Pengakuan Yang Menyelamatkan

Ada satu hal di dalam cerita Yehuda yang begitu menarik. Musa dalam Kejadian 37 sedang menulis tentang Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya, bisa dikatakan Yusuf adalah tokoh utama dari beberapa pasal ke depan yang akan diceritakan dalam kitab kejadian. Demikian juga dengan Kejadian pasal 39 juga bercerita tentang Yusuf. Tapi ada satu pasal diantara kedua , yaitu Kejadian pasal 38 dan pasal itu bercerita tentang Yehuda. Mengapa ada kisah tentang Yehuda yang bercampur dengan kisah Yusuf? Salah satu metode penulisan alkitab adalah ditulis berdasarkan kronologi waktu. Dan seluruh tulisan Musa di kitab kejadian selalu konsisten, dituliskan berdasarkan urutan waktu. Jadi berdasarkan teori ini, dapat ditarik satu kesimpulan, yaitu apa yang terjadi di kejadian 38 adalah setelah kejadian Yusuf dijual ke Mesir dan kemungkinan kisah Yehuda dan Tamar dalam kejadian 38, parallel atau terjadi di waktu bersamaan dengan kisah Yusuf ketika di Mesir (Kejadian 39).  Jadi, bisa disimpulkan bahwa Yehuda memilih menyingkir dari keluarganya setelah ia menjual Yusuf dan tinggal bersama seorang Adulam bernama Hira (Kej 38:1). Tidak dijelaskan alasan Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya, dan tidak juga dijelaskan berapa lama Yehuda tinggal bersama Hira. Yang pasti, cukup lama sampai Yehuda memiliki 3 orang anak, bahkan anak pertamanya sudah menikah. Tidak banyak juga dijelaskan mengenai apa saja yang dilakukan Yehuda selama itu dan alkitab hanya mencatat satu kisah yang begitu penting, yaitu kisah mengenai Yehuda dan Tamar. Dan sama seperti kisah lain, kisah ini tidak dicatat karena seru atau kontroversial atau dramatis, tapi kisah ini dicatat karena ada hal yang ingin Tuhan sampaikan kepada manusia melalui kisah ini dan akan dibahas disini. Continue reading “Pengakuan Yang Menyelamatkan”

Advertisements

Yehuda: Menghakimi Adalah Kesombongan

Menghakimi Adalah Ciri Dari Kesombongan

Mat 7:1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

Dalam salah satu pengajaran Yesus di bukit, Ia memberikan sebuah nasihat yang sangat penting bagi para pendengarnya. Yaitu supaya tidak saling menghakimi. Menghakimi adalah salah satu ciri dari kesombongan. Orang yang suka menghakimi, sesungguhnya adalah orang yang sombong. Mengapa? Karena ketika menghakimi, sesungguhnya kita sedang merendahkan orang lain dan sambil menyatakan bahwa kita adalah orang yang paling benar dan orang lain salah. Itulah mengapa kelanjutan dari pengajaran Yesus, Ia mengatakan sebuah kalimat luar biasa:

 Mat 7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Menghakimi orang lain pada akhirnya tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Yehuda menghakimi Tamar, ketika ia mengatakan untuk membawa Tamar dan membakar Tamar ketika ia mendengar kabar bahwa Tamar hamil, ia menghakimi Tamar. Ia melihat selumbar di mata Tamar sedangkan balok di matanya sendiri tidak ia lihat. Karena akar dari kejadian Tamar melahirkan sesungguhnya adalah kesalahan Yehuda. Yehuda sedang ingin menunjukkan kepada Tamar bahwa Tamar bersalah dan ia adalah yang benar. Saya membayangkan ketika anak kedua Yehuda meninggal dan Yehuda begitu ragu untuk memberikan anak ketiganya kepada Tamar. Mungkin dalam hari-harinya, sambil terus menunda memberikan Syela kepada Tamar, mungkin Yehuda berpikir bagaimana agar pada akhirnya Syela tidak diberikan kepada Tamar, mungkin Yehuda menunggu kesempatan sampai terjadi sebuah peristiwa sehingga ia tidak perlu memberikan Syela kepada Tamar, dan akhirnya kesempatan itu datang, ketika kabar mengenai Tamar sedang hamil sampai kepada Yehuda, dengan segera Yehuda memutuskan untuk membakar Tamar. Akhirnya Yehuda mendapatkan kesempatan untuk mempersalahkan Tamar dan membunuh Tamar sehingga ia tidak perlu menyerahkan Syela kepada Tamar, mungkin di saat itu hatinya akhirnya bisa lega karena ia tidak perlu lagi memberikan Syela kepada Tamar karena sebentar lagi Tamar akan dibakar. Sungguh, seorang laki-laki yang egois dan mengejar keuntungan pribadi.

