Memilih Jalan Iman (Sebuah Kisah Pengerjaan Tugas Akhir)

Perjalanan ini dimulai dari bulan Januari 2014 tepat ketika kembang api menghiasi langit malam, saya berada di kamar dengan sebuah pena, ditemani buku catatan dan sebuah alkitab. Mengambil waktu teduh pribadi dan berdoa kepada Tuhan meminta petunjuk untuk saya menjalani tahun ini.

Tuhan mewahyukan satu hal kepada saya yaitu dalam Yesaya 43:9.

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”

Tuhan mewahyukan bahwa tahun 2014 akan ada banyak padang gurun dan padang belantara. Sebelum menemukan jalan, menemukan sungai, saya akan terlebih dahulu bertemu dengan padang gurun. Sejenak menjadi takut karena tahun ini akan ada banyak permasalahan yang terjadi, tapi setelah itu menjadi tenang karena percaya bahwa apapun masalahnya, Tuhan yang mengaruniakan jalan dan mengaruniakan sungai untuk hidup saya.

Perkuliahan semester 8 dimulai. Mengambil Tugas Akhir, 4 SKS dan dibimbing oleh seorang dosen yang terkenal tegas, galak, dan tidak kenal kompromi. Saya secara sengaja meminta dibimbing bliau, karena saya ingin supaya saya bukan hanya mendapat ilmu, tapi juga mendapat banyak pelajaran kehidupan dari bliau karena saya melihat hidup bliau yang memberikan inspirasi buat saya. Doa saya ketika saya akan mengerjakan Tugas Akhir ini,”Tuhan, jangan jadikan Tugas Akhir ini menjadi sesuatu yang biasa, tetapi nyatakanlah pribadi-Mu dalam Tugas Akhir ini.”

Bertekad lulus di bulan Juli agar bisa ikut Misi Angkatan ke Manado, tapi mulai mengerjakan Tugas Akhir di bulan Maret akhir. Asistensi pertama berakhir dengan tragedi, dimarahin abis-abisan, pulang hanya bisa tertunduk, lemas, karena harus mengulang membuat kembali presentasi dengan materi yang sama. Asistensi kedua jauh lebih baik, belajar dari asistensi pertama, mempersiapkan asistensi kedua dengan lebih baik lagi. Pada asistensi kedua, diberikan tambahan materi oleh bliau. Puas dengan performa asistensi kedua, saya mulai mengendurkan sabuk pengaman dan salah karena terbuai dengan kenyamanan. Akhirnya, jarak dari asistensi kedua ke asistensi ketiga begitu jauh.

Asistensi ketiga berlangsung pada pertengahan bulan Mei. Sama seperti asistensi pertama, performa asistensi ketiga bisa dikatakan menurun. Dan pengerjaan Tugas Akhir saya begitu lambat, bliau berkali-kali menanyakan kapan saya ingin lulus. Masih dengan kepercayaan dan tekad untuk lulus Juli, dengan sekuat tenaga mengerjakan Tugas Akhir. Namun, semua akhirnya berakhir karena memang tidak mencukupkan untuk wisuda di bulan Juli, materi masih sangat jauh dari harapan.

Diselingi dengan liburan ke Bangka pada bulan Mei akhir, Tugas Akhirpun kembali tertunda. Pulang dari Bangka, dengan semangat 45, kembali mengerjakan dengan harapan setidaknya bisa seminar dan segera sidang. Jangankan seminar, setiap asistensi berakhir dengan tragis, tidak jarang mata saya berkaca-kaca karena sedih dimarahi oleh bliau. Sungguh perjalanan yang tidak mudah apabila saya harus melihatnya kembali karena kebanggaan yang saya sandang sebagai mahasiswa terbaik Teknik Kelautan seakan menambah berat beban di pundak saya.

Namun Tugas Akhir tidak membuat saya terhilang dari pelayanan. Saya tahu ketika saya mengerjakan yang terbaik, Tuhan adalah Allah yang setia. Saya tetap memuridkan, saya tetap encourage anak-anak rohani saya bahkan disaat saya sedang dalam masalah, saya tetap mengurus urusan pastoral, saya tetap tinggal di dalam hadirat Tuhan karena saya tahu sekali saja saya keluar dari sana, maka singa akan menerkam saya dan menghancurkan hidup saya, perlindungan saya adalah ketika saya berada di dalam Tuhan.

Saya mengambil satu materi Tugas Akhir yang sebenarnya “bukan saya” karena materi saya sebenarnya suka dengan hitung-hitungan, namun di materi ini, perhitungannya sederhana dan sedikit, materinya banyak di bagian deskripsinya dan itu sulit untuk saya, tetapi saya tetap memberanikan diri untuk mengambilnya karena saya tidak mau mengambil “jalan aman”, saya mau mengambil “jalan iman”.

Terkesan mencobai dan membodohi diri sendiri dengan mengambil dosen killer dan memilih materi yang tidak saya kuasai, tapi disitulah saya ingin melihat bagaimana Tuhan berkarya dalam Tugas Akhir yang saya kerjakan ini. Bagaimana dalam kekurangan saya, kuasa Tuhan menjadi sempurna (2 Kor 12:9).

Penuh dengan ketegangan, intimidasi setiap kali akan asistensi, tantangan, melawan kemalasan dalam diri sendiri, begitu banyak warna dan kenangan dalam pengerjaan Tugas Akhir ini, kalau ditulis dengan detail, tampaknya akan sangat panjang. Asistensi demi asistensi dilakukan, saya sangat sering bertemu dengan bliau, mungkins saya adalah anak bimbingan bliau dengan intensitas pertemuan yang tinggi. Namun itu saya lakukan karena saya berjuang untuk bisa segera lulus.

Waktupun terus berjalan. Seakan tidak bersahabat, waktu terasa bukan hanya berjalan, tetapi berlari dengan cepat, seakan memburu hidup saya. Ketegangan dan ketakutan terus menghantui, intimidasi terus menyerang, sekali saja saya tidak dekat dengan Tuhan, pasti hidup saya sudah hancur dan pasti saya sudah berputus asa. Tidak terasa, sudah tanggal 4 Agustus, tim survey Misi Manado pun berangkat. Sementara tim yang lain masih berjuang dalam pengerjaan Tugas Akhir. 12 Agustus adalah tanggal dimana keberangkatan Misi Manado, 8 hari menuju penggenapan janji Tuhan dan saya harus seminar sebelum tanggal itu karena apabila lewat dari tanggal tersebut, saya tidak bisa wisuda Oktober. Sempat berpikir untuk menunda keberangkatan, namun saya sekali lagi memilih jalan iman dan bukan jalan aman dan mengurungkan niat untuk menunda keberangkatan.

