Pemuda Yang Mencari Keuntungan

Hanya Mengejar Uang Adalah Kesia-siaan

Perjalanan hidup Yehuda bukanlah sebuah perjalanan hidup yang mudah. Tidak ada yang bisa dipersalahkan atas hidup Yehuda. Tidak dengan dirinya sendiri, tidak dengan orang tuanya. Dosa adalah penyebab utama dari segala kehancuran yang dialami oleh manusia. Salah satu bagian dari hidup Yehuda menandakan bahwa dirinya adalah seorang pemuda yang suka mencari keuntungan.

Kej 37:20 Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!”
Kej 37:26 Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: “Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya?
Kej 37:27 Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita.” Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu.

Di dalam Kejadian 17 ayat 20, dituliskan bahwa saudara-saudara Yusuf sudah bersepakat untuk membunuh Yusuf. Tetapi dengan kehendak Allah, seorang Ismael lewat di dekat mereka dan Yehuda adalah satu-satunya orang yang berinisiatif untuk menjual Yusuf menjadi seorang budak. Yehuda memilih mencari keuntungan dari hidup saudaranya. Menjadi budak di masa itu sebenarnya lebih mengerikan daripada mati. Karena ketika seseorang menjadi budak, secara jiwa, orang tersebut sudah mati karena budak tidak boleh lagi memiliki kehendak bebas, hanya tubuh saja yang masih hidup. Seorang budak tidak memiliki harapan hidup.

slavedealer
Gambar 1. Ilustrasi Perdagangan Budak

Kata “untung” yang ada dalam ayat 26 dalam bahasa aslinya ditulis sebagai betsa’ dan kata ini sering digunakan di alkitab dan dapat diartikan sebagai “suap” (Kel 18:21, 1 Sam 8:3) atau bisa juga diartikan “laba” (Mzm 119:36). Jadi apa yang dilakukan oleh Yehuda sebenarnya bukan sekedar “menyingkirkan Yusuf” tapi ia ingin “mencari laba sambil menyingkirkan Yusuf”. Kalau membunuh Yusuf saja sudah kejam, adalah lebih kejam lagi mencari keuntungan sambil menyingkirkan Yusuf.

Kej 37:28 Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.

Yusuf dijual dengan harga dua puluh syikal perak. Itu harga yang pantas untuk seorang budak, mengingat usia Yusuf yang masih muda, uang dua puluh syikal perak itu mereka bagikan diantara mereka. Jika ingin melihat seberapa mahal Yusuf dijual, maka kita perlu menyelidiki hal ini. Pertama, satu syikal itu adalah 11.4 gram. Artinya, 20 syikal perak adalah 228 gram perak. Harga perak berdasarkan ANTAM tahun 2015 adalah sekitar 10 ribu rupiah per gram. Jika kita ambil harganya 10 ribu rupiah, maka 228 gram bernilai 2.280.000 rupiah. Dengan catatan bahwa ini adalah harga di zaman sekarang. Bahkan harga itu adalah harga yang sangat murah untuk zaman sekarang. Terlebih, uang 2.280.000 itu akan dibagi 9 sehingga masing-masing saudara Yusuf mendapatkan uang sekitar 253 ribu. Sebuah keuntungan yang sangat kecil. Namun untuk keuntungan sekecil itu, Yehuda tetap menjual Yusuf. Betapa tidak berharganya Yusuf di mata Yehuda dan betapa berharganya syikal itu di mata Yehuda. Jadi, itu adalah sejumlah uang yang sangat kecil. Bahkan di dalam bible commentary Gill dikatakan bahwa 20 syikal perak itu setara dengan 25 poundsterling. Hitungan mudah kita, jika 1 poundsterling seharga 20 ribu, maka harga jual Yusuf hanya 500 ribu rupiah. Jumlah yang sangat sedikit. Dan perlu diketahui bahwa sebenarnya, keluarga Yakub bukanlah keluarga yang miskin sehingga membutuhkan uang. Mereka adalah keluarga yang kaya raya, mereka bisa membeli bahan makanan dari Mesir dengan jumlah banyak. Mereka bukan keluarga miskin. Namun tetap saja, hati yang iri dan hati yang mencintai uang membawa Yehuda kepada satu tindakan yang tidak bisa diterima akal sehat.

1Ti 6:6  Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
1Ti 6:7  Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
1Ti 6:8  Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.
1Ti 6:9  Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
1Ti 6:10  Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Firman Tuhan berkata bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta akan uang. Bahkan Paulus mengajarkan, bahwa adalah lebih baik untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki, daripada mengejar harta terus menerus karena harta kita tidak akan pernah kita bawa ketika nanti meninggal dunia. Di ayat 9 dikatakan bahwa mereka yang ingin kaya jatuh ke dalam pencobaan. Bukan dikatakan bahwa mereka yang kaya, bukan, tetapi mereka yang ingin kaya, itu adalah sebuah ungkapan keserakahan. Orang yang serakah dan selalu tidak bisa bersyukur akan jatuh ke dalam pencobaan, bahkan akan tenggelam ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Dan dikatakan bahwa oleh karena uang, orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai duka. Kehidupan yang cinta uang bukanlah kehidupan yang berkenan di hati Allah. Uang bahkan memiliki porsi tersendiri di dalam alkitab. Bahkan, Tuhan Yesus dijual agar Yudas Iskariot memperoleh uang, bukan kekuasaan, bukan juga yang lain, tapi uang. Ini menggambarkan bahwa uang bisa menggantikan tempat Tuhan.