Ini membawa kita kepada sebuah perenungan pribadi, apakah kita masih sering menghakimi orang lain? Menghakimi itu berbeda dengan menegur. Menegur itu sangat diperlukan di dalam jemaat, di dalam sebuah hubungan yang sehat, tetapi tidak dengan menghakimi. Di muka, keduanya terlihat sama, tetapi ada perbedaan di dalam hati. Seseorang yang menegur, di dalam hatinya dipenuhi dengan kasih akan orang yang ditegur. Orang ini memiliki kerinduan yang besar supaya yang ditegur bisa bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Tapi seseorang yang menghakimi, di dalam hatinya penuh dengan kesombongan, ingin menunjukkan kepada orang yang dihakimi bahwa ia salah ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih superior daripada orang yang dihakimi. Itulah yang dilakukan oleh para ahli taurat dan orang farisi, mereka tidak menegur, mereka menghakimi. Oleh karena itu, Yesus memperingatkan mereka dengan tegas supaya mereka tidak lagi menghakimi. Dunia dipenuhi dengan orang-orang yang suka menghakimi, coba saja post satu foto orang yang pernah menjadi bandar narkoba, maka dengan segera, ratusan, ribuan komen yang penuh dengan penghakiman akan kalian baca dengan segera. “Bunuh saja orang itu.” “Hukum mati saja.” “Ia tidak layak hidup.” dan sebagainya. Itu adalah konsumsi sehari-hari dari para pengguna media sosial dan percaya atau tidak itulah yang membentuk generasi masa kini menjadi generasi yang egois dan saling menghakimi satu sama lain, merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar.

tips-mendidik-anak-yang-nakal
Gambar 1. Menghakimi Orang Lain

 

Menghakimi orang lain bersumber dari kesombongan dan berakhir kepada kesombongan. Pada akhirnya hal ini akan membentuk sebuah aliran pengakuan diri. Ilustrasi di samping menggambarkan kondisi sesungguhnya dari anak-anak muda di zaman sekarang. Ketika pengakuan diri pada akhirnya memberikan kepuasan tersendiri kepada kita. Tidak ada yang salah dengan tombol like, tetapi ketika itu yang digunakan untuk mengukur diri kita, itu menjadi hal yang salah. Ketika itu menjadi konsumsi kepuasan pribadi kita, maka itu menjadi hal yang salah. Menghakimi, merendahkan orang lain, merasa lebih superior dari orang lain, itulah akar dari dosa. Kesombongan selalu berakhir dengan kesombongan dan selalu berakhir dengan tragis. Tidak pernah ada cerita mengenai kesombongan yang berakhir dengan indah, semua kisah kesombongan pada akhirnya berakhir dengan tragis. Dan jika sampai sekarang anda masih suka menghakimi orang lain, anda perlu mengambil waktu sendiri untuk merenungkan dan menyelidiki hati anda, serta berbalik kepada Allah.

Kesombongan yang bersumber dari keberhasilan
John Alexander Dowie adalah seorang rasul kesembuhan, salah satu pelopor pelayanan kesembuhan, seseorang yang dipakai begitu luar biasa oleh Tuhan. Ribuan jemaat disembuhkan melalui pelayanannya, seorang yang sangat peka dengan suara Tuhan. Ada satu masa dimana John Alexander Dowie bertemu dengan Maria Woodworth-Etter, seorang pelayan kesembuhan, tetapi ketika mereka bertemu, mereka bukannya bekerjasama, tetapi yang ada adalah konflik dan pertentangan satu sama lain. Keduanya merasa bahwa metodenya yang paling tepat, keduanya tidak ingin disalahkan. Bahkan Dowie beberapa kali menyerang Etter pada saat berkhotbah. Pada akhir pelayanan kerasulannya, Dowie tidak melakukan tugas sebagai seorang rasul, melainkan dengan dasar popularitas dan koneksi yang ada, Dowie membangun sebuah kota dimana dia mengangkat dirinya sebagai pemimpin kota tersebut. Tidak ada lagi pelayanan kesembuhan, Dowie terlalu sibuk mengurus kotanya. Bahkan di akhir hidupnya, Dowie mengatakan klaim bahwa dirinya adalah Elia. Dowie bahkan menggunakan jubah yang menandakan bahwa dirinya adalah jendral utama dari kota yang ia dirikan. Pada akhirnya, kota yang didirikan Dowie mengalami kebangkrutan. Dowie melarikan diri dengan pindah ke kota lain, tetapi orang-orang mulai tidak mempercayai Dowie. Dowie pada akhirnya pulang ke rumah dan menghabiskan sisa hidupnya di rumah. Dalam salah satu kalimatnya, Dowie pada akhirnya mengetahui kesalahan yang telah ia perbuat. Dowie berkata,”Menjadi seorang rasul, pertanyaan utamanya bukanlah resiko yang tinggi, tetapi mengenai bagaimana menjadi cukup rendah (rendah hati). Saya tidak berpikir bahwa saya telah mencapai kedalamanan yang cukup untuk sebuah kerendahatian yang sejati, penghinaan yang sejati, dan penyangkalan diri yang sejati untuk sebuah jabatan tinggi dari seorang rasul.”2

