Pengakuan Yang Menyelamatkan

Ada satu hal di dalam cerita Yehuda yang begitu menarik. Musa dalam Kejadian 37 sedang menulis tentang Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya, bisa dikatakan Yusuf adalah tokoh utama dari beberapa pasal ke depan yang akan diceritakan dalam kitab kejadian. Demikian juga dengan Kejadian pasal 39 juga bercerita tentang Yusuf. Tapi ada satu pasal diantara kedua , yaitu Kejadian pasal 38 dan pasal itu bercerita tentang Yehuda. Mengapa ada kisah tentang Yehuda yang bercampur dengan kisah Yusuf? Salah satu metode penulisan alkitab adalah ditulis berdasarkan kronologi waktu. Dan seluruh tulisan Musa di kitab kejadian selalu konsisten, dituliskan berdasarkan urutan waktu. Jadi berdasarkan teori ini, dapat ditarik satu kesimpulan, yaitu apa yang terjadi di kejadian 38 adalah setelah kejadian Yusuf dijual ke Mesir dan kemungkinan kisah Yehuda dan Tamar dalam kejadian 38, parallel atau terjadi di waktu bersamaan dengan kisah Yusuf ketika di Mesir (Kejadian 39).  Jadi, bisa disimpulkan bahwa Yehuda memilih menyingkir dari keluarganya setelah ia menjual Yusuf dan tinggal bersama seorang Adulam bernama Hira (Kej 38:1). Tidak dijelaskan alasan Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya, dan tidak juga dijelaskan berapa lama Yehuda tinggal bersama Hira. Yang pasti, cukup lama sampai Yehuda memiliki 3 orang anak, bahkan anak pertamanya sudah menikah. Tidak banyak juga dijelaskan mengenai apa saja yang dilakukan Yehuda selama itu dan alkitab hanya mencatat satu kisah yang begitu penting, yaitu kisah mengenai Yehuda dan Tamar. Dan sama seperti kisah lain, kisah ini tidak dicatat karena seru atau kontroversial atau dramatis, tapi kisah ini dicatat karena ada hal yang ingin Tuhan sampaikan kepada manusia melalui kisah ini dan akan dibahas disini.

Setelah beberapa tulisan sebelumnya hanya memuat sisi negatif dari seorang Yehuda dan segala dosa yang telah ia perbuat, sepertinya pelanggaran yang telah ia lakukan begitu berat. Mulai dari menjual Yusuf, sampai dengan ia tidur dengan menantunya sendiri. Yehuda tidak menunjukkan hidup yang lebih baik bahkan setelah ia berkeluarga dan memiliki 3 orang anak, tidak ada tanda-tanda bahwa hidupnya menjadi lebih baik. Ia masih Yehuda yang sama, yang keras, yang dominan dan kasar, ia masih hidup dalam masa lalunya yang buruk. Bahkan setelah kejadian meninggalnya istri dan kedua anaknya, ia tidak juga bertobat dan berbalik kepada Tuhan, ia malah semakin menjadi-jadi. Suatu ketika Yehuda bertemu dengan perempuan sundal di dalam perjalanannya kembali dari pemakaman istrinya (Kej 38:12-16). Dan tanpa disangka ternyata perempuan sundal tersebut adalah menantunya sendiri, yaitu Tamar yang dengan sengaja menjebak Yehuda karena Yehuda tidak juga menepati janjinya kepada Tamar, yaitu memberikan Syela sesuai dengan hukum yang berlaku di masa itu.

Dan tiba-tiba ada kabar sampai di telinga Yehuda bahwa Tamar sudah mengandung. Dengan penuh amarah, Yehuda berkata untuk memanggil Tamar dan membakarnya (Kej 38:24). Tamar adalah wanita yang cerdas, karena saat itu belum ada test DNA, jadi tidak bisa dibuktikan ini bayi dari siapa. Sebelum Tamar dan Yehuda bersetubuh, Tamar meminta barang Yehuda sebagai jaminan bahwa Yehuda nantinya akan menebus barang-barangnya, karena saat itu Yehuda tidak membawa “uang” untuk membayar Tamar. Akhirnya, barang tersebut yang menjadi bukti bahwa bayi yang ada di dalam perut Tamar adalah bayi dari Yehuda. Tamar meminta orang datang kepada Yehuda, membawa barang tersebut, dan meletakannya di depan Yehuda.

Kej 38:25  Waktu dibawa, perempuan itu menyuruh orang kepada mertuanya mengatakan: “Dari laki-laki yang empunya barang-barang inilah aku mengandung.” Juga dikatakannya: “Periksalah, siapa yang empunya cap meterai serta kalung dan tongkat ini?”

Yehuda terdiam, dia kaget, mungkin ada perasaan marah karena dijebak oleh Tamar, hatinya begitu bergejolak, semua perasaan dan pikirannya campur aduk, sampai disana, keluar satu ekspresi hati yang menggambarkan semua yang ada di dalam pikirannya: perasaan bersalah.

Kej 38:26 Yehuda memeriksa barang-barang itu, lalu berkata: “Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar, karena memang aku tidak memberikan dia kepada Syela, anakku.” Dan ia tidak bersetubuh lagi dengan perempuan itu.

