Beasiswa Dari Dia

Hari itu praktikum kuliah seperti biasa. Kegiatan berlangsung sama seperti hari-hari lainnya dan tidak ada yang spesial dihari itu, sampai siang itu, ketika sudah selesai dari lab, sebelum menuruni tangga laboratorium dasar fisika, HP berbunyi.

“Selamat siang, dengan Stefanus Setiawan? Saya dari Lembaga Kemahasiswaan ITB.”
“Iya, ini Stefanus. Ada apa Pak?”
“Stefanus tolong ke ruang LK untuk mengurus beasiswa sekarang.”
“Baik Pak.”

Saat itu saya berkuliah sebagai mahasiswa ITB semester 1, baru sekitar 3-4 bulan berkuliah di kampus Ganesha. Saya tidak pernah apply beasiswa, jadi itu telpon yang cukup mengejutkan. Dengan penuh tanda tanya, akhirnya saya berangkat ke LK untuk mendapat keterangan lebih lanjut mengenai pembicaraan singkat di telpon sebelumnya.

Sebelum lanjut, saya ingin sedikit bercerita mengenai kondisi saya waktu ditelpon. Saat itu uang bulanan saya dari orang tua cukup, tapi tidak lebih, bahkan lebih sering kurang. Seringkali saya kalau malam, beli lauk, kemudian dimakan di malam itu, dan dimakan juga besok pagi walaupun kadang makanan itu sedikit berbusa ketika dihangatkan kembali karena tidak ada kulkas, jadi berharap udara dingin kota Bandung bisa menjadi “kulkas” untuk makanan tersebut. Kemudian saya juga jarang sarapan karena untuk menekan biaya hidup. Saya bahkan sempat berdagang nasi kuning di kampus untuk tambahan uang, supaya saya bisa makan lebih enak. Supaya gak dibayangkan dengan terlalu ekstrim, saya gak pernah sampe pingsan karena kelaparan, dan gak pernah juga gak makan seharian karena gak ada uang, gak pernah sampe segitunya. Tapi intinya kondisi ekonomi keluarga kami saat itu lagi sulit. Koko saya masih kuliah, adik saya sekolah, dan bahkan di masa itu saya tidak punya laptop, jadi kalau mau mengerjakan tugas yang perlu laptop, saya pinjam laptop dari teman kosan. Nah, kurang lebih begitulah latar belakang ekonomi saya saat itu. Jadi, penawaran akan beasiswa ini adalah seperti sebuah mata air yang menyejukkan hati dan memberi harapan.

Singkat cerita, pihak LK menjelaskan bahwa saya mendapatkan beasiswa Bidik Misi. Saya diberikan sebuah formulir yang perlu diisi, serta daftar dokumen yang perlu dibawa dan cukup mengejutkan ternyata dokumen yang perlu dilengkapi begitu banyak. Mata saya berhenti ketika membaca satu surat yang perlu dibawa sebagai syarat. “Surat keterangan tidak mampu dari sekolah (SMA), dan dari RT.” Seketika itu saya bimbang. Saya sebelumnya dengan sukacita telah memberitahu orang tua saya bahwa saya mendapat beasiswa dan setelah membaca keterangan tersebut, beberapa hari setelah saya galau dan mempertimbangkan baik-baik, saya menelpon kembali mama saya dan intinya saya sampaikan bahwa saya punya Tuhan yang kaya. Tuhan yang bawa saya masuk kuliah dan tidak ada alasan bahwa saya harus mengemis dan meminta-minta untuk saya kuliah. Tuhan kaya, Ia akan sediakan uang untuk saya kuliah. Mama saya setuju dengan hal itu. Berhentilah sudah perjuangan mendapat beasiswa. Tidak ada formulir yang diisi, tidak ada berkas yang dikumpulkan seiring dengan harapan mendapat beasiswa yang juga pupus. Tapi tidak dengan hati dan iman yang semakin percaya bahwa Allah yang menyediakan dan mencukupkan segala keperluan saya.