dowie
Gambar 2. John Alexander Dowie

Sebuah pelajaran berharga tentang kesombongan yang pada akhirnya menghancurkan hidup dan pelayanan yang telah dibangun puluhan tahun. Tidak ada dosa lain yang lebih mengerikan selain dosa kesombongan. Serohani apapun orang itu, seluar biasa apapun pelayanannya, ketika dosa kesombongan masuk ke dalam hatinya, sesungguhnya itu adalah awal mula kehancuran. Selain Alexander Dowie, ada begitu banyak kisah hamba Tuhan, orang-orang sukses, bahkan tokoh-tokoh di dalam alkitab yang hidupnya mengalami kehancuran oleh karena dosa kesombongan yang masuk ke dalam hati mereka. Contoh sederhana dari kesombongan yang menghancurkan adalah kisah mengenai tenggelamnya kapal Titanic.

Titanic adalah perlambang dari kesombongan. Bahkan dalam sebuah wawancara, seorang awak kapal berkata “Bahkan Tuhan tidak akan mampu menenggelamkan kapal ini.” Pada saat kapal Titanic menabrak gunung es, timbul sentakan yang sempat menghentikan pesta di kapal itu. Sesaat kemudian, para penumpang melanjutkan pestanya. Tidak ada satupun yang menyangka bahwa kapal ini akan tenggelam. Titanic tidak memiliki jumlah sekoci yang cukup untuk semua penumpangnya. Bahkan para awak kapal titanic tidak pernah melakukan latihan penyelamatan penumpang. Dan pada akhirnya, semua kesombongan tersebut harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Kesombongan tidak akan pernah berakhir dengan kemenangan. Kesombongan hanya akan berakhir pada kehancuran hidup. Rick Joyner pernah menulis,”Kesombongan dan/atau rasa puas diri dapat mengarah kepada tragedi di dalam setiap usaha manusia.”3

Satu kisah terakhir yang akan diceritakan pada bagian ini adalah seorang tokoh alkitab luar biasa, yang hidup dekat dengan Allah. Seseorang yang berkenan di hati Allah. Tetapi jatuh ke dalam suatu kesalahan yang membuat kehancuran pada rakyatnya. Ya, kesombongan di dalam hati Daud, membuat rakyatnya harus mengalami kehancuran.

 1 Taw 21:2 Lalu berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada para pemuka rakyat: “Pergilah, hitunglah orang Israel dari Bersyeba sampai Dan, dan bawalah hasilnya kepadaku, supaya aku tahu jumlah mereka.”
1 Taw 21:3 Lalu berkatalah Yoab: “Kiranya TUHAN menambahi rakyat-Nya seratus kali lipat dari pada yang ada sekarang. Ya tuanku raja, bukankah mereka sekalian, hamba-hamba tuanku? Mengapa tuanku menuntut hal ini? Mengapa orang Israel harus menanggung kesalahan oleh karena hal itu?”
1 Taw 21:4 Namun titah raja itu terpaksa diikuti oleh Yoab, maka pergilah Yoab menjelajahi seluruh Israel, kemudian kembali ke Yerusalem.
1 Taw 21:7 Tetapi hal itu jahat di mata Allah, sebab itu dihajar-Nya orang Israel.
1 Taw 21:8 Lalu berkatalah Daud kepada Allah: “Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.”

Tidak ada yang salah dengan menghitung jumlah orang Israel. Tetapi ada sesuatu yang salah di dalam hati Daud. Itu adalah kesombongan hati. Daud ingin melihat seberapa megah kerajaannya. Ia ingin mengetahui seberapa hebat dirinya. Jawaban Yoab sangat tepat, tetapi Daud tidak puas atas jawaban tersebut dan ia tetap ingin memegahkan diri di atas keberhasilan pemerintahannya. Namun jelas sekali bahwa Tuhan menentang hal tersebut. Tuhan mendatangkan kerusakan sebagai akibat kesombongan yang dilakukan oleh Daud. Pada akhirnya kesombongan hati Daud harus dibayar dengan meninggalnya 70 ribu orang rakyatnya (1 Taw 21:14). Namun, pada akhirnya Daud bertobat dan Tuhan berkenan atas hidup Daud. Satu hal yang kita pelajari dari ketiga ilustrasi di atas adalah bahwa pada akhirnya kesombongan akan menghancurkan hidup kita.