Yehuda berada di dalam suatu kondisi dimana ia tidak bisa lagi membenarkan dirinya. Tidak ada lagi pembelaan, tidak ada lagi pembenaran, ia salah dan Tamar yang benar. Ia tidak mengalami hal ini ketika menjual Yusuf, tidak ada perasaan bersalah. Juga tidak ada perasaan bersalah ketika Er dan Onan meninggal dunia, bahkan juga tidak ada perasaan bersalah ketika istrinya meninggal dunia. Namun Tuhan terus mengejar Yehuda, Ia tidak pernah menyerah. Hingga akhirnya Yehuda sampai kepada sebuah tingkat kerendahan hati yang cukup untuk Tuhan bekerja atas hidupnya dan mengubahkan hidupnya.

penyesalan
Gambar 1. Perasaan Bersalah

Suatu kali, Yesus mengajarkan kepada orang banyak bahwa Ia datang untuk berdosa, layaknya seorang tabib datang untuk orang yang sakit. Tidak ada orang sehat yang mencari tabib, hanya orang sakit yang mencari tabib.

Luk 5:31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;
Luk 5:32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

Demikianlah tidak akan ada pertobatan tanpa hati yang cukup rendah untuk mengaku bahwa dirinya adalah orang berdosa. Tanpa pengakuan akan dosa, tanpa penyesalan yang mendalam akan diri yang penuh dengan dosa, tidak akan ada pertobatan. Pertobatan yang sejati hanya akan keluar dari hati yang penuh dengan penyesalan, dari hati yang menyadari bahwa dirinya berdosa dan membutuhkan seorang penyelamat, tanpa hati yang demikian, tidak akan ada pertobatan dan kelahiran baru yang sejati. Itulah mengapa rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma menulis bahwa semakin banyak dosa, semakin berlimpah kasih karunia Allah. Artinya, semakin dalam kesadaran akan dosa yang membelenggu, dan semakin dalam kesadaran bahwa dosa yang begitu banyak tersebut telah diampuni oleh Tuhan, maka akan semakin banyak merasakan kasih karunia Allah.

Rom 5:20-21 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Tuhan Yesus menjelaskan hal ini dengan sebuah perumpamaan yang sangat bagus dan mudah untuk dimengerti.

Luk 7:41-43 “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.”

Sangat jelas bahwa orang yang berhutang lebih banyak adalah orang yang akan lebih mengasihi. Kesadaran akan banyaknya dosa dan dosa yang sebanyak itu telah diampuni oleh Tuhan, akan membawa kepada sebuah pertobatan yang sejati. Tanpa hal itu, tidak ada pertobatan karena Tuhan hanya datang kepada orang berdosa, Ia tidak datang kepada orang yang merasa hidupnya baik-baik saja. Alkitab mengatakan bahwa orang yang mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati yang akan menerima keselamatan (Rom 10:9). Joyce Meyer dalam bukunya mengatakan: Ingatlah selalu bahwa saat anda melakukan kesalahan, pengampunan dan pembasuhan dari Allah tersedia bagi mereka yang meminta.1

untitled4
Gambar 2. Pertobatan Kepada Tuhan

Yehuda mengalami hal ini, sepenggal kalimat yang diucapkannya mewakili seluruh isi hatinya, sebuah seruan bahwa dirinya adalah orang yang bersalah, orang yang berdosa, dan di titik ini, Tuhan mengubahkan hidupnya, Yehuda menjadi pribadi yang baru. Pada cerita selanjutnya tentang Yehuda, akan diceritakan bagaimana hidup Yehuda setelah transformasi yang dilakukan oleh Tuhan, hidupnya sungguh telah berubah.

Jika saat ini, cerita pertobatan Yehuda “menganggu” hati anda, maka beberapa hal ini dapat dilakukan:

  1. Ambil waktu tenang, renungkan hidupmu, semua dosa yang telah kamu lakukan, semua pelanggaran, masa lalu yang begitu gelap, renungkan semua hal tersebut.
  2. Setelah itu, sadarilah bahwa untuk semua kegelapan, semua dosa tersebut, Yesus Kristus telah mati untuk hidupmu, Ia rela tersalib supaya kamu bisa memiliki kehidupan bersama dengan Dia. Kasih karunia dan pengampunannya begitu besar atas hidupmu.
  3. Berdoalah supaya Tuhan Yesus masuk ke dalam hatimu, mengubahkan hidupmu, memberikan hati dan roh yang baru sehingga hidupmu bisa mengalami keselamatan dari Tuhan. Karena Tuhan sendiri yang berjanji bahwa Ia akan memberikan hati yang baru dan roh yang baru ke dalam batin kita (Yeh 36:26-27).

 

Sumber:
1. Meyer, Joyce. Sebuah Cara Baru Untuk Hidup. Hal 21
Gambar 1. http://catatanpinggir.com/wp-content/uploads/2015/05/penyesalan.jpg
Gambar 2. https://parokihkytegal.files.wordpress.com/2011/10/untitled4.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s