Selasa, 5 Agustus 2014, saya bertemu dengan pembimbing dengan harapan bahwa saya bisa seminar sebelum tanggal 12. Dengan berbekal materi yang telah saya persiapkan sebaik mungkin, saya menghadap bliau. Alih-alih membicarakan seminar, sekali lagi presentasi saya mengecewakan di mata bliau. Kurang lebih seperti inilah pernyataan bliau:

D (dosen): kamu mau seminar tanggal berapa?

S (saya): saya maunya kalau bisa sebelum tanggal 12 Pak.

D: wah, itu tidak mungkin, materi kamu masih perlu diperbaiki dan dosen-dosen akan pergi ke Thailand pada tanggal 7-10 Agustus, jadi kamu tidak bisa mencari dosen penguji, kalaupun bisa, kamu harus mencari dosen penguji besok tanggal 6 dan itu tidak mungkin terjadi karena kamu tidak mungkin revisi ini dalam 1 hari. Saya tempatkan kamu untuk seminar tanggal 18 Agustus 2014.

Dengan nada yang tinggi, nyali sayapun langsung ciut seketika itu, kata-kata seakan tertahan untuk keluar dari mulut saya. Saya keluar ruangan dengan kepala tertunduk, bertemu dengan teman-teman yang menanyakan kabar TA saya, saya hanya bisa tersenyum kepada mereka. Kemudian saya kembali ke perpustakaan KL untuk mengambil tas, saya memberanikan diri kembali menghadap bliau, saya masuk ke ruangan dan terjadilah percakapan ini:

S (saya): permisi Pak, Pak saya sebenarnya tanggal 12 Agustus sudah ada rencana untuk pergi keluar kota Pak, jadi kalau bisa seminarnya tanggal 11 Agustus.

D (dosen): Stefanus, saya sudah bilang ke kamu kalau kamu tidak bisa seminar tanggal 11. Karena kalau kamu seminar dengan materi seperti sekarang ini, kamu hanya akan mempermalukan saya. Pokoknya dari saya sudah fix, kamu seminar tanggal 18, kalau kamu masih mau ngotot, kamu menghadap kaprodi, minta surat rekomendasi dari bliau, kalau keluar suratnya, saya akan nurut dan memberikan kamu seminar di tanggal 11 Agustus.

Seperti panah yang dilesatkan ke dalam hati saya, terasa begitu sesak di dada, keluar ruangan, berjalan ke arah parkiran motor dengan mata berkaca-kaca, begitu hancur hati saya, yang ada di pikiran saya saat itu adalah “saya tidak bisa ke Manado”. Pulang ke kosan, langsung masuk ke kamar, hati saya begitu hancur, tubuh begitu lemas, harapan seakan sirna. Rasanya mau telpon kakak PA, tapi saya mengurungkan niat, saya tau bahwa pribadi pertama yang harus saya temui ialah Tuhan, bukan kakak PA, bukan teman angkatan, tetapi Tuhan. Akhirnya masih dengan lemas saya ambil gitar, mulai memainkan dan menyanyikan beberapa lagu, tidak keluar suara dari mulut ini, hanya keluar tangisan yang begitu sakit sampai tidak bisa berkata-kata. Saat berdoa, saya teringat status Bang Parlin di malam sebelumnya, kurang lebih kalimat yang saya ingat seperti ini: ”Bahkan disaat kita tidak bisa mengeluarkan kata-kata untuk berdoa, Tuhan mengerti bahasa air mata.”

Seperti itulah kondisi saya, tidak bisa berkata-kata, hanya bisa menangis di hadapan Tuhan, hati saya begitu hancur, tetapi Tuhan adalah Allah yang setia, Dia menghampiri saya, Dia menguatkan, masih teringat dengan jelas dalam benak saya ketika saat itu Tuhan mengingatkan semua doa saya untuk Manado, Tuhan ingatkan semua janji-Nya untuk kota ini, Tuhan ingatkan bagaimana saya akhirnya mendapat dana dan mendapat izin orang tua dan Tuhan dengan lembut bertanya, “Kamu sudah lalui semua ini, masihkah kamu tidak percaya bahwa aku akan mengirim kamu ke Manado?” Di titik itu, saya mendapatkan iman bahwa saya akan berangkat ke Manado tanggal 12. Saya tidak tahu bagaimana caranya, saya tidak tahu bagaimana bisa saya seminar tanggal 11, yang saya tahu adalah bahwa saya akan berangkat tanggal 12 dan tidak akan ada penundaan keberangkatan. Saya memilih untuk menguatkan kepercayaan kepada Tuhan, saya tidak memilih untuk berputus asa sama seperti Daud memilih untuk menguatkan kepercayaan-Nya kepada Tuhan (I Sam 30:6).

Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Saya ambil laptop saya dan saya berangkat ke kampus, saya kerjakan semua revisi, saat itu waktu menunjukkan pukul 12.00 ketika saya berangkat ke kampus untuk mengerjakan TA ini. Saya ingin buktikan pada bliau bahwa saya bisa revisi ini dalam 1 hari, bukan karena saya hebat, tetapi karena ada Tuhan di pihak saya. Berpindah dari kampus, pukul 15.00 saya ke bright café untuk kembali mengerjakan TA. Akhirnya saya kerjakan itu, dan tidak terasa waktu menunjukkan pukul 22.00 dan sudah 80% saya kerjakan. Pulang ke kontrakan, masuk kamar, langsung tidur dan bangun pukul 04.00 untuk menyelesaikan 20%.

Pukul 08.00 semua bahan revisi selesai dan saya sangat puas dengan pekerjaan saya, saya benar-benar tidak menyangka dapat mengerjakan hal itu, saya tahu bahwa ini adalah kekuatan Roh Kudus, bukan kekuatan saya. Saya tidak perlu bergadang, saya tidur cukup dan saya selesaikan ini dengan baik. Pagi harinya saya sms bliau untuk ketemuan dan menyampaikan hasil revisi. Namun bliau sedang berada di luar kota, jadi saya diminta untuk kirim lewat email kepada bliau. Akhirnya siang hari sekitar pukul 13.00, saya kirim email. Saya menunggu balasan dan Kamis subuh barulah bliau balas dan begitu luar biasa dan setia Tuhan, saya diizinkan untuk seminar tanggal 11. Hati saya penuh sukacita dan mulut saya dipenuhi dengan pujian pengagungan kepada Tuhan.