Teladan Kerendahan Hati Yesus
Tuhan Yesus, datang dengan membawa jubah kerendahan hati. Dalam salah satu pengajaran-Nya, Ia meminta murid-murid-Nya, para pendengar-Nya untuk mengikuti teladan hidup-Nya dan belajar dari Dia. Apa yang diminta? Kelemah lembutan dan kerendahan hati (Mat 11:29). Itu adalah dua sifat utama dari Yesus yang Ia ingin agar semua pengikut-Nya belajar dari-Nya. Ia tidak mengatakan bahwa belajarlah pada-Ku karena aku ini disiplin atau pekerja keras atau rajin atau tekun atau sifat-sifat baik lainnya. Firman Tuhan mencatat bahwa yang Yesus ingin agar murid-murid-Nya belajar dari Dia adalah kelemah lembutan dan kerendahan hati, bukan yang lainnya. Sama seperti dosa kesombongan dimulai dari surga (Lucifer), maka kerendahan hati juga dimulai dari surga. Yaitu, ketika Tuhan Yesus mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba. Sepanjang pelayanan Yesus, Ia selalu mengajarkan murid-murid-Nya untuk rendah hati. Dan bukan hanya mengajar, Yesus memberikan teladan kepada murid-murid-Nya. Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:1-11), dan bentuk kerendahan hati yang terbesar adalah ketika di Taman Getsemani, Yesus tidak memaksakan kehendak-Nya kepada Bapa, Ia mengosongkan diri-Nya dan taat kepada perintah Bapa (Fil 2:5-8). Tidak ada contoh kerendahan hati yang lebih besar daripada yang telah dilakukan oleh Yesus. Andrew Murray mengatakan dengan sangat baik mengenai hal ini “Christ is the humility of God embodied in human nature; the Eternal Love humbling itself, clothing itself in the garb of meekness and gentleness, to win and serve and save us. As the love and condescension of God makes Him the benefactor and helper and servant of all, so Jesus of necessity was the Incarnate Humility..” 4

washing_feet
Gambar 3. Yesus Membasuh Kaki Murid-MuridNya

Tidak ada teladan yang lebih baik untuk belajar kerendahan hati selain Yesus. Dan tidak ada cara yang lebih baik untuk mencapai kerendahan hati selain terus memandang kepada Yesus. Sepanjang pelayanan Yesus, Ia tidak pernah menolak orang yang datang dengan tersungkur kepada-Nya. Ia mengasihi mereka yang datang dengan penuh kerendahan hati kepada Yesus. Sebaliknya, orang-orang Farisi dan ahli taurat yang datang kepada Yesus dengan mengenakan jubah kesombongan, tidak pernah mendapat bagian bersama-sama dengan Yesus. Jika hati kita dipenuhi dengan kesombongan, merasa mengetahui banyak hal, merasa hidup kita tidak membutuhkan Tuhan, merasa bahwa kita orang yang mampu menjalani hidup tanpa Tuhan, maka bersiaplah, karena ganjaran kesombongan akan segera datang ke hidup kita. Namun jika hati kita dipenuhi dengan kerendahan hati, begitu berserah dan percaya kepada Tuhan, maka karunia dari Tuhan pasti akan Dia curahkan melimpah dalam hidup kita.

Jadi, seperti itulah Yehuda. Seorang laki-laki yang dipenuhi dengan kesombongan, seorang laki-laki yang begitu egois. Seorang yang merasa dirinya adalah yang paling benar. Main hakim sendiri. Bahkan jika kita lihat perikop di atas, Yehuda bahkan meminta temannya untuk mengantarkan anak kambing. Mengapa bukan ia sendiri yang mengantar anak kambing? Mengapa temannya yang bahkan itu adalah teman dimana ia menumpang disana. Jika digambarkan, itu seperti kita menumpang di rumah seorang kawan, kemudian kita meminta kawan kita pergi kesini, kesana, untuk memenuhi kebutuhan kita. Ya, tidak diragukan lagi bahwa Yehuda adalah seseorang yang hatinya dipenuhi dengan kesombongan dan keegoisan. Namun, orang yang seperti ini pada akhirnya dipakai Tuhan secara luar biasa menjadi bapa leluhur dari Daud bahkan dari Tuhan kita, Yesus Kristus. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Yehuda? Apa yang ia alami? Cerita setelah ini akan memberikan gambaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan Yehuda.

Pembahasan mengenai kerendahan hati dan kesombongan akan saya tutup dengan satu ayat:

1 Pet 5:5b “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Sumber:
2. Robert Liardon. God’s General: Why They Succeeded and Why Some Fail. Page 63.
3. Rick Joyner. Kepemimpinan: Kekuatan dari Hidup yang Kreatif. Nafiri Gabriel: 2005. Hal 75.
4. Andrew Murray. Humility (Old Tappan, NJ: Fleming H. Revell, nd). Page 9.

Gambar 1. http://superwalikelas.besaba.com/wp-content/uploads/2014/04/Tips-Mendidik-Anak-Yang-Nakal.jpg
Gambar 2. http://www.zionhs.com/images/dowie.jpg
Gambar 3. https://sangsabda.files.wordpress.com/2014/04/washing_feet.jpg

My Name Is…

Kata orang, nama adalah doa. Tapi ada juga yang bilang kalo percaya kalimat itu, berarti percaya kalo koko crunch terjadi karena ada pesawat bawa cokelat yang tumpah ke ladang gandum. Itu jadi sebuah istilah yang tidak berlaku lagi di zaman sekarang. Kata orang, udah ketinggalan zaman, sekarang kalo ngasih nama anak, yang keren pokoknya dan bikin kegantengan atau kecantikan anak tersebut naik 50%. Beberapa waktu yang lalu ada berita heboh karena ada orang yang namanya tuhan, dan saiton. Well, kalo pake prinsip bahwa nama adalah doa, sepertinya agak berbahaya juga nama-nama yang seperti ini.