Mat 6:19  “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.
Mat 6:20  Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
Mat 6:21  Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Mat 6:22  Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;
Mat 6:23  jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
Mat 6:24  Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Dalam satu pengajarannya yang radikal, Tuhan Yesus mengajarkan para murid-Nya untuk mengumpulkan harta di sorga, bukan di bumi. Bahkan Tuhan Yesus membandingkan pengabdian kepada Tuhan dan pengabdian kepada Mamon. Artinya, mamon memiliki “kapasitas” sebagai Allah. Mengapa? Karena mamom memiliki sifat sama seperti Allah, yaitu mamon suka menguasai manusia. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa Mamon bukanlah uang (sebuah benda), tetapi adalah iblis, kuasa roh jahat yang mencengkram manusia dan menghamba manusia dengan memanfaatkan uang sebagai perantara.1 Hidup manusia bisa dikuasai oleh Tuhan, tapi bisa juga dikuasai oleh mamon. Jika kita mengizinkan hidup dikuasai oleh mamon, maka firman Tuhan katakan bahwa matamu akan menjadi gelap dan jahat, apa yang kita lakukan adalah kejahatan. Kita ingin memperoleh uang dengan cara apapun, asalkan perut terisi, semua masalah bisa selesai. Dan ini bukan hanya terjadi hari-hari ini saja. Sejak dahulu, persoalan mengenai uang selalu menjadi persoalan yang begitu mengerikan dan tidak sedikit orang yang meninggalkan Tuhan karena uang. Satu kasus terjadi yaitu pada masa kegelapan gereja, salah satu hal paling mengerikan yang dilakukan oleh gereja di masa itu adalah menjual surat indulgansi (surat penebusan dosa). Gereja di masa itu menukarkan keselamatan karena kasih karunia Allah menjadi keselamatan ketika anda bisa membayar untuk membeli surat indulgansi. Sebuah praktek yang sangat mengerikan di masa itu. Gereja yang mencari keuntungan dengan memanfaatkan posisinya sebagai gereja yang disegani oleh masyarakat.

Gereja dipenuhi dengan orang-orang yang mencari keuntungan. Semua orang senang ketika pengkhotbah akan berkhotbah mengenai kehidupan yang mewah, bebas dari kemiskinan, akan menjadi kaya, dan sebagainya. Coba bandingkan dengan jumlah jemaat yang akan senang ketika pengkhotbah berbicara mengenai pikul salib dan sangkal diri. Bahkan mungkin ini bukanlah khotbah yang populer di masa kini. Tidak ada yang salah dengan memiliki banyak harta. Puji Tuhan jika Tuhan percayakan banyak harta di hidup kita, kita perlu bersyukur atas pemberian-Nya. Tapi hal yang salah ketika harta itu menjadi pengejaran kita seumur hidup, bahkan kita menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang.

Pkh 5:10 Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.

prison-money
Gambar 2. Dipenjara Oleh ‘Uang’

Ada beberapa pertanyaan untuk direnungkan yang dapat menjadi tolak ukur apakah uang menjadi yang terutama di hidup ini ataukah Tuhan yang terutama.

  1. Dimana uangmu berada?
    Mat 6:21 mengatakan bahwa dimana hartamu berada, disitulah hatimu berada. Apakah setia dalam memberikan perpuluhan? Berapa banyak uang yang dimasukkan dalam kantong persembahan, bandingkan dengan uang yang kita peroleh. Layakkah Tuhan menerima “sisa” dari uang kita? Selama ini digunakan untuk apa uang tersebut? Apakah hanya untuk kepuasan diri sendiri? 
  1. Jika ada pilihan antara uang dan Tuhan, mana yang akan dipilih?
    Sederhana, jika karena mengejar harta, pelayanan harus ditinggalkan, ada baiknya saat ini bertobat dan kembali kepada Tuhan.  Apakah untuk mengejar karir yang sukses, pengabdian kepada Tuhan harus dihentikan? Apakah iman harus dijual supaya bisa memperoleh karir yang lebih baik sehingga bisa mendapatkan lebih banyak uang? 1 Tim 6:10 menjelaskan bahwa ada banyak orang yang meninggalkan imannya karena uang.
    Derek Prince pernah mengatakan dalam salah satu bukunya: Sikapmu terhadap uang sesungguhnya menunjukkan sikapmu terhadap Tuhan.2
    Karena sesuai prinsip Firman Tuhan, seseorang yang begitu habis untuk mencari dan mengumpulkan harta, tidak akan mungkin begitu habis untuk mengikut Tuhan, manusia tidak dirancang untuk mengabdi kepada dua tuan.
  1. Apakah anda takut akan kemiskinan?
    Tepat setelah Yesus memberikan peringatan untuk tidak mengabdi kepada mamon, kalimat selanjutnya yang Yesus katakan dan dicatat dalam Matius 6:25 adalah bahwa kita tidak perlu kuatir tentang hidup, apa yang dimakan, diminum, dan apa yang dipakai. Ada satu jaminan bahwa ketika kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, semuanya akan ditambahkan kepada kita (Mat 6:33). Jadi, orang yang hatinya mengabdi kepada Tuhan, tidak akan takut kepada kemiskinan, karena mereka mengerti bahwa Tuhan yang menjaga hidup mereka. Sebaliknya, orang yang mencintai uang, akan begitu takut akan kemiskinan. Untuk mereka, kemiskinan adalah bencana yang begitu mengerikan.
  1. Apa yang membuatmu bersukacita? Memiliki banyak uang atau karena “memiliki” Tuhan?
    Suatu kali, seorang pemuda datang kepada Yesus dan ia mengatakan bahwa ia ingin memperoleh hidup yang kekal (Mat 19:16), Yesus mengatakan untuk melakukan segala perintah Allah. Pemuda itu sudah melakukan semuanya (Mat 19:20). Hingga ada satu permintaan Yesus kepada pemuda itu:

