Sang Penjual Mutiara

Alkisah di sebuah negeri yang jauh, hiduplah seorang pemuda yang kaya raya. Pemuda tersebut adalah orang terkaya di daerah tersebut, pemuda tersebut seorang pedagang, begitu berhasil dalam bisnis yang dikerjakannya. Tidak ada lagi yang ia kejar dalam hidup ini. Hidupnya sudah cukup, bahkan berlimpah. Suatu hari, pemuda tersebut sedang berjalan-jalan di pasar, dan begitu kaget karena dalam perjalanannya tersebut ia menemukan sebuah mutiara yang begitu indah. Tatapannya tajam menatap mutiara tersebut, dan dengan penuh antusias ia menanyakan kepada sang penjual, harga mutiara tersebut. Namun, mendengar harganya yang sangat mahal membuat pemuda ini harus menjual segala miliknya untuk mendapatkan mutiara tersebut. Tetapi, keindahan mutiara ini sudah begitu menghipnotis pemuda ini sehingga ia pulang ke rumah, dia menjual semua aset yang ia miliki, dan kembali ke pasar untuk membeli mutiara tersebut. Kini, ia tidak lagi memiliki apapun selain mutiara tersebut.

Kisah ini adalah sebuah perumpamaan yang cukup familiar di telinga kita. Ketika sesuatu yang begitu indah ada di hadapan kita, kita rela mengeluarkan uang banyak, menghabiskan banyak waktu, untuk bisa memperoleh “mutiara” tersebut. Namun, pertanyaan yang perlu kita renungkan sebenarnya adalah, apakah mutiara dalam hidup kita? Firman Tuhan dengan jelas mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan, Kerajaan Allah, itulah yang seharusnya menjadi mutiara paling berharga untuk hidup kita yang untuk memperolehnya, kita rela dan dengan sukacita menjual segala sesuatu. Tapi apakah sungguh Tuhan telah menjadi mutiara atau sebenarnya Tuhan hanyalah penjual dari mutiara tersebut?

Pemuda tersebut kembali dengan sukacita. Ia merasa telah memperoleh hal yang paling indah yang untuknya ia telah menjual segala miliknya. Namun, dalam perjalanannya ia tersadar akan satu hal. Siapa sebenarnya sang penjual mutiara ini? Pemuda tersebut akhirnya memutuskan untuk kembali ke pasar, mencari sang penjual mutiara. Ia bertemu dengan penjual mutiara tersebut, dan dengan penuh syukur ia berterima kasih karena telah menjual mutiara tersebut. Sang penjual mutiara telah menjadi jalan supaya sang pemuda bertemu dengan mutiara tersebut.

Siapakah Tuhan di hidupmu? Apakah Ia adalah mutiara dalam hidupmu? Ataukah ia hanya penjual mutiara? Apakah jika hanya Tuhan yang ada di hidupmu dan tidak ada yang lainnya, kamu tetap bisa bersyukur dan bersukacita? Ataukah Tuhan hanya menjadi “perantara” yang membawamu untuk bisa mendapatkan mutiaramu? Dan di akhir, hanya ada kata “terima kasih” karena telah membawa mutiara tersebut dan memberikannya kepadamu. Apakah uang adalah mutiaramu? Apakah prestasi adalah mutiaramu? Apakah pernikahan dan keluarga yang harmonis adalah mutiaramu? Bagaimana jika itu semua berantakan? Adakah kamu tetap bersukacita di dalam Tuhan?

Sebuah ucapan syukur keluar dari mulut pemuda tersebut. Berkali-kali ia sampaikan rasa terima kasih karena telah mempertemukan dirinya dengan mutiara tersebut. Namun setelah itu, penjual tersebut tidak pernah dikenalnya dan tidak pernah diingatnya. Pemuda tersebut telah berbahagia dengan mutiaranya.

Gambaran pemuda ini seumpama kita. Berdoa dengan sungguh-sungguh, dekat dengan Tuhan bukan karena Tuhan berharga, namun karena meminta sesuatu. Berdoa meminta bisnis berhasil, berdoa meminta keluarga harmonis, berdoa meminta banyak hal. Dan ketika Tuhan menjawab, banyak yang meninggalkan Tuhan. Tuhan pada akhirnya hanyalah sang penjual mutiara yang pada akhirnya hanya mendapatkan “terima kasih” karena telah membawa mereka bertemu dengan mutiara tersebut dan dengan mudah dilupakan.

Doa saya dan kerinduan saya supaya Tuhan tidak menjadi sang penjual mutiara di hidup kita, tetapi Dialah mutiara yang berharga tersebut yang untuk-Nya kita rela untuk memberikan segala yang kita miliki supaya kita memperoleh Tuhan. Dan biarlah Tuhan menjadi satu-satunya kerinduan hati kita.

Mat 13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
Mat 13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

Pertanyaannya, jika Tuhan adalah mutiara kita, maka siapakah sang penjual mutiara?

God bless.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s