Tapi kalo gw pribadi cukup percaya sih kalau sebenernya nama itu adalah doa. Salah satu alasan gw percaya adalah karena nama gw keren. Sebenernya nama gw pasaran sih, coba aja googling, ada banyak banget yang namanya Stefanus, ada banyak yang namanya Setiawan, bahkan ada banyak yang namanya Stefanus Setiawan, sama persis, hanya nomor KTP lah yang membedakan kami. Continue reading “My Name Is…”

Laki-laki Yang Sombong dan Egois

Dibesarkan dalam keluarga yang tidak baik, pada akhirnya Yehuda tumbuh menjadi seorang pria yang rusak. Biar bagaimanapun, keluarga adalah komunitas terkecil dan dimana kita berkomunitas, disitulah segala watak, karakter kita dibentuk. Yehuda memiliki karakter yang dibentuk oleh keluarganya. Saudara-saudaranya yang kasar, dan orang tua yang egois. Tidak ada karakter seperti Tuhan di dalam keluarga ini. Pada akhirnya, Yehuda tumbuh menjadi seorang laki-laki yang penuh dengan kesombongan dan keegoisan. Kehilangan figur seorang ayah, memiliki dampak yang begitu besar untuk hidup Yehuda. Yehuda semakin hari semakin liar dan tidak terkendali. Satu hal lain yang juga perlu kita ingat adalah bahwa Yehuda, menjadi saksi, melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga, dan sadar penuh serta tahu bahwa Yakub melarikan diri dari Laban. Seorang menantu yang pergi dari mertuanya, menunjukkan sebuah hubungan yang tidak baik satu dengan yang lain. Bahkan Yakub dan keluarganya tidak izin terlebih dahulu kepada Laban. Mungkin memori tersebut akan terekam di dalam pikiran Yehuda untuk selamanya, bagaimana mereka melarikan diri dari Laban. Di dalam perjalanan tersebut, Yehuda juga mengalami sebuah pengalaman yang buruk, yaitu ketika Yehuda mengetahui bahwa Esau ingin membunuh Yakub. Yehuda melihat bagaimana takutnya Yakub, dan bukan hanya Yehuda, tapi semua anak-anak Yakub melihat ketakutan yang ada dalam diri Yakub. Tentunya itu menanamkan sebuah pemikiran yang negatif, ketika seorang adik begitu takut terhadap kakaknya. Sepertinya kejadian ini berkontribusi cukup besar terhadap kisah Yusuf. Mungkin para anak-anak Yakub berpikir bahwa membunuh saudara sendiri adalah hal yang biasa, karena itulah yang mereka lihat, yang mereka pelajari ketika mereka mengetahui bahwa Esau ingin membunuh Yakub. Biar bagaimanapun, kita tidak bisa mengabaikan peristiwa ini, karena pasti peristiwa ini akan berkontribusi dalam karakter seorang Yehuda dan anak-anak Yakub lainnya.

Serangkaian peristiwa negatif terus terjadi atas hidup Yehuda, atas keluarga mereka. Ketakutan, kebencian, pembunuhan, perzinahan, semua terjadi begitu saja, hal-hal tersebut membentuk hidup seorang Yehuda. Yehuda menjadi seorang yang sombong dan egois.

Pada dasarnya, kesombongan adalah dosa yang pertama kali ada. Itu adalah dosa yang dilakukan oleh Lucifer. Lucifer mempunyai keinginan untuk menyamai Allah. Sebuah tulisan dari Yesaya menggambarkan kondisi yang terjadi ketika Lucifer atau iblis jatuh ke dalam dosa.

Yes 14:13 Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara.
Yes 14:14 Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!

Lucifer hendak menyamai Tuhan dan pada akhirnya Tuhan hukum dengan menjatuhkannya ke dalam dunia orang mati (Yes 14:12). Dosa kesombongan tidak dimulai di bumi, itu dimulai di surga. Dosa kesombongan tidak dimulai oleh manusia, itu dimulai oleh malaikat. Dan sejak saat itu, kesombongan selalu menjadi akar dari segala macam dosa. Derek Prince dalam sebuah artikel pengajarannya mengenai kesombongan menyimpulkan satu hal mengenai kesombongan. Derek Prince mengatakan bahwa natur dari dosa ialah keinginan untuk terpisah dari Tuhan. Hal itulah yang menjadi dasar dari Adam dan Hawa ketika mereka memutuskan untuk makan buah yang dilarang oleh Tuhan. Itulah keputusan pertama mereka, ketika mereka tidak melibatkan Tuhan di dalam mengambil keputusan tersebut dan pada akhirnya hal tersebut membawa Adam dan Hawa ke dalam dosa.