Dengan segera saya menuju ke TU untuk mengurus semua surat-surat, saya menghubungi dosen-dosen, mencari dosen yang bisa menjadi penguji dan puji Tuhan dari semua dosen-dosen yang pergi ke luar kota, masih ada dosen yang bisa dihubungi dan bersedia menjadi penguji, Tuhan menyediakan semuanya untuk saya. Singkat cerita, saya seminar tanggal 11 Agustus dan saya berangkat ke Manado tanggal 12 Agustus, semuanya sesuai dengan janji Tuhan.

Awalnya ingin pulang minggu pertama September, saya mengurungkan niat dan memutuskan pulang tanggal 12 September, ini bukan tanpa dasar, tetapi dengan kembali memilih jalan iman, saya mendapat iman bahwa saya wisuda Oktober sekalipun batas sidang tanggal 23 September, tapi saya percaya bahwa saya akan wisuda di bulan Oktober, tidak akan ada lagi penundaan. Berkali-kali merasa takut, tetapi Tuhan selalu kuatkan dan tidak ada penyesalan sedikitpun karena sampai tanggal 12, mujizat Tuhan terjadi dalam hidup saya setiap harinya. Mencoba mengerjakan revisi seminar, namun hanya bisa sedikit saja yang dikerjakan karena jadwal misi yang cukup padat.

Misipun berakhir tanggal 12 September, dan tanggal 13 September, saya langsung menghubungi dosen untuk bimbingan. Bliau tidak merespon sms saya. Saya merevisi sebagian yang saya tahu, kemudian saya coba lagi menghubungi bliau tanggal 15 lewat SMS dan email, kembali tidak direspon, tanggal 16 September, saya tahu bahwa bliau berada di luar kota dari teman saya. Terakhir saya sms tanggal 17 September dan akhirnya bliau membalas via email dan mengatakan sedang berada di luar kota dan baru bisa bertemu dengan saya tanggal 22 September. Keadaan sangat menegangkan. Sekali lagi, saya dipaksa Tuhan berada di jalan iman. Saya begitu terguncang, ada berbagai macam pikiran negatif yang menyerang saya, tetapi ketika berdoa di PDS, Tuhan ingatkan satu ayat kepada saya, ayat yang sangat menguatkan saya, yaitu di Mazmur 33:18

“Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya.”

Ya, itulah saya, saya sangat berharap akan kasih setia Tuhan. Dan apabila lanjut dibaca ayat-ayat selanjutnya, Tuhan menjanjikan kemenangan, saya tahu bahwa saya akan wisuda di bulan Oktober 2014 dan tidak akan ada lagi penundaan. Saya mempersiapkan diri dengan baik, dan di saat-saat tegang seperti ini, saya menyempatkan diri ke UNPAR untuk PI dan saya memberikan waktu untuk PA dengan anak-anak PA saya, saya tidak meninggalkan pelayanan, saya tahu Tuhan setia atas hidup saya dan saya juga harus setia kepada Tuhan.

Senin, 22 September 2014, tibalah pertemuan dengan dosen pembimbing. Membawa materi yang telah saya persiapkan, saya tahu bahwa saya akan segera sidang. Dan puji nama Tuhan, sekali lagi iman membuktikan bahwa gunung sebesar apapun dapat dipindahkan. Saya mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing untuk mengikuti sidang dan sidang akan dilakukan pada hari Jumat pukul 15.00. Saya sempat terkena amukan bliau, bliau mengatakan bahwa saya sengaja baru menghubungi bliau 1 minggu sebelum sidang untuk meminta keistimewaan, saya dikira sengaja “mepet” supaya bliau berbelas kasihan, keadaannya sangat mengerikan, hati saya benar-benar sakit seperti tersayat-sayat terutama karena perkataan bliau. Namun di saat itu, Tuhan hanya mengatakan “Berbahagialah engkau, karena oleh karena injil (misi), kamu mengalami penderitaan, berbahagialah kamu karena kamu telah layak menerima itu.”

Hari-hari menjelang sidang saya jalani dengan penuh ketegangan. Saya tidak tahu mengapa saya tengang. Saya sudah berusaha mempersiapkan yang terbaik. Suatu malam, ketika saya sedang tegang dan tidak damai, saya akhirnya memilih untuk berdoa. Di dalam perenungan saya, Tuhan berfirman: “Kamu tegang, karena kamu selama ini mengandalkan manusia (dosen pembimbing) untuk menolongmu, kamu tidak mengandalkan Tuhan. Karena itulah, Aku buat dosen kamu marah sama kamu, supaya pada akhirnya kamu mengandalkan Tuhan dan bukan mengandalkan dosen.” Satu perikop yang cukup keras menampar saya adalah dari Yesaya 31 bahwa “Tuhanlah penolong yang satu-satunya”. Setelah menyadari hal tersebut, saya bertobat, saya minta ampun kepada Tuhan dan saya merasakan adanya damai sejahtera yang berasal dari Tuhan.

Sidang berlangsung hari Jumat pukul 15.00 dan berjalan dengan baik, ada banyak teman-teman dan anak PA yang hadir dan memberi semangat buat saya pribadi. Sidang berlangsung dengan menegangkan, ada banyak pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Sidang berakhir pukul 17.00, dan puji Tuhan saya diluluskan, namun indeks tidak diberitahu karena menunggu revisi saya selesai. Akhirnya ada gelar yang mengikut nama saya. Stefanus Setiawan, S. T.

Ada begitu banyak pelajaran yang Tuhan ajarkan pada saya dalam pengerjaan Tugas Akhir ini. Bagaimana saya mengandalkan Tuhan, bagaimana saya memilih jalan iman dan bukan jalan aman, bagaimana saya melihat dan tetap percaya kepada janji Tuhan, bagaimana saya berjuang yang terbaik dan Tuhan melakukan bagian-Nya, bagaimana rasanya dijelek-jelekin karena injil, dan masih ada banyak lagi pelajaran yang Tuhan sampaikan. Ini semua terjadi karena saya memilih jalan iman, saya memilih untuk menempuh jejak-jejak para saksi iman dimana ketika keadaan memaksa mereka meninggalkan Tuhan, mereka memilih untuk tetap percaya dan setia kepada Tuhan, mereka memilih jalan iman. Jalan iman bukanlah jalan yang mudah, tidak ada keamanan di dalam jalan iman, dan tidak ada iman di dalam jalan keamanan.