Semester satu berlalu, dan semester kedua datang. Beberapa minggu setelah kuliah berjalan, hari itu sebuah hal luar biasa terjadi, hal yang tidak pernah terpikirkan dan terbayang di pikiran saya. Hari itu, HP saya berbunyi dan suara yang sebelumnya pernah menelpon saya terdengar kembali. LK kembali menelpon saya dan memberikan satu kabar yang sangat mengejutkan. “Stefanus, kamu dapet beasiswa bidik misi, sekarang yang perlu kamu lakukan hanya membawa fotokopi buku tabungan.” Syarat yang sangat mudah, dan dengan wajah penuh sukacita dan ucapan syukur, saya fotokopi buku tabungan, dan dengan segera memberikan ke LK. Beasiswa yang tidak pernah saya urus, yang sudah dilupakan, yang tidak pernah dikumpulkan kembali formulirnya, tapi dengan ajaib, saya bisa mendapatkannya. Dan singkat cerita, akhirnya saya kuliah di ITB sampai lulus, tanpa mengeluarkan uang untuk bayar kuliah, bahkan beasiswa tersebut juga mencakup uang jajan selama 1 bulan dan dengan uang jajan ini, saya bisa makan makanan yang lebih sehat. Dan yang lebih luar biasa, uang kuliah semester pertama yang sebelumnya telah dibayar orang tua saya, dikembalikan uangnya oleh beasiswa tersebut.

jehovah-jireh
Gambar 1. God Is My Provider

Satu hal yang saya percaya adalah bahwa kalau Tuhan yang memulai pekerjaan baik atas hidup kita, Ia juga yang akan menyelesaikannya. Tuhan adalah Allah yang menyediakan, Dia Allah yang mencukupkan, Dia adalah Allah yang kaya. Pertanyaannya sederhana, apakah kita percaya bahwa Ia mampu mengerjakannya atas hidup kita? Pemazmur pernah menulis bahwa anak cucu orang benar tidak pernah meminta-minta roti. Mungkin pertolongan Tuhan gak langsung terjadi, “terlambat” menurut manusia, tapi sebenernya itu adalah waktu yang paling tepat. Rencana Tuhan digenapi pada waktu yang terbaik sesuai dengan timeline milik Tuhan.

Mzm 37:25 Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;

Sedikit cerita dibalik cerita beasiswa yang ajaib. Jadi sebenarnya angkatan 2010 (angkatan saya) adalah angkatan pertama dari program pemerintah, yaitu beasiswa bidik misi. Dan karena ini angkatan pertama, informasi mengenai beasiswa belum menyebar luas, jadi pendaftar juga masih sedikit, dibawah perkiraan. Jadi ITB sudah mendapat dana dari pemerintah untuk menyalurkan beasiswa, tapi penerima beasiswa masih sangat sedikit. Alhasil, ITB mencari orang-orang untuk menerima beasiswa, melihat dari data-data ekonomi yang pernah dikumpulkan dan akhirnya saya menjadi salah satu orang yang dicari oleh ITB untuk menerima beasiswa ini. Jika saya masuknya terlambat 1 tahun, katakan bahwa saya baru masuk di tahun 2011, peminat beasiswa ini sudah sangat banyak dan kemungkinan besar saya tidak akan pernah mendapatkannya. Jadi, tidak ada yang tidak tepat. Tuhan rancangkan dengan sangat detail, sangat tepat, Ia begitu teliti ketika merancangkan kehidupan kita, asalkan kita mau ikut rencana Tuhan dan berserah kepada kehendak-Nya.

Akhir kata, satu ayat ini teringat ketika kesaksian ini ditulis dan saya ingin membagikannya ke teman-teman:

1 Tes 5:24 Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.

Sumber:
Gambar 1. https://benziher.files.wordpress.com/2013/12/jehovah-jireh.png

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s