angkuh
Gambar 1. Ilustrasi Kesombongan

Sebenarnya, ketika fokus hidup kita ada pada diri sendiri, itulah dosa kesombongan. Ketika kita memandang diri sendiri, itulah kesombongan. Kerendahan hati adalah ketika mata kita tertuju kepada Tuhan dan bukan kepada diri sendiri. Yehuda adalah laki-laki yang dipenuhi dengan kesombongan. Didikan yang sangat buruk dari ayahnya membuat Yehuda menjadi seorang yang keras dan dipenuhi dengan kesombongan diri. Beberapa cerita dalam kitab kejadian mendukung pernyataan bahwa Yehuda adalah seorang yang sombong dan egois. Jika kesombongan adalah fokus terhadap diri sendiri, maka keegoisan adalah bentuk lain dari kesombongan. Ini adalah hal yang sama yang bersumber dari sumber yang sama.

Pertama, ketika Yusuf datang menemui saudara-saudaranya yang sedang menggembalakan kambing domba. Kita perlu mengerti bahwa sebelumnya, Yusuf sudah menceritakan mimpinya kepada Yakub dan saudara-saudaranya (Kej 37:1-11) dan Firman Tuhan mengatakan dengan jelas bahwa saudara-saudara Yusuf menjadi iri hati terhadap Yusuf. Semua saudara Yusuf, artinya Yehuda termasuk di dalamnya, orang yang juga menjadi iri hati terhadap Yusuf. Ketika Yusuf hendak dibunuh, Yehuda memberikan sebuah ide yang lebih baik dan akhirnya diterima oleh saudara-saudaranya. Yehuda mempunyai ide untuk menjual Yusuf. Sepertinya Yehuda adalah salah satu dari anak Yakub yang cukup dominan dan mampu memimpin saudara-saudaranya. Kejahatan yang dilakukan oleh Yehuda menandakan betapa iri hatinya ia dan betapa ia penuh dengan kebencian dan kesombongan. Pada akhirnya Yehuda hanya melihat kepada diri sendiri dan tidak melihat kepada Allah. Ia hanya menginginkan keuntungan pribadi, betapa egois hidup Yehuda.

Kedua, bisa kita lihat pada perikop antara Yehuda dan Tamar. Di dalam Kejadian 38, dijelaskan mengenai kisah antara Yehuda dan Tamar. Karena ini bukan kisah yang cukup familiar dan jarang dibahas di khotbah gereja, ada baiknya kita bahas satu per satu ayat di dalam kisah ini.

Kej 38:1 Pada waktu itu Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya dan menumpang pada seorang Adulam, yang namanya Hira.
Kej 38:2 Di situ Yehuda melihat anak perempuan seorang Kanaan; nama orang itu ialah Syua. Lalu Yehuda kawin dengan perempuan itu dan menghampirinya.

Setelah kejadian Yusuf, Yehuda pergi meninggalkan saudara-saudaranya. Tidak dijelaskan di dalam alkitab apa alasan Yehuda pergi. Yang dijelaskan hanyalah informasi, fakta bahwa Yehuda pergi meninggalkan saudara-saudaranya dan menumpang pada seorang Adulam. Perlu diperhatikan bahwa Yehuda hanya menumpang. Bayangkan seseorang yang menumpang di rumah anda. Ya, itulah kondisi dari Yehuda pada saat itu. Ia hanya tamu yang menumpang di rumah Hira. Singkat cerita, Yehuda bertemu dengan anak Syua. Syua itu bukan nama istri Yehuda. Syua adalah nama ayah dari istri Yehuda. Istri Yehuda sendiri tidak pernah disebutkan namanya. Ayat ini juga menjelaskan bagaimana buruknya Yakub di dalam mendidik Yehuda. Pesan terakhir Ishak dan Ribka kepada Yakub adalah supaya Yakub tidak mengambil seorang perempuan Kanaan. Tetapi tampaknya pesan penting tersebut tidak diteruskan oleh Yakub kepada anak-anaknya. Dan Yehuda dengan begitu mudahnya dan tanpa perasaan bersalah, mengambil istri seorang perempuan Kanaan. Yehuda dan perempuan Kanaan tersebut dikaruniai 3 orang anak yang diberi nama Er, Onan, dan Syela.

Seperti yang kita bahas pada bab sebelumnya, anak-anak Yehuda tumbuh menjadi anak-anak yang jahat di mata Tuhan karena Yehuda tidak mampu membimbing dan membapai anak-anaknya. Setelah Er dan Onan meninggal, seharusnya Yehuda memberikan Syela kepada Tamar. Tetapi Yehuda memiliki rencana jahat. Sekali lagi kita melihat pribadi yang berpusat pada diri sendiri, Yehuda menyimpan Syela dan meminta Tamar pulang, dan tidak menipu Tamar.