Bagaimana dengan anda? Apakah anda akan melewati masa-masa pengerjaan Tugas Akhir ini dengan biasa? Ataukah anda ingin mengambil tongkat estafet untuk memilih menempuh jalan iman dan bukan jalan aman? Sedikit tips dari saya, jalan aman tidak akan menghasilkan pelajaran berharga, tapi di jalan iman akan selalu anda kenang, disinilah anda disemai, dipersiapkan karena setelah lulus, ada begitu banyak jalan iman yang harus anda tempuh.

Advertisements

‘Bad Day’

Bayangkan 5 menit setelah anda membaca cerita ini, handphone anda berbunyi, sebuah nomor asing yang tidak anda kenal menelpon anda, dan dengan penuh kebingungan anda mengangkat telpon tersebut. Suara di seberang terdengar jelas, “Mba/Mas kami dari pihak kampus/kantor ingin menyatakan bahwa anda di drop out/PHK. Keterangan resmi akan dikirim melalui surat esok hari.” Dengan penuh keraguan, anda berharap mereka adalah penipu atau anda berharap sedang masuk ke acara prank, tiba-tiba ada seseorang muncul dan tertawa bersama dengan anda. Tapi itu tidak terjadi. 5 menit setelah telpon misterius, handphone anda kembali berbunyi dan kali ini ada pesan masuk yang menyatakan bahwa anda baru mentransfer sejumlah uang. Penuh dengan kepanikan anda cek dompet anda dan benar saja kartu ATM anda tidak ada di dompet. Uang terakhir anda di bank habis seluruhnya. Berharap kejadian ini hanya mimpi, anda mulai membaringkan kepala anda, mencoba memejamkan mata, berharap ketika membuka mata, semua menjadi baik-baik saja. Tetapi baru saja anda membaringkan kepala, handphone anda kembali berbunyi, dan kali ini terdengar suara yang cukup familiar, terdengar isak tangis dari seberang, dan seseorang di seberang mengatakan bahwa kedua orang tua anda baru saja meninggal. Anda terdiam, tidak tau harus berbuat apa, seluruh tubuh kaku, tangisan tidak mampu menyalurkan perasaan anda, bahkan istilah “hari buruk” tidak cukup menggambarkan keadaan anda. Belum selesai sampai disana, tubuh anda tiba-tiba terasa sakit, mulai ada bintik merah, dan anda terkena penyakit yang begitu mengerikan. Tidak ada yang tersisa, semua di hidup anda sudah habis. Bagaimana jika hal itu terjadi? Apa yang akan anda lakukan? Perkataan apa yang akan keluar dari mulut anda pertama kali?

Serangkaian peristiwa ini adalah sebuah gambaran tentang apa yang terjadi pada hidup seorang hamba Tuhan bernama Ayub ribuan tahun yang lalu. Tidak perlu waktu yang lama ketika pelayan demi pelayannya datang dan membawa kabar dukacita (Ayub 1:13-19) kepada Ayub. Entah apa yang ada di dalam pikiran Ayub, begitu berat, segalanya lenyap, hanya dalam sekejap mata, semua menghilang dan bahkan Ayub terkena penyakit yang membuat ia dijauhi oleh teman-temannya dan bahkan ditinggalkan oleh istrinya. Dan seperti cerita di atas, tampaknya istilah “hari buruk” tidak cukup untuk menggambarkan apa yang dialami Ayub di hari itu.

Ayub terdiam, tanpa ekspresi, masih setengah tidak percaya dengan semua berita tersebut walaupun ia tahu bahwa semua berita tersebut benar. Air mata mulai turun dari matanya, mulai menetes, ia genggam pakaiannya, dan ia mengoyakkan pakaiannya dengan perasaan kesedihan yang begitu mendalam (Ayub 1:20). Ia mencukur rambutnya, kemudian sujudlah ia dan menyembah. Ya, ayat ini tidak salah, tidak salah terjemahan, tidak juga salah ketik, tidak salah tulis. Di dalam keadaan tersebut, Ayub bersujud dan menyembah. Ia tidak mengeluh, ia tidak protes, ia tidak menyalahkan Tuhan, ia tidak mengumpat, ia tidak bunuh diri, tetapi ia menyembah. Satu sikap, satu jawaban yang begitu luar biasa atas ujian yang Tuhan izinkan terjadi atas Ayub. Satu tindakan yang hanya bisa lahir dari hati yang telah diubah oleh Tuhan.

“ Naked I came from my mother’s womb,
And naked shall I return there.
The LORD gave, and the LORD has taken away;
Blessed be the name of the LORD.”

-Job-

Bahkan ia mengatakan satu perkataan luar biasa yang menyadarkan bahwa dari awal anda tidak pernah memiliki apa-apa dan bahkan ketika anda meninggal, tidak ada sedikitpun barang yang anda punya bisa kita bawa. Dan Ayub tidak berbuat dosa ataupun menyalahkan Tuhan (Ayub 1:22). Ia mengerti bahwa tidak ada rencana Allah yang salah, ia tahu bahwa Tuhan selalu merancangkan kebaikan untuk umat-Nya dan dengan kekuatan dari Allah, Ayub bisa melalui hari-harinya yang begitu berat. Imannya begitu teguh kepada Allah. Keyakinannya akan Allah begitu kokoh. Ia tau bahwa maut sekalipun tidak bisa memisahkannya dari kasih Allah.

Itu jawaban Ayub. Bagaimana dengan jawaban anda? Apabila peristiwa ini terjadi dalam hidup anda? Akankah perkataan yang keluar dari mulut Ayub, juga akan keluar dari mulut anda? Namun satu hal, bahkan ketika anda selesai membaca tulisan ini dan peristiwa yang telah saya sebut di atas terjadi atas hidup anda, anda sudah tau apa yang akan anda lakukan dan katakan. Siapkah anda?

Tuhan memberkati

5 Hal Yang Harus Dilakukan Saat Natal

Waktu kecil kita merindukan natal
Hadiah yang indah dan menawan

Sepenggal lirik di atas mengingatkan kita akan keindahan natal. Natal identik dengan liburan, natal identik dengan perayaan, dengan gemerlap lampu yang indah, pohon natal yang besar dan dihiasi berbagai pernak pernik, serta topi Santa Claus yang dapat ditemui di berbagai tempat. Ya, sewaktu kecil natal menjadi momen yang indah. Selain karena liburan, natal adalah momen mendapatkan hadiah, baju baru, barang baru, dan hal lainnya yang baru. Natal juga tentu menjadi saat dimana akhirnya gereja-gereja bisa penuh dengan jemaat yang tiba-tiba datang untuk ibadah. Begitulah kira-kira kemegahan natal dengan segala gemerlapnya.

