal sesungguhnya tidak berbicara tentang gemerlap. Natal adalah tentang peringatan kelahiran Juruselamat ke dalam dunia. 5 hal berikut ini harus kamu lakukan pada saat natal untuk mengingatkan kamu akan makna natal yang sesungguhnya dan membuat natal tahun ini lebih bermakna: Continue reading “5 Hal Yang Harus Dilakukan Saat Natal”

Sang Penjual Mutiara

Alkisah di sebuah negeri yang jauh, hiduplah seorang pemuda yang kaya raya. Pemuda tersebut adalah orang terkaya di daerah tersebut, pemuda tersebut seorang pedagang, begitu berhasil dalam bisnis yang dikerjakannya. Tidak ada lagi yang ia kejar dalam hidup ini. Hidupnya sudah cukup, bahkan berlimpah. Suatu hari, pemuda tersebut sedang berjalan-jalan di pasar, dan begitu kaget karena dalam perjalanannya tersebut ia menemukan sebuah mutiara yang begitu indah. Tatapannya tajam menatap mutiara tersebut, dan dengan penuh antusias ia menanyakan kepada sang penjual, harga mutiara tersebut. Namun, mendengar harganya yang sangat mahal membuat pemuda ini harus menjual segala miliknya untuk mendapatkan mutiara tersebut. Tetapi, keindahan mutiara ini sudah begitu menghipnotis pemuda ini sehingga ia pulang ke rumah, dia menjual semua aset yang ia miliki, dan kembali ke pasar untuk membeli mutiara tersebut. Kini, ia tidak lagi memiliki apapun selain mutiara tersebut.

Continue reading “Sang Penjual Mutiara”

6 Pertanyaan Yesus Kepada Murid-MuridNya Ini Bisa Kamu Renungkan

Yesus dan murid-muridNya berjalan bersama-sama selama kurang lebih 3.5 tahun. Di dalam perjalanan mereka, Yesus mengajarkan murid-muridNya secara khusus, mempersiapkan mereka untuk menjadi rasul yang membawa injil sampai ke ujung bumi. Alkitab mencatat beberapa percakapan antara Yesus dengan murid-muridNya dan beberapa kali Yesus bertanya kepada murid-muridNya. Dan bayangkan pertanyaan yang Yesus ajukan ini, Dia tanyakan kepadamu secara pribadi, apa jawabmu?

1. Mat 8:26  Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”
Continue reading “6 Pertanyaan Yesus Kepada Murid-MuridNya Ini Bisa Kamu Renungkan”