Kej 38:11 Lalu berkatalah Yehuda kepada Tamar, menantunya itu: “Tinggallah sebagai janda di rumah ayahmu, sampai anakku Syela itu besar,” sebab pikirnya: “Jangan-jangan ia mati seperti kedua kakaknya itu.” Maka pergilah Tamar dan tinggal di rumah ayahnya.
Kej 38:12 Setelah beberapa lama matilah anak Syua, isteri Yehuda. Habis berkabung pergilah Yehuda ke Timna, kepada orang-orang yang menggunting bulu domba-dombanya, bersama dengan Hira, sahabatnya, orang Adulam itu.
Kej 38:13 Ketika dikabarkan kepada Tamar: “Bapa mertuamu sedang di jalan ke Timna untuk menggunting bulu domba-dombanya,”
Kej 38:14 maka ditanggalkannyalah pakaian kejandaannya, ia bertelekung dan berselubung, lalu pergi duduk di pintu masuk ke Enaim yang di jalan ke Timna, karena dilihatnya, bahwa Syela telah menjadi besar, dan dia tidak diberikan juga kepada Syela itu untuk menjadi isterinya.

Yehuda telah melanggar janjinya untuk memberikan Syela kepada Tamar. Bahkan dosa penipu dari Yakub turun sampai ke Yehuda. Setelah istri Yehuda meninggal, Yehuda pergi ke Timna. Jarak dari tempat tinggal Yehuda ke Timna sekitar 6 mil, itu jarak yang cukup jauh. Yehuda pergi untuk melihat orang-orangnya menggunting bulu domba. Andrew Gill memberikan komentar bahwa melihat orang-orang menggunting bulu domba merupakan sebuah hiburan tersendiri. Jadi, sepertinya Yehuda mencari hiburan setelah ia berkabung karena istrinya meninggal dunia. Namun, Tamar mengetahui hal itu dan Tamar menyamar menjadi perempuan sundal. Tipuan dibalas dengan tipuan. Sama seperti dulu Yakub menipu Ishak, kemudian Yakub ditipu oleh Laban. Kutuk ini masih dibawa ketika Yehuda menipu Tamar dalam hal tidak memberikan Syela kepada Tamar, Tamar balik menipu Yehuda dengan menyamar menjadi perempuan Sundal.

Kej 38:15 Ketika Yehuda melihat dia, disangkanyalah dia seorang perempuan sundal, karena ia menutupi mukanya.
Kej 38:16 Lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan itu serta berkata: “Marilah, aku mau menghampiri engkau,” sebab ia tidak tahu, bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu: “Apakah yang akan kauberikan kepadaku, jika engkau menghampiri aku?”
Kej 38:17 Jawabnya: “Aku akan mengirimkan kepadamu seekor anak kambing dari kambing dombaku.” Kata perempuan itu: “Asal engkau memberikan tanggungannya, sampai engkau mengirimkannya kepadaku.”
Kej 38:18 Tanyanya: “Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?” Jawab perempuan itu: “Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di tanganmu itu.” Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya.

Saya membayangkan seseorang yang baru saja kehilangan istrinya dan pergi menghampiri seorang perempuan sundal. Sungguh sebuah fakta yang mengerikan. Terpikir untuk mencari hiburan dengan melihat domba-dombanya, di tengah jalan, ketika ada godaan, Yehuda langsung menanggapi godaan tersebut. Bahkan perempuan tersebut tidak berkata apa-apa. Perempuan tersebut hanya diam disana, dan Yehudalah yang berinisiatif menghampiri perempuan tersebut. Terlepas dari itu tipuan Tamar atau tidak, Yehuda telah menjadi seorang suami yang tidak setia. Memang istrinya telah meninggal, tapi mengejutkan di hari yang berduka tersebut, Yehuda pergi kepada seorang perempuan sundal. Ini adalah sebuah sifat yang sangat bertentangan dengan Yusuf! Ketika Yusuf berhasil lolos dari godaan tante Potifar, sebaliknya Yehuda jatuh ke dalam pencobaan. Bahkan begitu mengejutkan bahwa Yehuda tidak pernah tau bahwa perempuan sundal tersebut adalah Tamar. Entah Yehuda sedang mabuk atau mungkin Tamar terus menutup mukanya bahkan ketika sedang berhubungan dengan Yehuda, tidak diketahui pasti. Namun yang jelas, Yehuda tidak mengenali Tamar, bahkan sampai mereka selesai dan Tamar pulang.

rembrandts_school_tamar
Gambar 2. Yehuda dan Tamar

 

Dan sepertinya Tamar mengenal mertuanya dengan baik. Tamar mengenal bahwa Yehuda adalah orang yang penuh dengan hawa nafsu, seorang yang egois dan hanya memperdulikan diri sendiri, seorang yang sombong dan mencari keuntungan untuk diri sendiri. Oleh karena itulah Tamar menyiapkan jebakan yang pasti akan berhasil dan memang Tamar berhasil menjebak Yehuda.