 

Namun, natal sesungguhnya tidak berbicara tentang gemerlap. Natal adalah tentang peringatan kelahiran Juruselamat ke dalam dunia. 5 hal berikut ini harus kamu lakukan pada saat natal untuk mengingatkan kamu akan makna natal yang sesungguhnya dan membuat natal tahun ini lebih bermakna: Continue reading “5 Hal Yang Harus Dilakukan Saat Natal”

Sang Penjual Mutiara

Alkisah di sebuah negeri yang jauh, hiduplah seorang pemuda yang kaya raya. Pemuda tersebut adalah orang terkaya di daerah tersebut, pemuda tersebut seorang pedagang, begitu berhasil dalam bisnis yang dikerjakannya. Tidak ada lagi yang ia kejar dalam hidup ini. Hidupnya sudah cukup, bahkan berlimpah. Suatu hari, pemuda tersebut sedang berjalan-jalan di pasar, dan begitu kaget karena dalam perjalanannya tersebut ia menemukan sebuah mutiara yang begitu indah. Tatapannya tajam menatap mutiara tersebut, dan dengan penuh antusias ia menanyakan kepada sang penjual, harga mutiara tersebut. Namun, mendengar harganya yang sangat mahal membuat pemuda ini harus menjual segala miliknya untuk mendapatkan mutiara tersebut. Tetapi, keindahan mutiara ini sudah begitu menghipnotis pemuda ini sehingga ia pulang ke rumah, dia menjual semua aset yang ia miliki, dan kembali ke pasar untuk membeli mutiara tersebut. Kini, ia tidak lagi memiliki apapun selain mutiara tersebut.

Continue reading “Sang Penjual Mutiara”

Beasiswa Dari Dia

Hari itu praktikum kuliah seperti biasa. Kegiatan berlangsung sama seperti hari-hari lainnya dan tidak ada yang spesial dihari itu, sampai siang itu, ketika sudah selesai dari lab, sebelum menuruni tangga laboratorium dasar fisika, HP berbunyi.

“Selamat siang, dengan Stefanus Setiawan? Saya dari Lembaga Kemahasiswaan ITB.”
“Iya, ini Stefanus. Ada apa Pak?”
“Stefanus tolong ke ruang LK untuk mengurus beasiswa sekarang.”
“Baik Pak.”

Saat itu saya berkuliah sebagai mahasiswa ITB semester 1, baru sekitar 3-4 bulan berkuliah di kampus Ganesha. Saya tidak pernah apply beasiswa, jadi itu telpon yang cukup mengejutkan. Dengan penuh tanda tanya, akhirnya saya berangkat ke LK untuk mendapat keterangan lebih lanjut mengenai pembicaraan singkat di telpon sebelumnya.

Continue reading “Beasiswa Dari Dia”

Pertobatan Yang Sejati

Sampai sini kita sudah tahu bahwa Yehuda telah diselamatkan oleh karena iman dan pengakuannya dan tentu saja yang pasti oleh karena kasih karunia Allah. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana hidup Yehuda setelah itu? Alkitab mencatat cerita yang cukup panjang yang bisa kita gali tentang kehidupan Yehuda setelah apa yang ia alami. Dalam bab sebelumnya dijelaskan bahwa Firman Allah tidak pernah salah dan Allah tidak berfirman dengan tidak sengaja bahkan termasuk urutan dari Firman yang diucapkan Allah, tidak pernah salah dan tidak pernah tanpa maksud. Ada maksud ilahi ketika cerita Yehuda dan Tamar disisipkan diantara cerita Yusuf. Nama Yehuda tidak keluar dalam 4 pasal berikutnya. Hanya kisah Yusuf yang diceritakan dalam kejadian 39, 40, 41, dan 42. Tidak dapat dijelaskan apa yang terjadi di masa itu dengan kehidupan Yehuda dan keluarganya. Tidak banyak juga catatan mengenai hal ini. Namun, satu hal yang pasti, ada proses pembentukan sehingga Yehuda yang “lama” telah dibaharui oleh Roh Allah sehingga ada sebuah kehidupan yang begitu kontras dengan hidupnya yang lama.

Nama Yehuda baru keluar lagi di dalam Kejadian 43. Ketika itu, keluarga Yakub telah pergi ke Mesir untuk membeli gandum. Namun, Simeon ditahan oleh Yusuf sebagai jaminan bahwa keluarga Yakub harus kembali lagi ke Mesir dengan membawa Benyamin. Karena Yusuf ingin melihat Benyamin yang adalah satu-satunya saudara yang lahir dari ibu yang sama dengan dia. Para anak-anak Yakub kembali dan menghadap Yakub dengan tertunduk lesu. Mereka tidak mengharapkan kejadian seperti ini. Mereka dituduh dan sekarang saudara mereka ditahan bahkan mereka juga harus membawa adik bungsu mereka. Continue reading “Pertobatan Yang Sejati”

6 Pertanyaan Yesus Kepada Murid-MuridNya Ini Bisa Kamu Renungkan

Yesus dan murid-muridNya berjalan bersama-sama selama kurang lebih 3.5 tahun. Di dalam perjalanan mereka, Yesus mengajarkan murid-muridNya secara khusus, mempersiapkan mereka untuk menjadi rasul yang membawa injil sampai ke ujung bumi. Alkitab mencatat beberapa percakapan antara Yesus dengan murid-muridNya dan beberapa kali Yesus bertanya kepada murid-muridNya. Dan bayangkan pertanyaan yang Yesus ajukan ini, Dia tanyakan kepadamu secara pribadi, apa jawabmu?

1. Mat 8:26  Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”
Continue reading “6 Pertanyaan Yesus Kepada Murid-MuridNya Ini Bisa Kamu Renungkan”