    Mat 19:21  Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

    Cerita selanjutnya dikatakan bahwa pemuda itu pergi dengan sedih sebab banyak hartanya (Mat 19:22). Ada satu hal yang tidak bisa dilepaskan oleh pemuda itu, yaitu hartanya yang banyak. Harta menjadi hal yang lebih penting bagi pemuda itu daripada hidup yang kekal karena pemuda tersebut lebih rela kehilangan hidup kekal daripada kehilangan harta.

  1. Apakah anda suka memberi? Bahkan jika Tuhan meminta seluruh hartamu untuk diberikan pada Tuhan, apakah anda siap?
    Salah satu latihan terbaik untuk membuat hati kita tidak melekat dengan uang adalah dengan memberi. Memberilah dengan lebih banyak, mulailah merasakan hati yang penuh sukacita dan damai ketika memberi.

    Kis 20:35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.

    Ams 3:9 Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,

    Manusia suka sekali menerima tapi berat untuk memberi. Tuhan Yesus mengajarkan satu pandangan yang berbeda, yaitu bahwa kita seharusnya lebih berbahagia memberi daripada menerima. Salah satu ciri orang yang mencintai uang adalah ketika sukar sekali baginya untuk memberi, terutama apabila pemberian tersebut tidak memberikan keuntungan apa-apa untuk dirinya sendiri.

Banyak bentuk pemberian yang bisa kita lakukan, salah satu yang bisa menjadi tolak ukur kita adalah pemberian perpuluhan. Apakah kita rutin dalam memberikan perpuluhan? Karena Tuhan sendiri yang berjanji akan memberikan berkat kepada orang yang setia memberi perpuluhan (Mal 3:11-12). Oswald J. Smith, seorang hamba Tuhan dari Toronto, Kanada pernah bercerita selama masa kesusahan yang besar, banyak jemaatnya yang datang dan meminta bantuan finansial dari gereja. Ia memberikan banyak bantuan kepada mereka tapi kemudian ia memeriksa apakah orang-orang ini setia dalam memberikan perpuluhan atau tidak dan ia menemukan bahwa orang-orang yang meminta bantuan adalah orang-orang yang tidak setia memberi perpuluhan. Ia mengambil kesimpulan bahwa Tuhan menjaga setiap orang yang setia memberikan perpuluhan.3

Itulah beberapa pertanyaan yang bisa direnungkan. Masih ada banyak pertanyaan lain yang bisa kita renungkan untuk melihat apakah hati kita terikat pada uang atau tidak. Namun diatas semuanya itu, kita perlu bersyukur atas setiap pemberian Tuhan dan mencukupkan diri dengan apa yang Ia sediakan untuk hidup kita. Dan biarlah Tuhan Yesus menjadi harta yang terindah untuk hidup kita.

 

poor-widow-tithe
Gambar 3. Janda Miskin Yang Memberikan Persembahan

Ibr 13:5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Buat yang belum baca cerita sebelumnya dan ingin mengerti tentang kehidupan Yehuda, bisa klik di cerita 1 dan cerita 2.

Sumber:
http://analisatoday.com/harga-logam-mulia-perak
1. Prince, Derek. “God’s Plan For Your Money”. Hal. 9
2. Prince, Derek. “God’s Plan For Your Money”. Hal. 9
3. Prince, Derek. “God’s Plan For Your Money”. Hal. 35

Gambar 1. http://www.brh.org.uk/site/wp-content/uploads/2012/06/slavedealer.jpg
Gambar 2. http://www.thesleuthjournal.com/wp-content/uploads/2013/02/prison-money.jpg
Gambar 3. http://cdn.h3sean.com/wp-content/uploads/2013/11/Poor-Widow-Tithe.jpg

Advertisements

One thought on “Pemuda Yang Mencari Keuntungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s