Kej 38:19 Bangunlah perempuan itu, lalu pergi, ditanggalkannya telekungnya dan dikenakannya pula pakaian kejandaannya.
Kej 38:20 Adapun Yehuda, ia mengirimkan anak kambing itu dengan perantaraan sahabatnya, orang Adulam itu, untuk mengambil kembali tanggungannya dari tangan perempuan itu, tetapi perempuan itu tidak dijumpainya lagi.
Kej 38:21 Ia bertanya-tanya di tempat tinggal perempuan itu: “Di manakah perempuan jalang, yang duduk tadinya di pinggir jalan di Enaim itu?” Jawab mereka: “Tidak ada di sini perempuan jalang.”
Kej 38:22 Kembalilah ia kepada Yehuda dan berkata: “Tidak ada kujumpai dia; dan juga orang-orang di tempat itu berkata: Tidak ada perempuan jalang di sini.”
Kej 38:23 Lalu berkatalah Yehuda: “Biarlah barang-barang itu dipegangnya, supaya kita jangan menjadi buah olok-olok orang; sungguhlah anak kambing itu telah kukirimkan, tetapi engkau tidak menjumpai perempuan itu.”
Kej 38:24 Sesudah kira-kira tiga bulan dikabarkanlah kepada Yehuda: “Tamar, menantumu, bersundal, bahkan telah mengandung dari persundalannya itu.” Lalu kata Yehuda: “Bawalah perempuan itu, supaya dibakar.”

Kemudian, setelah itu, kita akan lihat satu bagian yang menunjukkan betapa sombong dan egoisnya Yehuda. Hal itu terlihat ketika Yehuda tanpa mengetahui sebab, langsung ingin main hakim sendiri terhadap Tamar. Yehuda menganggap dirinya adalah yang paling benar. Itulah kesombongan yang telah mendarah daging di dalam diri Yehuda. Tidak bisa disangkal bahwa di titik ini, Yehuda adalah seorang laki-laki yang dipenuhi dengan kesombongan. Menghakimi adalah senjata utama dari orang yang sombong. Dengan menghakimi orang lain, dia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling benar dan orang lain salah. Menghakimi adalah salah satu ciri utama dari kesombongan. Karena itulah, Yesus dengan tegas mengatakan supaya kita tidak main hakim sendiri karena penghakiman adalah hak Allah, bukan manusia. Kesombongan selalu membawa hidup ini kepada kehancuran. Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk menghancurkan hidup manusia bahkan menghancurkan gereja, menghancurkan pelayanan, selain melalui dosa kesombongan. Jonathan Edwards dalam sebuah khotbahnya pernah berkata:

The first and worst cause of errors that abound in our day and age is spiritual pride. This is the main door by which the devil comes into the hearts of those who are zealous for the advancement of Christ. It is the chief inlet of smoke from the bottomless pit to darken the mind and mislead the judgment. Pride is the main handle by which he has hold of Christian persons and the chief source of all the mischief that he introduces to clog and hinder a work of God. Spiritual pride is the main spring or at least the main support of all other errors. Until this disease is cured, medicines are applied in vain to heal all other diseases.1

Ketika kita sombong terhadap segala pencapaian yang telah kita raih selama pelayanan, sesungguhnya itulah awal dimana pelayanan kita akan hancur. Ada begitu banyak hamba Tuhan yang memiliki pelayanan luar biasa yang harus mengakhiri pelayanannya karena kesombongan yang merambat di hidupnya. Mereka adalah orang-orang tidak bertobat dari kesombongan dan pada akhirnya pelayanannya berakhir dengan tragis. Kita tidak bisa menolak prinsip Firman Tuhan yang berkata bahwa barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan oleh Tuhan. Pada akhirnya, hilir daripada hati yang dipenuhi kesombongan adalah kehidupan yang menjadikan diri sendiri sebagai Tuhan.

Kisah Yehuda sebelumnya bisa klik disini
Sumber:
1. Jonathan Edwards, The Works of Jonathan Edwards (Edinburgh: Banner of Truth, 1974), 1:398–404.

Gambar 1. http://3.bp.blogspot.com/–ZR0g94zk4M/U_uDp10tbzI/AAAAAAAAAR0/xvKj8loyGKU/s1600/angkuh.jpg
Gambar 2. https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/48/Rembrandt’s_school_Tamar.JPG

Pemuda Yang Mencari Keuntungan

Hanya Mengejar Uang Adalah Kesia-siaan

Perjalanan hidup Yehuda bukanlah sebuah perjalanan hidup yang mudah. Tidak ada yang bisa dipersalahkan atas hidup Yehuda. Tidak dengan dirinya sendiri, tidak dengan orang tuanya. Dosa adalah penyebab utama dari segala kehancuran yang dialami oleh manusia. Salah satu bagian dari hidup Yehuda menandakan bahwa dirinya adalah seorang pemuda yang suka mencari keuntungan. Continue reading “Pemuda Yang Mencari Keuntungan”