Pengakuan Yang Menyelamatkan

Ada satu hal di dalam cerita Yehuda yang begitu menarik. Musa dalam Kejadian 37 sedang menulis tentang Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya, bisa dikatakan Yusuf adalah tokoh utama dari beberapa pasal ke depan yang akan diceritakan dalam kitab kejadian. Demikian juga dengan Kejadian pasal 39 juga bercerita tentang Yusuf. Tapi ada satu pasal diantara kedua , yaitu Kejadian pasal 38 dan pasal itu bercerita tentang Yehuda. Mengapa ada kisah tentang Yehuda yang bercampur dengan kisah Yusuf? Salah satu metode penulisan alkitab adalah ditulis berdasarkan kronologi waktu. Dan seluruh tulisan Musa di kitab kejadian selalu konsisten, dituliskan berdasarkan urutan waktu. Jadi berdasarkan teori ini, dapat ditarik satu kesimpulan, yaitu apa yang terjadi di kejadian 38 adalah setelah kejadian Yusuf dijual ke Mesir dan kemungkinan kisah Yehuda dan Tamar dalam kejadian 38, parallel atau terjadi di waktu bersamaan dengan kisah Yusuf ketika di Mesir (Kejadian 39).  Jadi, bisa disimpulkan bahwa Yehuda memilih menyingkir dari keluarganya setelah ia menjual Yusuf dan tinggal bersama seorang Adulam bernama Hira (Kej 38:1). Tidak dijelaskan alasan Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya, dan tidak juga dijelaskan berapa lama Yehuda tinggal bersama Hira. Yang pasti, cukup lama sampai Yehuda memiliki 3 orang anak, bahkan anak pertamanya sudah menikah. Tidak banyak juga dijelaskan mengenai apa saja yang dilakukan Yehuda selama itu dan alkitab hanya mencatat satu kisah yang begitu penting, yaitu kisah mengenai Yehuda dan Tamar. Dan sama seperti kisah lain, kisah ini tidak dicatat karena seru atau kontroversial atau dramatis, tapi kisah ini dicatat karena ada hal yang ingin Tuhan sampaikan kepada manusia melalui kisah ini dan akan dibahas disini. Continue reading “Pengakuan Yang Menyelamatkan”

Yehuda: Menghakimi Adalah Kesombongan

Menghakimi Adalah Ciri Dari Kesombongan

Mat 7:1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

Dalam salah satu pengajaran Yesus di bukit, Ia memberikan sebuah nasihat yang sangat penting bagi para pendengarnya. Yaitu supaya tidak saling menghakimi. Menghakimi adalah salah satu ciri dari kesombongan. Orang yang suka menghakimi, sesungguhnya adalah orang yang sombong. Mengapa? Karena ketika menghakimi, sesungguhnya kita sedang merendahkan orang lain dan sambil menyatakan bahwa kita adalah orang yang paling benar dan orang lain salah. Itulah mengapa kelanjutan dari pengajaran Yesus, Ia mengatakan sebuah kalimat luar biasa:

 Mat 7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Menghakimi orang lain pada akhirnya tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Yehuda menghakimi Tamar, ketika ia mengatakan untuk membawa Tamar dan membakar Tamar ketika ia mendengar kabar bahwa Tamar hamil, ia menghakimi Tamar. Ia melihat selumbar di mata Tamar sedangkan balok di matanya sendiri tidak ia lihat. Karena akar dari kejadian Tamar melahirkan sesungguhnya adalah kesalahan Yehuda. Yehuda sedang ingin menunjukkan kepada Tamar bahwa Tamar bersalah dan ia adalah yang benar. Saya membayangkan ketika anak kedua Yehuda meninggal dan Yehuda begitu ragu untuk memberikan anak ketiganya kepada Tamar. Mungkin dalam hari-harinya, sambil terus menunda memberikan Syela kepada Tamar, mungkin Yehuda berpikir bagaimana agar pada akhirnya Syela tidak diberikan kepada Tamar, mungkin Yehuda menunggu kesempatan sampai terjadi sebuah peristiwa sehingga ia tidak perlu memberikan Syela kepada Tamar, dan akhirnya kesempatan itu datang, ketika kabar mengenai Tamar sedang hamil sampai kepada Yehuda, dengan segera Yehuda memutuskan untuk membakar Tamar. Akhirnya Yehuda mendapatkan kesempatan untuk mempersalahkan Tamar dan membunuh Tamar sehingga ia tidak perlu menyerahkan Syela kepada Tamar, mungkin di saat itu hatinya akhirnya bisa lega karena ia tidak perlu lagi memberikan Syela kepada Tamar karena sebentar lagi Tamar akan dibakar. Sungguh, seorang laki-laki yang egois dan mengejar keuntungan pribadi.

Ini membawa kita kepada sebuah perenungan pribadi, apakah kita masih sering menghakimi orang lain? Menghakimi itu berbeda dengan menegur. Menegur itu sangat diperlukan di dalam jemaat, di dalam sebuah hubungan yang sehat, tetapi tidak dengan menghakimi. Di muka, keduanya terlihat sama, tetapi ada perbedaan di dalam hati. Seseorang yang menegur, di dalam hatinya dipenuhi dengan kasih akan orang yang ditegur. Orang ini memiliki kerinduan yang besar supaya yang ditegur bisa bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Tapi seseorang yang menghakimi, di dalam hatinya penuh dengan kesombongan, ingin menunjukkan kepada orang yang dihakimi bahwa ia salah ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih superior daripada orang yang dihakimi. Itulah yang dilakukan oleh para ahli taurat dan orang farisi, mereka tidak menegur, mereka menghakimi. Oleh karena itu, Yesus memperingatkan mereka dengan tegas supaya mereka tidak lagi menghakimi. Dunia dipenuhi dengan orang-orang yang suka menghakimi, coba saja post satu foto orang yang pernah menjadi bandar narkoba, maka dengan segera, ratusan, ribuan komen yang penuh dengan penghakiman akan kalian baca dengan segera. “Bunuh saja orang itu.” “Hukum mati saja.” “Ia tidak layak hidup.” dan sebagainya. Itu adalah konsumsi sehari-hari dari para pengguna media sosial dan percaya atau tidak itulah yang membentuk generasi masa kini menjadi generasi yang egois dan saling menghakimi satu sama lain, merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar.

tips-mendidik-anak-yang-nakal
Gambar 1. Menghakimi Orang Lain

 

Menghakimi orang lain bersumber dari kesombongan dan berakhir kepada kesombongan. Pada akhirnya hal ini akan membentuk sebuah aliran pengakuan diri. Ilustrasi di samping menggambarkan kondisi sesungguhnya dari anak-anak muda di zaman sekarang. Ketika pengakuan diri pada akhirnya memberikan kepuasan tersendiri kepada kita. Tidak ada yang salah dengan tombol like, tetapi ketika itu yang digunakan untuk mengukur diri kita, itu menjadi hal yang salah. Ketika itu menjadi konsumsi kepuasan pribadi kita, maka itu menjadi hal yang salah. Menghakimi, merendahkan orang lain, merasa lebih superior dari orang lain, itulah akar dari dosa. Kesombongan selalu berakhir dengan kesombongan dan selalu berakhir dengan tragis. Tidak pernah ada cerita mengenai kesombongan yang berakhir dengan indah, semua kisah kesombongan pada akhirnya berakhir dengan tragis. Dan jika sampai sekarang anda masih suka menghakimi orang lain, anda perlu mengambil waktu sendiri untuk merenungkan dan menyelidiki hati anda, serta berbalik kepada Allah.

Kesombongan yang bersumber dari keberhasilan
John Alexander Dowie adalah seorang rasul kesembuhan, salah satu pelopor pelayanan kesembuhan, seseorang yang dipakai begitu luar biasa oleh Tuhan. Ribuan jemaat disembuhkan melalui pelayanannya, seorang yang sangat peka dengan suara Tuhan. Ada satu masa dimana John Alexander Dowie bertemu dengan Maria Woodworth-Etter, seorang pelayan kesembuhan, tetapi ketika mereka bertemu, mereka bukannya bekerjasama, tetapi yang ada adalah konflik dan pertentangan satu sama lain. Keduanya merasa bahwa metodenya yang paling tepat, keduanya tidak ingin disalahkan. Bahkan Dowie beberapa kali menyerang Etter pada saat berkhotbah. Pada akhir pelayanan kerasulannya, Dowie tidak melakukan tugas sebagai seorang rasul, melainkan dengan dasar popularitas dan koneksi yang ada, Dowie membangun sebuah kota dimana dia mengangkat dirinya sebagai pemimpin kota tersebut. Tidak ada lagi pelayanan kesembuhan, Dowie terlalu sibuk mengurus kotanya. Bahkan di akhir hidupnya, Dowie mengatakan klaim bahwa dirinya adalah Elia. Dowie bahkan menggunakan jubah yang menandakan bahwa dirinya adalah jendral utama dari kota yang ia dirikan. Pada akhirnya, kota yang didirikan Dowie mengalami kebangkrutan. Dowie melarikan diri dengan pindah ke kota lain, tetapi orang-orang mulai tidak mempercayai Dowie. Dowie pada akhirnya pulang ke rumah dan menghabiskan sisa hidupnya di rumah. Dalam salah satu kalimatnya, Dowie pada akhirnya mengetahui kesalahan yang telah ia perbuat. Dowie berkata,”Menjadi seorang rasul, pertanyaan utamanya bukanlah resiko yang tinggi, tetapi mengenai bagaimana menjadi cukup rendah (rendah hati). Saya tidak berpikir bahwa saya telah mencapai kedalamanan yang cukup untuk sebuah kerendahatian yang sejati, penghinaan yang sejati, dan penyangkalan diri yang sejati untuk sebuah jabatan tinggi dari seorang rasul.”2

dowie
Gambar 2. John Alexander Dowie

Sebuah pelajaran berharga tentang kesombongan yang pada akhirnya menghancurkan hidup dan pelayanan yang telah dibangun puluhan tahun. Tidak ada dosa lain yang lebih mengerikan selain dosa kesombongan. Serohani apapun orang itu, seluar biasa apapun pelayanannya, ketika dosa kesombongan masuk ke dalam hatinya, sesungguhnya itu adalah awal mula kehancuran. Selain Alexander Dowie, ada begitu banyak kisah hamba Tuhan, orang-orang sukses, bahkan tokoh-tokoh di dalam alkitab yang hidupnya mengalami kehancuran oleh karena dosa kesombongan yang masuk ke dalam hati mereka. Contoh sederhana dari kesombongan yang menghancurkan adalah kisah mengenai tenggelamnya kapal Titanic.

Titanic adalah perlambang dari kesombongan. Bahkan dalam sebuah wawancara, seorang awak kapal berkata “Bahkan Tuhan tidak akan mampu menenggelamkan kapal ini.” Pada saat kapal Titanic menabrak gunung es, timbul sentakan yang sempat menghentikan pesta di kapal itu. Sesaat kemudian, para penumpang melanjutkan pestanya. Tidak ada satupun yang menyangka bahwa kapal ini akan tenggelam. Titanic tidak memiliki jumlah sekoci yang cukup untuk semua penumpangnya. Bahkan para awak kapal titanic tidak pernah melakukan latihan penyelamatan penumpang. Dan pada akhirnya, semua kesombongan tersebut harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Kesombongan tidak akan pernah berakhir dengan kemenangan. Kesombongan hanya akan berakhir pada kehancuran hidup. Rick Joyner pernah menulis,”Kesombongan dan/atau rasa puas diri dapat mengarah kepada tragedi di dalam setiap usaha manusia.”3

Satu kisah terakhir yang akan diceritakan pada bagian ini adalah seorang tokoh alkitab luar biasa, yang hidup dekat dengan Allah. Seseorang yang berkenan di hati Allah. Tetapi jatuh ke dalam suatu kesalahan yang membuat kehancuran pada rakyatnya. Ya, kesombongan di dalam hati Daud, membuat rakyatnya harus mengalami kehancuran.

 1 Taw 21:2 Lalu berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada para pemuka rakyat: “Pergilah, hitunglah orang Israel dari Bersyeba sampai Dan, dan bawalah hasilnya kepadaku, supaya aku tahu jumlah mereka.”
1 Taw 21:3 Lalu berkatalah Yoab: “Kiranya TUHAN menambahi rakyat-Nya seratus kali lipat dari pada yang ada sekarang. Ya tuanku raja, bukankah mereka sekalian, hamba-hamba tuanku? Mengapa tuanku menuntut hal ini? Mengapa orang Israel harus menanggung kesalahan oleh karena hal itu?”
1 Taw 21:4 Namun titah raja itu terpaksa diikuti oleh Yoab, maka pergilah Yoab menjelajahi seluruh Israel, kemudian kembali ke Yerusalem.
1 Taw 21:7 Tetapi hal itu jahat di mata Allah, sebab itu dihajar-Nya orang Israel.
1 Taw 21:8 Lalu berkatalah Daud kepada Allah: “Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.”

Tidak ada yang salah dengan menghitung jumlah orang Israel. Tetapi ada sesuatu yang salah di dalam hati Daud. Itu adalah kesombongan hati. Daud ingin melihat seberapa megah kerajaannya. Ia ingin mengetahui seberapa hebat dirinya. Jawaban Yoab sangat tepat, tetapi Daud tidak puas atas jawaban tersebut dan ia tetap ingin memegahkan diri di atas keberhasilan pemerintahannya. Namun jelas sekali bahwa Tuhan menentang hal tersebut. Tuhan mendatangkan kerusakan sebagai akibat kesombongan yang dilakukan oleh Daud. Pada akhirnya kesombongan hati Daud harus dibayar dengan meninggalnya 70 ribu orang rakyatnya (1 Taw 21:14). Namun, pada akhirnya Daud bertobat dan Tuhan berkenan atas hidup Daud. Satu hal yang kita pelajari dari ketiga ilustrasi di atas adalah bahwa pada akhirnya kesombongan akan menghancurkan hidup kita.

Teladan Kerendahan Hati Yesus
Tuhan Yesus, datang dengan membawa jubah kerendahan hati. Dalam salah satu pengajaran-Nya, Ia meminta murid-murid-Nya, para pendengar-Nya untuk mengikuti teladan hidup-Nya dan belajar dari Dia. Apa yang diminta? Kelemah lembutan dan kerendahan hati (Mat 11:29). Itu adalah dua sifat utama dari Yesus yang Ia ingin agar semua pengikut-Nya belajar dari-Nya. Ia tidak mengatakan bahwa belajarlah pada-Ku karena aku ini disiplin atau pekerja keras atau rajin atau tekun atau sifat-sifat baik lainnya. Firman Tuhan mencatat bahwa yang Yesus ingin agar murid-murid-Nya belajar dari Dia adalah kelemah lembutan dan kerendahan hati, bukan yang lainnya. Sama seperti dosa kesombongan dimulai dari surga (Lucifer), maka kerendahan hati juga dimulai dari surga. Yaitu, ketika Tuhan Yesus mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba. Sepanjang pelayanan Yesus, Ia selalu mengajarkan murid-murid-Nya untuk rendah hati. Dan bukan hanya mengajar, Yesus memberikan teladan kepada murid-murid-Nya. Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:1-11), dan bentuk kerendahan hati yang terbesar adalah ketika di Taman Getsemani, Yesus tidak memaksakan kehendak-Nya kepada Bapa, Ia mengosongkan diri-Nya dan taat kepada perintah Bapa (Fil 2:5-8). Tidak ada contoh kerendahan hati yang lebih besar daripada yang telah dilakukan oleh Yesus. Andrew Murray mengatakan dengan sangat baik mengenai hal ini “Christ is the humility of God embodied in human nature; the Eternal Love humbling itself, clothing itself in the garb of meekness and gentleness, to win and serve and save us. As the love and condescension of God makes Him the benefactor and helper and servant of all, so Jesus of necessity was the Incarnate Humility..” 4

washing_feet
Gambar 3. Yesus Membasuh Kaki Murid-MuridNya

Tidak ada teladan yang lebih baik untuk belajar kerendahan hati selain Yesus. Dan tidak ada cara yang lebih baik untuk mencapai kerendahan hati selain terus memandang kepada Yesus. Sepanjang pelayanan Yesus, Ia tidak pernah menolak orang yang datang dengan tersungkur kepada-Nya. Ia mengasihi mereka yang datang dengan penuh kerendahan hati kepada Yesus. Sebaliknya, orang-orang Farisi dan ahli taurat yang datang kepada Yesus dengan mengenakan jubah kesombongan, tidak pernah mendapat bagian bersama-sama dengan Yesus. Jika hati kita dipenuhi dengan kesombongan, merasa mengetahui banyak hal, merasa hidup kita tidak membutuhkan Tuhan, merasa bahwa kita orang yang mampu menjalani hidup tanpa Tuhan, maka bersiaplah, karena ganjaran kesombongan akan segera datang ke hidup kita. Namun jika hati kita dipenuhi dengan kerendahan hati, begitu berserah dan percaya kepada Tuhan, maka karunia dari Tuhan pasti akan Dia curahkan melimpah dalam hidup kita.

Jadi, seperti itulah Yehuda. Seorang laki-laki yang dipenuhi dengan kesombongan, seorang laki-laki yang begitu egois. Seorang yang merasa dirinya adalah yang paling benar. Main hakim sendiri. Bahkan jika kita lihat perikop di atas, Yehuda bahkan meminta temannya untuk mengantarkan anak kambing. Mengapa bukan ia sendiri yang mengantar anak kambing? Mengapa temannya yang bahkan itu adalah teman dimana ia menumpang disana. Jika digambarkan, itu seperti kita menumpang di rumah seorang kawan, kemudian kita meminta kawan kita pergi kesini, kesana, untuk memenuhi kebutuhan kita. Ya, tidak diragukan lagi bahwa Yehuda adalah seseorang yang hatinya dipenuhi dengan kesombongan dan keegoisan. Namun, orang yang seperti ini pada akhirnya dipakai Tuhan secara luar biasa menjadi bapa leluhur dari Daud bahkan dari Tuhan kita, Yesus Kristus. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Yehuda? Apa yang ia alami? Cerita setelah ini akan memberikan gambaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan Yehuda.

Pembahasan mengenai kerendahan hati dan kesombongan akan saya tutup dengan satu ayat:

1 Pet 5:5b “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Sumber:
2. Robert Liardon. God’s General: Why They Succeeded and Why Some Fail. Page 63.
3. Rick Joyner. Kepemimpinan: Kekuatan dari Hidup yang Kreatif. Nafiri Gabriel: 2005. Hal 75.
4. Andrew Murray. Humility (Old Tappan, NJ: Fleming H. Revell, nd). Page 9.

Gambar 1. http://superwalikelas.besaba.com/wp-content/uploads/2014/04/Tips-Mendidik-Anak-Yang-Nakal.jpg
Gambar 2. http://www.zionhs.com/images/dowie.jpg
Gambar 3. https://sangsabda.files.wordpress.com/2014/04/washing_feet.jpg

My Name Is…

Kata orang, nama adalah doa. Tapi ada juga yang bilang kalo percaya kalimat itu, berarti percaya kalo koko crunch terjadi karena ada pesawat bawa cokelat yang tumpah ke ladang gandum. Itu jadi sebuah istilah yang tidak berlaku lagi di zaman sekarang. Kata orang, udah ketinggalan zaman, sekarang kalo ngasih nama anak, yang keren pokoknya dan bikin kegantengan atau kecantikan anak tersebut naik 50%. Beberapa waktu yang lalu ada berita heboh karena ada orang yang namanya tuhan, dan saiton. Well, kalo pake prinsip bahwa nama adalah doa, sepertinya agak berbahaya juga nama-nama yang seperti ini.

Tapi kalo gw pribadi cukup percaya sih kalau sebenernya nama itu adalah doa. Salah satu alasan gw percaya adalah karena nama gw keren. Sebenernya nama gw pasaran sih, coba aja googling, ada banyak banget yang namanya Stefanus, ada banyak yang namanya Setiawan, bahkan ada banyak yang namanya Stefanus Setiawan, sama persis, hanya nomor KTP lah yang membedakan kami. Continue reading “My Name Is…”